alexametrics

Sesibuk Apapun, Sabtu dan Minggu Tetap Hari Keluarga

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Menjadi seorang politisi sekaligus ibu rumah tangga tentu bukan perkara yang mudah. Apalagi saat pandemi seperti saat ini. Pendekatan personal kepada buah hati harus dilakukan dengan baik, termasuk menanamkan pendidikan karakter dan nilai Pancasila. Hal ini dirasakan Dyah Ratna Harimurti, yang menjadi anggota Komisi D DPRD Kota Semarang.

Detty –begitu dia disapa–, mengaku, selama pendemi, sekolah anak dilakukan melalui daring. Di sini peran orang tua, terutama ibu, sangat besar. Menurut Politisi Partai PDI-Perjuangan ini, peran ibu tidak akan terganti, meskipun anak-anak telah beranjak dewasa.

“Karakter anak saat pembelajaran daring ini bisa saja turun, di sini peran ibu menanamkan nilai-nilai karakter, agama, dan yang lainnya,” katanya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Senin (21/12/2020).

Ya, sebagai politisi, istri dari Gus Tanto ini memiliki banyak kesibukan di luar rumah. Seperti menyerap aspirasi masyarakat ataupun berada di kantor. Menurut dia, komunikasi dan kualitas bersama keluarga tetap diutamakan saat akhir pekan.

“Meskipun tidak sempat membuat sarapan, paling tidak kita harus menyiapkan untuk sarapan anak dan suami. Saat libur ya dibuat full bersama keluarga, sharing, atau quality time ini sangat perlu dilakukan agar anak-anak tidak merasa kehilangan kasih sayang,” tuturnya.

Ibu lima anak ini mencontohkan, meskipun anak tidak bertemu langsung dengan teman, kemajuan teknologi membuat anak masih tetap berkomunikasi dengan teman sekolah. Misalnya dengan WhatsApp group atau sebagainya. Pesan agar tetap mengedapankan rasa tepo seliro dan saling menghormati ini perlu ditanamkan kepada buah hati.

“Misalnya, harus menjaga tutur kata ketika chat bersama teman. Nah saat pandemi ini kebiasaan seorang ibu pun harus diubah, karena anak lebih sering melihat ibunya di rumah, dan menjadi sosok yang akan dicontoh anak,” tambahnya.

Idealnya,  kata dia, menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada buah hati pun harus dilakukan. Seperti melakukan ibadah dengan agama masing-masing, menghargai pendapat orang lain, punya nilai tepo seliro, rendah hati, cinta tanah air, dan tidak bergaya hidup mewah. Nilai Pancasila ini sekaligus diharapkan menjadi ciri khas warga kota yang heterogen.

Baca juga:  Maju lewat Partai Lain, PDIP Resmi Pecat Mugiyono

Nah ini ibu yang pegang peran. Misalnya, standar keren ini seperti apa? Karena bergaya hidup mewah juga menunjukkan rasa tidak tepo selior dan tidak rendah hati,” beber wanita kelahiran Semarang, 5 Oktober 1976 ini.

Selain itu, di tengah pandemi seperti saat ini, menjadi seorang ibu wajib untuk mengingatkan dan memberi contoh, bahwa kesehatan adalah hal utama dalam memulai kegiatan sehari-hari. Salah satunya adalah penerapan protokol kesehatan (prokes).

“Kesadaran tentang protokol kesehatan harus wajib ditaati kita semua. Pada saat kita di luar rumah maupun kembali dari berpergian wajib menjaga jarak, rajin mencuci tangan, dan memakai masker,” tambahnya.

Detty mengaku, jika saat ini sudah tidak ada persoalan gender di Kota Semarang. Perempuan boleh berkarya dan menempati posisi-posisi yang  strategis. Selain itu, wanita sebagai ibu rumah tangga pun punya peran stategis untuk mencetak generasi muda yang baik. “Kembali ke tadi, kita orang tua adalah contoh, ya kita jadi contoh yang baik buat anak kita,” paparnya.

Wakil rakyat dua periode berturut-turut ini mengaku, kegiatannya di bidang politik mendapatkan dukungan penuh dari orang terdekatnya, seperti suami dan anaknya. Kebetulan Gus Tanto, suami Detty, adalah seorang pimpinan pondok pesantren di Semarang, dan menganggap jalan yang diambil Detty adalah perjuangan dalam bentuk lain.

“Suami mendukung, beliau menjelaskan langkah saya terjun di dunia politik ini adalah perjuangan dalam bentuk lain. Misalnya, menyuarakan aspirasi rakyat, serta sebuah ibadah juga,” katanya.

Politisi wanita lainnya adalah Tyas Anggraeni Bekti Prasetyo. Sejak 2014, ia menjadi wakil rakyat di Kota Magelang. Politisi Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) ini juga seorang ibu bagi buah hatinya, Aqila Hibah Queena Wibowo dan Safea Zafira Queena Wibowo.

Pada masa transisi ini, Tyas mengaku banyak penyesuaian. Prinsipnya, kalau sudah maju tidak boleh mundur. Ia mencari jalan penyelesaian dengan menguatkan komunikasi dengan suaminya, Yhan Noer Cahyo Wibowo, yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Satpol PP Kota Magelang. Ini penting, agar tiga pekerjaannya bisa berjalan, tanpa berat sebelah. Jadi istri, jadi ibu, sekaligus anggota DPRD Kota Magelang. Dia berbagi tugas dengan suami yang dinikahinya pada 2009.

Baca juga:  Satgas Oksigen Pastikan Suplai di Jateng Aman

Tyas bercerita, membangun karir itu tidak mudah. Saat bisa dicapai, tidak boleh disia-siakan. Harus bersungguh-sungguh. Untuk mencapai ke sana, cukup berliku. Bermula dari kegagalan mendaftar sebagai dosen tetap di salah satu universitas. Tyas mendapat dorongan dari sang ayah, dr HS Budi Prasetyo, yang saat itu menjadi Sekda Kota Magelang  untuk menjadi politisi.

“Saat itu, saya selesai menempuh pendidikan S2 di UGM Jogjakarta, bapak bilang cobalah ke politik biar ilmunya kepakai,” kenangnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin, (21/12).

Ditambah pesan ibunya, Sri Sibekti, sebagai perempuan tidak boleh berpangku tangan. Harus bekerja, mandiri, punya penghasilan sendiri. “Kalau ada apa-apa, biar bisa handle. Dan ibu saya seorang pekerja keras, saya terinspirasi dari beliau,” ucapnya.

Di keluarganya, karir sangat penting bagi perempuan. Apalagi pendidikan. Menurutnya, ketika seorang perempuan memiliki keterampilan didukung dengan pendidikan yang baik, akan membawa perubahan. “Buat keluarga, bekal untuk mendidik anak-anak, dan ilmunya bermanfaat untuk masyarakat sekitar,” akunya.

Ia bersyukur, selama duduk di kursi legislatif, ia tidak pernah pusing membagi waktu dengan keluarga. Kuncinya adalah manajemen, dan dukungan dari suami. Senin sampai Jumat bekerja. Sedangkan Sabtu dan Minggu adalah hari keluarga.

“Saya selesaikan pekerjaan di kantor, kalau sudah sampai rumah, saya jadi seorang ibu dan istri,” ucapnya.

Dia pantang membawa pekerjaan maupun masalah kantor ke rumah. Hal itu riskan menimbulkan perbedaan pendapat dengan suaminya. Saat di rumah, khusus membahas kebutuhan dan rencana-rencana keluarga. Dia juga tidak membiarkan rumah kosong dari kehadiran orang tua, agar kasih sayang orang tua bisa dirasakan anak-anaknya.

“Kolaborasi dengan suami sangat penting. Kalau saya ada tugas ke luar kota, maka suami harus di rumah. Sebaliknya, saat dia keluar, saya harus di rumah. Kami pegang komitmen ini, salah satu dari kami harus ada yang di rumah untuk menemani anak-anak,” katanya.

Baca juga:  Pelanggaran ODOL Rusak Infrastruktur Jalan Jateng

Secapek apapun kondisinya, Tyas tetap melayani anak-anaknya jika membutuhkan kasih sayang dan bantuannya. Seperti membuatkan makanan atau bermain. “Ibu saya pesan, secapek apapun kondisi saya, kalau anaknya ingin main ya diladeni (dituruti), karena itu kewajiban saya. Dan saya akan tidur, kalau anak-anak sudah pada tidur.”

Waktu keluarga juga dipakai berkunjung ke rumah mertua. Jika ada acara dengan partai, ia menyusul. “Kalau nggak bisa berangkat bareng, anak-anak sama suami ke Jogja dulu (rumah mertua, Red), kemudian saya nyusul,” tuturnya.

Dia menganggap, semua aktivitasnya adalah olahraga. Sehingga dilakukan dengan hati yang ringan, tanpa menganggap hal itu beban. “Jadi enjoy saja,” ucapnya.

Tyas selalu menunjukkan di depan keluarganya kalau dirinya adalah perempuan kuat. Tidak mudah mengeluh. “Tidak memungkiri kadang diri kita punya masalah di tempat kerja atau dengan siapa, kalau harus nangis, saya nggak pernah menunjukkan kesedihan di depan anak. Seorang ibu nggak boleh terlihat lemah di depan anaknya,” tuturnya.

Untuk membangkitkan enerji positif, Tyas menjalankan kegiatan lain. Salah satunya berdiskusi dengan teman. Baik untuk membangun bisnis, atau ngobrol-ngobrol ringan. Saat ini, ia merintis usaha kecantikan, dan hijab bersama temannya.

“Saya juga punya prinsip, kalau berteman harus saling menguatkan satu sama lain, saling mendukung, dan saling membantu,” imbuhnya.

Selama pandemi Covid-19, ia lebih punya banyak waktu bersama keluarga. Ia punya tugas tambahan. Memastikan kebutuhan pendidikan anaknya melalui pembelajaran jarak jauh terpenuhi. Lalu memberikan asupan makanan bergizi. Suami dan anak-anaknya mengaku menyukai masakan sop buatannya.

“Sejak pandemi kita sering masak-masak di rumah, mengurangi jajan di luar, banyak makan sayur, buah, dan makanan sehat lainnya,” akunya.

Selain itu, ia dan keluarga mengonsumsi suplemen tambahan untuk meningkatkan imunitas tubuh. Serta menerapkan protokol kesehatan agar terhindar dari Covid-19. Baginya, sosok ibu adalah model bagi anak. Jika seorang ibu mengajarkan kebaikan, dan kedisiplinan, ia yakin seorang anak akan mengikuti. (den/put/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya