alexametrics

DP3AP2KB Jateng Terima 163 Aduan Kekerasan Anak selama 2022

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Provinsi Jateng telah menerima 163 aduan kasus kekerasan terhadap anak hingga Februari 2022. Sebesar 50 persen di antaranya mengalami kekerasan seksual. Angka tertinggi datang dari Banyumas, Tegal, Pemalang, dan Kendal.

Kepala DP3AP2KB Retno Sudewi mengungkapkan, kasus kekerasan anak terus bertambah dari tahun ke tahun. Ada sedikit penurunan persentase pada grafik saat ini, karena masih banyak kasus yang tidak diadukan.

“Pada 2022 kemarin, kami mencatat ada 2.174 kekerasan pada anak di Jateng, 55 persennya mengalami kekerasan seksual,” ucap Dewi kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Pada sosialisasi pencegahan kekerasan terhadap anak di kantor DP3AP2KB, pihaknya mengundang beberapa elemen pentahelix, Kamis (24/3). Yakni unsur yang terdiri atas pemerintah, akademisi, pengusaha, media, dan komunitas. Hadir di Ruang Parahita Eka Praya mulai dari Dinas Pendidikan, Forum Anak, HIMPSI, Koordinator SPT PPA, Yayasan Setara, hingga LPA Klaten.

Baca juga:  Buka Puasa Hari Pertama, Gubernur Ganjar Bedah Rumah Warga

Melihat angka kasus yang memprihatinkan, Dewi mengajak para stakeholder untuk mengambil langkah preventif dan menghentikan kekerasan anak. Sebab upaya dari pihaknya saja tidak cukup untuk mewujudkan komitmen besar itu.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kalten Eri Pratama Putra juga mengutarakan usahanya dalam pencegahan kekerasan anak. Beberapa tahun terakhir, Eri mengampanyekan penerapan disiplin positif sebagai ganti hukuman fisik. Saat ini pihaknya mencoba memasuki pesantren di Jateng. “Bagaimana orang tua, guru saat marah kepada anak? Antara menasehati, membiarkan atau tidak peduli, dan menghukum,” ungkapnya.

Selama ini hukuman dianggap mampu membuat anak disiplin dan jengah berbuat nakal atau melanggar aturan. Padahal sejatinya anak-anak justru takut pada orang dewasa. Akhirnya mereka menurut lantaran ketakutannya, bukan karena adanya kesadaran dari diri sendiri.

Baca juga:  Berharap Muncul Pembatik Handal

Untuk menerapkan disiplin positif, sabar menjadi kunci utama. Orang dewasa perlu membangun kedekatan dengan berkomunikasi. Lalu dari situlah akan tumbuh kepedulian dan kepercayaan. Disiplin positif mengajarkan anak mengontrol perilakunya dengan kesadaran penuh dan tanggung jawab. “Kalau diancam dengan hukuman, artinya kita yang mengontrol anak. Kalau disiplin positif, anak diajarkan untuk mengontrol diri,” tegas Eri.

Lebih lanjut, perlu peran keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk bersama mengubah mindset dalam mendidik anak. Pasalnya kekesaran yang dialami anak justru banyak dilakukan orang-orang terdekat yang semestinya melindunginya. (taf/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya