alexametrics

Pemprov Jateng Dorong Industri Berinovasi menjadi Green Industry

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dengan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Jateng mendorong sektor komersial dan industri untuk beralih menggunakan energi terbarukan.

Dinas ESDM Jateng mencatat hingga 2020, energi terbarukan menyumbang 11,89 persen, menempati posisi ketiga dari keseluruhan energi di Jateng. Penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) masih sangat sedikit, 0,03 persen di Jateng.

“Hingga akhir September 2021, terdapat 260 unit pengguna PLTS Atap, baik on grid maupun off grid. Total kapasitasnya sekitar 8 ribu kilowat per jam,” jelas  Kepala Dinas ESDM Sujarwanto Dwiatmoko kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dari 260 unit, sektor rumah tangga on grid sebanyak 108 unit dengan kapasitas 510 KWp. Sedangkan sektor industri memiliki kapasitas terbesar, yakni 4.325 KWh. Pada tahun ini Dinas ESDM merencanakan instalasi 31 unit PLTS atap di 8 kabupaten atau kota untuk pelaku UMKM dan pondok pesantren.

Baca juga:  Zona Merah Bertambah, Gubernur Ganjar: Saya Minta Mikrozonasinya Dipelototin

Bersamaan dengan itu, pihaknya mendorong pelaku industri untuk segera berinovasi menjadi green industry. Dengan menggunakan energi surya, sektor komersial dan industri dapat menghemat biaya operasional dan mendukung bisnis berkelanjutan.

“Survei menunjukkan konsumen hari ini mulai memperhatikan produk yang dibeli. Apakah dia produksinya ramah lingkungan, berkelanjutan, dan termasuk green product,” ujar Kepala Disperindag Jateng Arif Sambodo.

Dengan memasang 1 MWp PLTS Atap, industri dapat menghemat kebutuhan listrik sebesar 1.460 MWh per tahun. Kemudian juga berkontribusi mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 1.226 ton CO2 per tahun. “Jadi kita dapat triple benefit. Efisiensi energi, peningkatan reputasi perusahaan lewat produksi berkelanjutan, dan hemat biaya operasional,” imbuhnya.

Baca juga:  2.600 Pedagang Johar Siap Boyongan Bulan Ini

Upaya sektor komersial dan industri dapat dimulai dengan mengurangi emisi karbon dengan mematok target tertentu. Begitupun rantai produksi yang meminimalisir emisi karbon. Dengan menjadi green industry, perusahaan memiliki nilai plus yang menarik konsumen dan mendukung aksi keadilan iklim.

Lebih lanjut, pihaknya optimistis dapat mengupayakan zero karbon dan mengejar target 2025. Asalkan banyak pihak bersinergi satu sama lain dan adanya dorongan dan kesadaran masyarakat soal pentingnya energi terbarukan. (taf/ida)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya