alexametrics

Gubernur Jateng: Kami Coba Strategi Baru Memaksimalkan Perlawanan Gerilya dari Desa

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Gubernur Jateng Ganjar Pranowo memiliki strategi anyar melawan gempuran Covid-19 di Jateng, khususnya varian Delta. Mendayagunakan entitas desa, Ganjar membuat terobosan baru bernama Rembug Desa. Ia juga menggerakkan warga, dari desa mengepung korona.

Melalui program ini, Ganjar ingin menyaring informasi faktual yang ada di lapangan, termasuk mendengar keluhan atau kendala yang dihadapi desa dalam penanganan pandemi. Ganjar juga bisa memberikan arahan langsung dan menyerap contoh baik yang telah dilakukan beberapa desa agar ditiru daerah lainnya.

Mungkin rapat gubernur dengan kades-kades terkait pandemi ini kali pertama terjadi di Indonesia. Rembug Desa ini dilatarbelakangi pemikiran, bahwa desa dengan masyarakat dan aparaturnya adalah garda depan perlawanan pandemi sesungguhnya. Apalagi perlawanan dari kota, sudah tidak mampu lagi membendung serangan virus Delta.

“Kami mencoba strategi baru dengan memaksimalkan perlawanan gerilya dari desa,” katanya.

Rembug Desa dilaksanakan setiap hari secara daring dan bergiliran tiap kabupaten/kota. Program ini dimulai perdana Senin (19/7/2021) kemarin. Lurah/Kades se-Banjarnegara mendapat kehormatan menjadi yang pertama diajak Ganjar rapat terkait penanganan korona di daerah masing-masing.

Sebanyak 244 lurah/kades di Banjarnegara begitu antusias mengikuti acara Rembug Desa itu. Meski acara baru dimulai pukul 10.00, namun lurah/kades terlihat sudah standby di aplikasi Zoom sejak pukul 09.30.

Setelah acara dibuka, lurah/kades itu saling berlomba mengacungkan tangan untuk berbicara. Maklum saja, bisa bicara langsung dengan gubernur adalah kesempatan yang sangat langka.

Kades Bawang Purwandaru misalnya. Ia begitu semangat menyampaikan pelaksanaan PPKM Darurat di desanya. Kepada Ganjar, Purwandaru menjelaskan bahwa pihaknya aktif menggelar operasi justisi gabungan bersama TNI/Polri, Forum Kesehatan, tokoh masyarakat sampai Ketua RT/RW.

Baca juga:  Kendaraan Pemburu Provokator Unjukrasa Rusak

“Kegiatan kami menitikberatkan pada peningkatan kesadaran. Kami persuasif menyadarkan jika ada yang teledor prokes,” katanya.

Jogo Tonggo di desanya juga berjalan baik. Ada 22 orang yang positif korona di desanya, semua isolasi di rumah dan ditangani Jogo Tonggo.

“Selain bantuan dari tetangga, kami juga menganggarkan melalui dana desa. Setiap warga yang isolasi mandiri, kami beri bantuan Rp 250 ribu. Kami juga punya call center yang bisa digunakan masyarakat untuk bertanya terkait penanganan korona,” ucapnya.

Hal senada disampaikan Kades Gripit Banjarnegara, Sugeng. Kepada Ganjar, Sugeng mengatakan bahwa penanganan pandemi di desanya berjalan lancar. Selain mengoptimalkan Jogo Tonggo, di desanya ada Forum Kesehatan RT yang bekerja dalam penanganan ini.

“Ada 31 orang yang aktif dalam penanganan ini. Selain edukasi, kami tiap minggu ada kegiatan penyemprotan disinfektan di tempat-tempat publik. Alhamdulillah sampai hari ini, hanya ada dua warga kami yang positif dan sudah sembuh. Kami juga rajin sosialisasi prokes di pasar dengan pendekatan persuasif,” jelasnya.

Usai Rembug Desa, Ganjar mengatakan sengaja mengajak lurah/kades rembugan untuk ngecek betul kondisi di lapangan. Dari obrolan bersama kades-kades itu, Ganjar bisa memastikan kondisi yang terjadi.

“Tadi tiga Kades Banjarnegara saya tanya, bagaimana mengelola isoman. Mereka tahu dengan detil, tempat kami ada dua pak, kami ada tujuh pak. Jadi tahu persis. Sehingga kalau kita mau mendistribusikan pada mereka yang sakit apakah obat atau makanan, itu mereka bantu,” katanya.

Baca juga:  Antisipasi Kejahatan Siber, Luncurkan Sistem Jateng CSIRT

Selain itu, Ganjar juga memastikan bagaimana penggunaan dana desa untuk penanganan korona. Dari rembugan desa itu terbukti, bahwa lurah/kades sudah menggunakan 8 persen dana desa untuk korona.

Terkait perpanjangan PPKM Darurat, Ganjar Pranowo meminta pemerintah pusat mendengarkan suara rakyat. Sebab, menurutnya, situasi saat ini membuat masyarakat semakin keberatan.

“Masyarakat terlalu berat. Kalau PPKM Darurat diperpanjang dengan pola yang sama seperti ini, masyarakat berat. Maka saya minta kita harus mendengarkan suara masyarakat,” katanya.

Ganjar mengusulkan, kalau PPKM Darurat akan diperpanjang, maka pemerintah harus mencari cara-cara yang lebih soft. Meskipun semua diperketat, namun tidak boleh seperti saat ini.

Umpama, lanjut dia, warung dan restoran tetap boleh melayani makan di tempat. Dengan catatan, semua harus taat protokol kesehatan dan tidak boleh abai.

“Boleh saja warung melayani makan di tempat, asal taat prokes. Kalau melanggar dikasih peringatan, ngeyel ya ditutup. Tapi makannya bisa diatur, itu menurut saya lebih soft,” jelasnya.

Dirinya mengatakan melihat sendiri bagaimana beratnya PPKM Darurat di kalangan pedagang kecil. Saat berkeliling sepedaan, ia melihat pedagang pecel di trotoar yang kebingungan karena tidak boleh melayani makan di tempat.

“Aku ya ora tegel (saya tidak tega), bagaimana ada orang jualan pecel, yang duduk di situ teman-teman ojol, tukang becak. Kan kasihan, mereka ndak bisa kalau beli makanan, kemudian di makan di tempat lain. Kan mereka orang yang kerjanya keliling,” jelasnya.

Baca juga:  Buka Hingga Dini Hari, Tujuh Tempat Karaoke di Dargo Disegel

Jadi, menurutnya, jika PPKM Darurat diperpanjang, maka mungkin pemerintah memperbolehkan warung melayani makan di tempat dengan prokes yang ketat.

“Kalau mereka jualan di trotoar misalnya, ya sudah makan di situ dikasih jarak dengan gambar silang-silang. Menurut saya itu kompromi yang bagus,” ucapnya.

Untuk mal misalnya, Ganjar juga mengusulkan agar mal tetap boleh dibuka asalkan ketat. Kalau ada pengunjung yang tidak pakai masker, dan tidak ada pembatasan jumlah pengunjung, maka langsung ditutup.

“Jadi itu sebenarnya cara-cara yang bisa dilakukan kalau mau diperpanjang. Karena jeritan masyarakat mengatakan itu berat,” katanya.

Atau, lanjut dia, pemerintah bisa tetap mengambil keputusan perpanjangan PPKM Darurat dengan model yang sudah ada seperti sekarang ini. Tapi harus ada upaya pendataan dan penyiapan kekuatan untuk membantu masyarakat tetap di rumah.

“Apa itu, ya bantuan. Ndak ada yang lain. Pilihannya hanya itu. Di luar itu saya kira akan ada respon yang mungkin sangat noise di publik,” tegasnya.

Disinggung terkait kesiapan Pemprov Jateng, Ganjar mengatakan sudah menyiapkan skenario refocusing. Namun, pihaknya masih melihat kondisi di lapangan, karena bantuan dari pusat dan kabupaten sudah ada yang diberikan.

“Makanya saya ajak bicara kades/lurah serta bupati/wali kota untuk menyiapkan refocusing. Kami sudah siapkan skenario itu. Ya memang berat sih, tapi mau tidak mau pemerintah harus siap,” katanya. (ida/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya