alexametrics

Jateng Punya 2.238 Desa Mandiri Energi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng mencatat terdapar 2.238 Desa Mandiri Energi (DME) hingga akhir 2021. Paling banyak DME inisiatif 2.026 desa, lalu DME berkembang 186 desa, dan DME mapan di angka 26 desa dari total 7.809 desa di Jawa Tengah.

DME merupakan program pemerintah yang mendorong kemandirian atau kedaulatan energi dengan kemampuan menyumplai 60 persen kebutuhan energi warga dari potensi lokal desa yang dimiliki. Potensi Energi baru Terbarukan (EBT) dapat datang dari energi surya, air, panas bumi, biogas, hingga energi angin.

“Setidaknya warga desa mempu mengelola 60 persen energi untuk kebutuhannya sendiri tanpa ketergantuan impor dari luar,” ujar Kepala Dinas ESDM Jateng Sujarwanto Dwiatmoko kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Pihaknya berkomitmen akan lebih keras melakukan sosialisasi sehingga jumlah DME di Jateng terus meningkat. Lalu jangka panjang, Jateng mampu menjadi provinsi yang memiliki kedaulatan energi beserta kedaulatan pangan dan air.

Baca juga:  Tak Punya Banyak Waktu, Dragan Mulai Siapkan Taktik

Diakuinya, mendorong kesadaran masyarakat soal kemandirian dan konservasi energi bukanlah hal mudah. Di samping melakukan sosialisasi pihaknya juga menggelar kompetisi untuk menumbuhkan semangat dari para penggerak d tingkat desa.

Dalam hal ini Ia juga menggandeng pemerintah daerah untuk mengajak warga desanya berpartisipasi dalam DME. Lalu membantu warga menggali potensi EBT lokal di wilayahnya masing-masing. Paling tidak setiap kabupaten atau kota memiliki 5-10 DME untuk dijadijan percontohan.

Kemudian ia juga bersinergi dengan Program Kampung Iklim (Proklim) yang rutin diselenggaranakn Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jateng. Pasalnya baik DME maupun Proklim sama-sama mengupayakan konservasi lingkungan. Keduanya juga turut menyumbang pengurangan emisi karbon dan memperlambat dampak krisis iklim.

Baca juga:  Segera Disulap, Begini Wajah Kampung Melayu Setelah Revitalisasi

Lebih lanjut, pihaknya tak hanya mendorong kedaulatan energi melalui DME. Namun, juga mendampingi pengusaha maupun institusi pendidikan untuk mengelola EBT dari potensi lokal masing-masing. Seperti yang telah dilakukan puluhan ponpes di Jateng dengan mengubah tinja santri menjadi biogas.

“Pengrajin tahu di Desa Sambak, kajoran juga bisa memanfaatkan limbahnya jadi gas untuk produksi lagi. Masih banyak potensi lokal yang terus kita gali,” tutupnya. (taf/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya