alexametrics

Vaksinasi di 10 Kota/Kabupaten Belum Maksimal, Ini Penyebabnya

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Vaksinasi bagi lansia terus dikebut oleh Pemprov Jateng. Bahkan memasuki bulan Ramadan ini, vaksinasi juga akan dilakukan pada malam hari, khususnya setelah waktu berbuka puasa. Sebab, sampai saat ini pelaksanaan vaksinasi belum maksimal di semua kabupaten/kota di Jateng. Padahal sejak 3 Maret lalu, Pemprov Jateng telah mengubah prioritas vaksinasi kepada kelompok lansia.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jateng Yulianto Prabowo menuturkan, vaksinasi malam hari untuk berjaga-jaga apabila ada muslim yang tidak berkenan disuntik vaksin pada siang hari. “Jika kita melihat fatwa MUI memang tidak apa-apa kalau disuntik vaksin pada siang hari saat puasa,” kata Yulianto kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (13/4/2021).

Seperti diketahui, fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) membolehkan suntik vaksinasi dilakukan siang ataupun malam hari selama bulan ramadan. Adapun vasilitas suntik vaksin khusus malam hari, tidak semua rumah sakit nanti akan melayani.

Dinkes Jateng hanya menunjuk dua layanan kesehatan di satu kabupaten/kota untuk memberikan pelayanan tersebut. “Tidak semua rumah sakit, namun yang kami tunjuk itu bisa rumah sakit dan bisa juga puskesmas untuk vaksinasi malam hari,” terangnya.

Baca juga:  Ini Kronologi Dugaan Malapraktik RS Telegorejo yang Berujung Meninggalnya Pasien

Ia menjelaskan, suntik vaksinasi tidak akan membatalkan puasa. Meski dilakukan saat siang hari. Pasalnya, penyuntikan vaksin melalui intramuskuler bukan sistem tetes. “Jadi, menurut fatwa tersebut boleh,” ujarnya.

Meski begitu, kecepatan proses vaksinasi bergantung pada pengiriman vaksinasi oleh pemerintah pusat. Apalagi saat ini stok vaksin di gudang Dinkes Jateng sangat terbatas. “Tergantung (stok) vaksinnya, kan saat ini sangat terbatas,” katanya.

Memang sejauh ini belum ada komitmen dari pemerintah pusat terkait dengan pengiriman vaksin ke masing-masing provinsi. “Jumlah pastinya kan belum tahu berapa,” tuturnya.

Dikatakan, pihaknya juga telah menyusun mekanisme vaksinasi yakni dilakukan seperti biasa dari pagi hingga sore hari.

Catatan Dinkes Jateng, pelaksanaan vaksinasi belum maksimal di semua kabupaten/kota.  Setidaknya ada 10 kabupaten/kota di Jateng yang masih minim dalam memprioritaskan vaksin Covid-19 bagi lansia. Ke-10 kabupaten/kota itu adalah Boyolali, Brebes, Kebumen, Kabupaten Pekalongan, Batang, Rembang, Sragen, Wonogiri, Blora, dan Jepara.

Sedangkan kota yang tergolong tinggi atau telah melakukan vaksinasi di atas 25 persen dari total jumlah lansia di daerahnya antara lain Kota Magelang, Kota Salatiga, Kota Solo, dan Kota Semarang. “Targetnya, vaksinasi lansia sudah selesai sebelum Juni,” katanya.

Baca juga:  Fokus Percepatan Penanganan Pandemi dan Pemulihan Ekonomi

Dikatakan, dari sekian banyak daerah yang menjadi sorotan terkait lambatnya vaksinasi lansia di Jateng adalah Kabupaten Boyolali. “Di Boyolali vaksinasi masih diprioritaskan bagi petugas layanan publik,” ujarnya.

Yulianto juga manyebut, vaksinasi untuk kalangan petugas publik dan lansia hingga kini mencapai 24 persen.  Adapun sasaran target untuk pelayan publik dan lansia mencapai 5,5 juta orang. Terdiri atas petugas publik 2,2 juta orang, dan lansia 3,2 juta orang.

Kasus Covid-19 Naik

Sementara itu, pasca libur panjang  Jumat (2/4/2021) sampai Minggu (4/4/2021) dua pekan lalu, berimbas pada naiknnya angka positif Covid-19 di Kota Semarang. Angka kumulatif kasus Covid-19 saat ini rata-rata di angka 300-an kasus.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang M Abdul Hakam menjelaskan, setelah libur panjang awal April lalu ada sedikit kenaikan kasus. Hal ini terjadi karena kasus aktif terjadi karena perpindahan atau mobilitas masyarakat yang tinggi saat libur panjang.”Minggu ini ada kenaikan kasus karena kemarin long weekend, rata-rata di angka 300-an, kita saat ini coba tekan angka mortalitinya,” katanya.

Baca juga:  Berlari Cepat Wujudkan Kabupaten Semarang Berdikari

Sebelum libur panjang, temuan kasus baru di tempat isolasi rumah dinas Wali Kota Semarang berada di kisaran 10-15 orang per hari, sedangkan pasien yang dinyatakan sembuh rata-rata 30 orang per hari.”Setelah libur panjang ini,  pasien yang dinyatakan sembuh masih berada di kisaran angka yang sama, namun temuan kasus baru meningkat menjadi rata-rata 25 orang per hari,” ujarnya.

Mobilitas tinggi, kata dia, menjadi salah satu penyebab penularan saat libur panjang. Pasien yang dikarantina di rumah dinas sendiri berasal dari  usia produktif yang memiliki mobilitas tinggi. Sementara jumlah keterisian di rumah dinas mencapai 60 persen dari total okupansi yang dimiliki.

“Dominasinya klaster keluarga, satu keluarga bisa mencapai 4 – 5 anggota yang terpapar Covid-19 dengan sebaran tertinggi berada di enam kecamatan, yakni Pedurungan, Tembalang, Banyumanik, Semarang Barat, Semarang Utara, dan Ngaliyan,” bebernya. (ewb/den/aro)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya