alexametrics

Targetkan Perluasan Penanganan Limbah B3 Jateng

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLi) akan mengelola 25-30 limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) industri di Jateng. Sebagai upaya optimalisasi, perusahaan yang telah mengelola limbah B3 di Indonesia sejak 1994 itu, kini membuka Kantor Representatif PPLi dan Dowa Eco System Indonesia di Kawasan Industri Wijayakusuma (KIW) Kamis (30/6).

Direktur PPLi Yoshiaki Chida menargetkan lebih banyak pelaku industri bertanggung jawab dengan limbahnya dan mempercayakan pengolahan kepada PPLi.

Perwakilan PPLi Semarang Yurnalisdel menekankan pentingnya komitmen pelaku industri, regulator, dan pengolah limbah. Ketiganya harus memiliki komitmen yang sama dalam menangani limbah produksi.

“Minimal pengolahan limbah B3 ini masuk biaya produksi 1-3 persen,” ujar lelaki yang akraab disapa Fadel itu kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Baca juga:  Alarm Bahaya, Prioritaskan Penanganan Rob di Pantura

Semestinya semua pelaku industri sejak awal menghitung biaya pengolahan limbah. Sehingga tidak mengejar profit semata dan mengabaikan kelestarian lingkungan. Apalagi menimbulkan pencemaran yang merugikan warga sekitar.

“Semua bisa kami olah kecuali tiga, limbah radioaktif, bahan peledak, dan merkuri. Karena itu di luar wewenang kami,” imbuh Fadel.

Dikatakan sampai saat ini dengan insinerator yang terbilang besar, pihaknya mampu mengolah sebanyak 50 ton limbah B3 dalam sehari. Dengan dibukanya kantor baru, pihaknya juga membuka peluang kerja sama dengan pemerintah untuk membantu penanganan limbah di lingkup yang lebih kecil.

Kasie Pengendalian pencemaran Lingkungan DLHK Jateng Marnang Haryoto merespon positif rencana tersebut. Terlebih mengingat Jateng memiliki 1.118 usaha kegaiatan yang menghasilkan limbah dalam jumlah besar. Di antaranya dari sektor manufaktur, agroindustri, pertambangan, prasarana, jasa, dan fasyankes.

Baca juga:  Dubes Inggris Tawarkan Kerjasama Sektor Energi hingga Beasiswa Pendidikan

“Kami memang sudah lama berkolaborasi PPLi, tapi dengan kantor yang lebih dekat semoga bisa memangkas cost,” ujar Marnang.

Ia berharap para pelaku industri mengelola limbahnya menaati kebijakan yang berlaku dan menyerahkan pengolahan limbah ke pihak ketiga seperti PPLi bila tak memiliki fasilitas yang memadai. Sehingga tak lagi ditemui kasus limbah medis dibuang di TPA atau dibakar sembarangan.

Perwakilan Direktur PT KIW Agus Santosa menambahkan, pihaknya menyediakan instalasi pengolahan limbah terpadu bagi para tenant atau penyewa yang memakai lahannya. Hingga kini 25 pabrik menggunakan fasilitas ipal tersebut.

Kemudian KIW yang berstatus BUMN itu mewajibkan tenant yang menghasilkan limbah B3 untuk mencari pihak ketiga sebagai pengelola yang terdaftar di KLHK. Fadel mengakui jumlah limbah yang sudah dikelola olehnya masih sebagian kecil dari seluruh limbah di Jateng. (taf/zal)

Baca juga:  TKP Penembakan Istri Anggota TNI di Semarang Dijaga Ketat

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya