alexametrics

Angka Kecelakaan Mudik 2022 Turun 62 Persen

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Dinas Pehubungan (Dishub) Jateng mencatat angka kecelakaan menurun sebanyak 62 persen pada mudik Lebaran 2022 dibanding sebelum pandemi Covid-19. Hal ini didukung oleh infrastuktur yang membaik dan akses mudik gratis dengan berbagai moda transportasi publik.

Kepala Dishub Jateng Henggar Budi Anggroro mengakui, selama ini kecelakaan saat mudik banyak dialami pengendara motor lantaran kelelahan di jalan. Terlebih bila pemudik wilayah Jabodetabek atau Surabaya harus menempuh jarak ratusan kilometer.

“Sejak 24 April sampai 2 Mei, data sementara di posko kami ada 809 kecelakaan,” ungkap Henggar kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Sebanyak 40 orang meninggal dunia, 36 orang mengalami luka berat, dan 989 orang luka ringan. Kecelakaan terjadi di semua jalur, baik tol, jalan kabupaten, jalan nasional, hingga jalan alternatif. Diperkirakan kerugian materiil mencapai Rp 665,5 juta.

Selain itu, pihaknya bekerja sama dengan berbagai elemen dan membuka puluhan posko mudik di berbagai daerah. Sehingga pemudik dapat beristirahat sewaktu-waktu dengan nyaman saat merasa lelah.

Untuk mudik gratis pemerintah dan swasta telah menyediakan dari moda transportasi kapal laut, kereta api, hingga bus dan truk. Pada arus mudik kapal telah mengangkut 1.480 penumpang dari Jakarta. Sekitar 700 di antaranya membawa kendaraan bermotor dalam kapal.

Sedangkan bus dari Pemprov Jateng sebanyak 118 unit disertai truk untuk mengangkut motor pemudik ke kampung halaman. Belum termasuk bus yang disediakan dari Kemenhub, Jasa Raharja, dan Pemprov DKI Jakarta.

“Ini tanggal 10 Mei sebanyak 1.500-an pemudik sudah terdaftar di Pelabuhan Tanjung Mas untuk ikut balik,” imbuh Henggar.

Ia harap program serupa dapat ditingkatkan dan dipersiapkan lebih matang di tahun mendatang. Sehingga kasus kecelakaan dapat terus ditekan saat mudik lebaran.

Akibat One Way di Tol, Jalan Arteri Padat Merayap

Kepadatan kendaraan di arus balik terlihat di Jalan Arteri di Kabupaten Semarang. Tidak hanya itu terlihat beberapa jalan tikus atau jalan kampung juga mengalami kepadatan. Pelambatan jalur akibat penumpukan kendaraan terjadi sekitar pukul 14.00. Lalu lintas di titik tertentu terlihat padat merayap.

Baca juga:  Gerombolan Bersajam Mengamuk di Jalan MH Thamrin Semarang, Dua Remaja Kena Bacok

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Semarang Tri Martono mengatakan, sebanyak 68 ribu kendaraan setiap harinya melintas di Kabupaten Semarang. Pihaknya memprediksi puncak arus balik terjadi Minggu (8/5) hingga malam hari.

“Mulai terlihat padat setelah diberlakukannya one way di jalan tol. Dampaknya ke Jalan Arteri. Sampai saat ini masih didominasi kendaraan pribadi berupa mobil maupun motor dengan plat nomor bukan H,” ungkapnya ketika ditemui di posko mudik Bawen, Minggu (8/5).

Tri juga menjelaskan ada 15 titik jalur alternatif yang berada di sejumlah wilayah di Kabupaten Semarang. Titik jalan alternatif ini meliputi jalan di dalam kota dan perbatasan dengan wilayah lain seperti Semarang Kota, Salatiga, Boyolali dan Grobogan. Namun yang menjadi perhatian di dua titik simpul yakni persimpangan Bawen yang berdekatan dengan Terminal Bus Bawen dan Simpang Sisemut. Kedua simpang tersebut dilakukan rekayasa lalulintas guna mengurai antrean kendaraan yang hendak melintas.

Dishub menurunkan 75 anggota untuk mengatasi kemacetan. Seperti Simpang Sisemut, agar tidak terjadi penumpukan kendaraan dari arah Gunung Pati diarahkan ke satu jalur ke arah Taman Serasi.

Sementara di Simpang Bawen ada petugas Dishub yang mengarahkan sehingga tidak ada kendaraan yang nyelonong.
Arus ramai diakui Tri selepas pukul 14.00. Tempat wisata menunjukkan tingkat keramaian di jam tersebut. “Kabupaten Semarang terutama kawasan Ungaran-Bawen atau sebaliknya, sangat padat merayap selepas pukul1 4.00. Sampai saat ini setiap harinya ada 68 ribu kendaraan yang melintas,” lanjutnya.

Pihaknya menegaskan kepada pengendara atau para pemudik yang hendak balik untuk lebih tertib dengan rambu-rambu lalulintas mdan patuh pada arahan para petugas di lapangan.

Baca juga:  Tol Semarang-Demak Digelontor Rp 1,3 T

Salah satu penguna jalan, Anjani Bayu, 38, warga Ungaran Barat mengaku kesal. Ia yang hanya berpindah ke rumah saudara dengan jarak 4 kilometer di Ungaran Timur harus memutar mencari jalan hanya untuk bisa menyeberang. Namun dia bersyukur, ini mudik pertama kalinya setelah dua tahun tak mudik.

“Sekalinya mau menyeberang antre. Sudah naik motor biar cepat, ternyata masih sedikit lebih lama. Harus sabar tapi bisa kumpul keluarga jadi senang,” ceritanya sambil tertawa.

Lalu Lintas dalam Kota Semarang Landai

Sementara itu, lalu lintas di Kota Semarang terpantau landai Minggu (8/5). Meski begitu, masih ada titik-titik rawan kemacetan di pusat oleh-oleh di Semarang. Khususnya di Jalan Pandanaran.

“Sabtu (7/5) kemarin merupakan puncak arus balik. Jalanan di Kota Semarang hari ini sudah landai. Hanya di beberapa titik seperti pusat oleh-oleh dan di Gerbang Tol Kalikangkung agak tersendat,” kata Kepala Bidang Pengendalian dan Penertiban Dishub Kota Semarang Antonius Haryanto.

Ia menambahkan di seputar Mangkang arus lalu lintas sedikit tersendat karena adanya tradisi Syawalan. Namun bisa terkondisikan. Saat one way diberlakukan di jalan Tol Trans Jawa, kendaraan dari arah Kendal dan Demak yang menuju ke arah selatan akan memadati jalanan di Kota Semarang. “Pengalihan arus kami lakukan untuk menghindari kemacetan. Dari ujung Kaligawe sudah kami jaga. Kemudian dari arah Barat ke Selatan dan sebaliknya kami alihkan. Lalu kendaraan dari Pasar Mangkang tembus Mijen ke arah Gunung Pati bisa menggunakan jalur alternatif untuk mengurangi kemacetan,” tambahnya.

Bekerja sama dengan Satlantas, Polrestabes, dan OPD lain, selain pengalihan arus Dishub juga membantu pemudik yang mengalami kendala. Seperti mobil mogok dan lainnya. Selama arus mudik dan arus balik ini, Dishub sudah menderek 10 unit mobil mogok di Jalan Tol Tembalang.

Baca juga:  Kemenag Punya Rp 2 T, Ganjar Minta Dibagikan untuk Ponpes

“Kami dihubungi pihak Jasa Marga untuk membantu menderek mobil yang mogok dan masih di dalam Kota Semarang. Kemudian kami antar sampai bengkel Kampung Kali untuk perbaikan,” akunya.
Pengendara yang melanggar rambu-rambu lalu lintas pun ditertibkan. Terutama untuk menghindari terjadinya kecelakaan. Sejak Senin (25/4) ada 30 kasus kecelakaan lalu lintas di Kota Semarang dengan korban menderita luka ringan dan tidak ada korban jiwa.

“Karena itu, bagi pengemudi yang sedang melakukan perjalanan balik, tetap taati rambu-rambu lalu lintas, siapkan surat kendaraan, kontrol batas kecepatan kendaraan, isi saldo tol dan BBM, dan cek kondisi kendaraan seperti radiator agar tidak mengalami kendala saat di jalan,” ingatnya.

Arus Mudik dan Balik Turun 25 Persen

Arus balik dan arus mudik yang menggunakan jalur kereta api di Kota Semarang menurun 25 persen dibanding tahun 2019. Meski demikian, sebanyak 23.637 penumpang naik di wilayah Daop 4 Kota Semarang.

Kepala PT KAI Daop 4 Kota Semarang Wisnu Pramudyo mengatakan, sejauh ini jumlah penumpang yang naik melewati Daop 4 Kota Semarang mencapai 220 ribu dari H-7 Lebaran sampai 8 Mei. Sedangkan penumpang yang turun lebih banyak yakni 240 ribu.

“Tidak hanya arus balik saja. Untuk arus mudik juga masih ada. Jumlah penumpang yang turun lebih banyak,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang Minggu (8/5).
Ada penambahan saat arus balik. Seperti penambahan 54 ribu tempat duduk dengan 81 perjalanan kereta. Tujuan arus balik ke arah barat meliputi Jakarta, Cirebon, dan Bekasi. Sedangkan ke arah timur didominasi ke Surabaya, Purwodadi, dan Purwokerto. “Untuk Daop 4 paling banyak naik dari Stasiun Tawang. Untuk Stasiun Poncol Sabtu (7/5) lalu hanya sekitar 7.000 penumpang,” akunya. (tis/ria/cr4/fgr/ida)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya