alexametrics

Sepuluh Guru di Semarang Positif Covid-19

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID Semarang Penegakan protokol kesehatan (prokes) harus lebih diperketat. Pasalnya, penyebaran virus Covid-19 di Kota Semarang kembali meluas. Tercatat, sedikitnya 10 guru dari berbagai sekolah di Kota Semarang terpapar Covid-19. Selain itu, sebanyak 19 santri dan pengasuh pondok pesantren (Ponpes) Sirotol Mustaqim RW II Kelurahan Manyaran, Kecamatan Semarang Barat, juga positif Covid-19. Dari 19 orang itu, 13 orang menjalani isolasi  di rumah dinas Wali Kota Semarang, dan satu orang dirawat di RSUD Salatiga.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang Gunawan Saptogiri mengakui,  jika ada 10 guru dari lima sekolah di Kota Semarang terkonfirmasi positif korona. “Iya betul, ada 10 guru dari lima sekolah,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (5/10/2020) siang.

Gunawan menjelaskan, jika para guru ini berasal dari tenaga pendidik beberapa SD dan SMP di Kota Semarang. Dari informasi yang diterima, beberapa guru sudah dinyatakan sembuh pasca menjalani isolasi selama 14 hari.

Alhamdulillah sudah banyak yang sehat. Namanya aparat melayani masyarakat di manapun. Saat ini, kondisi mereka juga prima,” tuturnya.

Ditanya dari mana para guru tersebut tertular Covid-19, Gunawan tidak bisa memastikan. Ya jelas, ia menegaskan jika penularan tidak terjadi di lingkungan sekolah. Dugaannya penularan terjadi di lingkungan masyarakat, keluarga, atau tempat umum. “Bukan dari sekolah, Dinas Kesehatan yang lebih tahu. Jadi, bukan klaster sekolah,”tegasnya.

Gunawan memberi contoh, ada beberapa guru yang memiliki suami bekerja di luar kota. Diduga saat itulah membawa virus dan menularkan ke istri. “Secara keseluruhan aman, karena pembelajaran masih dilakukan secara daring, jadi tidak menularkan ke siswa,” katanya.

Penerapan protokol kesehatan di lingkungan sekolah maupun saat pembelajaran jarak jauh, lanjut Gunawan, perlu dilakukan tenaga pendidik. Harapannya, tidak ada kasus serupa, apalagi sampai memakan korban.

“Yang terpenting tidak boleh stres, tugas pokok dan fungsi guru baik di rumah ataupun di kantor tetap dilaksanakan. Saya juga sudah tekankan agar protokol kesehatan dijalankan dengan baik,” katanya.

Sampai saat ini, Disdik Kota Semarang belum memberikan izin kepada sekolah manapun untuk menerapkan pembelajaran tatap muka. Sebab, Kota Semarang belum masuk dalam zona kuning ataupun hijau.

Baca juga:  Mengaku Pendeta, Komplotan Penipu Diringkus Polres Magelang Kota

Ia mengaku, beberapa kali menolak pengajuan pembelajaran tatap muka dari beberapa sekolah. “Pengajuan yang dikirimkan langsung kami tolak. Namun untuk sekolah boarding berbeda, karena dengan surat bersama empat menteri diperbolehkan. Untuk sekolah umum kami tetap tolak sesuai dengan aturan yang ada,”tegasnya.

Untuk dapat melakukan pembelajaran tatap muka, sambungnya, empat persyaratan harus dipenuhi, yakni daerah telah masuk zona hijau atau kuning, mendapat izin dari pemkot, izin dari orang tua, dan sekolah harus menyiapkan sarana prasarana.

Sementara itu, SD Negeri 01 Sawah Besar, Kecamatan Gayamsari, yang dikabarkan tiga gurunya positif Covid-19, hingga kemarin masih ditutup. Gerbang sekolah ditutup rapat dan sepi. Tidak ada aktivitas apapun di sekolah ini.

Menurut pedagang angkringan di depan SDN 01 Sawah Besar Nanang, sekolah ditutup sejak 29 September lalu. “Padahal tadi banyak wali murid yang datang ke sekolah untuk meminta tugas harian dan mengambil nilai, akan tetapi wali murid yang datang ke sekolah tidak tahu kalau sekolah ditutup,” ungkapnya.

Sekretaris Kelurahan Sawah Besar Achmad Syaiful mengatakan, belum ada laporan dari pihak sekolah ke pihak kelurahan kalau ada yang terkena Covid-19. “Jadi kami juga belum tahu kalau ada yang terkena Covid-19 di SDN 01 Sawah Besar,” katanya saat ditemui di Kantor Kelurahan Sawah Besar.

Sekretaris Komisi D DPRD Kota Semarang, Anang Budi Utomo mengatakan, Covid-19 dapat menginfeksi kepada siapa saja, termasuk guru atau tenaga pendidik. Para guru, lanjut politikus Golkar ini, kerap melakukan interaksid dengan masyarakat. “Siapa saja bisa kena, termasuk para guru. Yang patut disyukuri adalah belum diberlakukan pembelajaran tatap muka, sehingga penyebarannya bisa dikontrol dan tidak menulari murid,” bebernya.

Menurut Anang, Dinas Kesehatan Kota Semarang harus bergerak cepat untuk melakukan tracking dan tracing awal mula penularan tenaga pendidik di Kota Semarang ini. Misalnya, dari dalam keluarga atau tempat umum. Dari data yang ada, penerapan protokol kesehatan di beberapa daerah di Semarang memang kurang begitu dipatuhi.

“Banyak sekolah yang di zona merah ini kesadaran protokol kesehatannya kurang. Sebut saja wilayah Genuk dan Semarang Barat,” katanya.

Baca juga:  Patroli Rojak Ingatkan Prokes

Agar pembelajaran tidak terganggu dan hak siswa tetap bisa diberikan, Komisi D meminta Disdik untuk bisa mengganti guru yang terkonfirmasi positif ini. Selain itu, lebih menggencarkan sosialiasi dan penerapan protokol kesehatan. “Misalnya, kalau diisolasi di rumah dinas kan harus diganti, jangan sampai hak anak-anak dan kurikulum yang ada tidak didapatkan oleh para siswa,” ujarnya.

Klaster ponpes juga terjadi di Ponpes Sirotol Mustaqim Manyaran. Lurah Manyaran Taat mengatakan, sebelumnya di wilayah RW II itu kedatangan seorang tamu dari Salatiga yang tujuannya untuk bertemu warga bernama Marzuki. Selanjutnya, dia  mengajak Marzuki untuk menengok seorang bayi yang masih saudara.  “Saat itu, anaknya dari Salatiga datang ke rumah orangtuanya mengajak menengok saudaranya yang sedang melahirkan. Setelah itu, seperti biasa mereka bersalaman atau bagaimana sehingga Marzuki itu tertular,” katanya.

Marzuki sendiri adalah pengurus dan guru di Ponpes Shirotol Mustaqim, sehingga tetap berkantor dan tidak mengetahui kalau dirinya telah tertular. Akibatnya, 18 santri pondok pesantren tertular. Hal itu diketahaui setelah dilakukan swab test petugas Puskesmas Manyaran.

“Waktu itu, Marzuki tidak mau dilakukan swab oleh petugas puskesmas, sehingga oleh anaknya dilakukan pemeriksaan di RS Salatiga ternyata positif, sehingga sampai saat ini masih dirawat di RS Salatiga,” tambahnya.

Dari 19 orang yang terpapar Covid-19, sebanyak lima orang dinyatakan sembuh. Sedangkan 13 orang diisolasi di Rumdin Wali Kota, dan seorang dirawat di RS Salatiga.

Taat mengingatkan kepada ketua RW agar setiap tamu yang datang ke wilayahnya tetap mematuhi protokol kesehatan, sehingga kejadian ini tidak terulang lagi. Selain itu, dirinya mengajak kepada seluruh warga di wilayahnya tetap menjaga kesehatan dengan cara memakai masker serta jaga jarak.

Ketua RW II  Mugiyana mengatakan, selama perawatan di rumdin, warga membantu dengan melakukan iuran secara sukarela. Selanjutnya uang itu diberikan kepada warga yang diisolasi atau keluarganya dengan dibelikan makanan.  “Warga secara sukarela membantu mereka yang terpapar Covid-19,” katanya.

Kemarin, petugas BPBD Kota Semarang melakukan penyemprotan dengan menggunakan truk dan manual di wilayah RW II, khususnya di Ponpes Shirotol Mustaqim serta area jalan di wilayah tersebut.

Baca juga:  Rainda Goesti Rizkita, Tak Melupakan Pendidikan

Klaster Sumbang 80 Persen Kasus Baru Covid-19

Sejumlah klaster menjadi penyumbang cukup besar kasus baru Covid-19 di Jawa Tengah. Dari 557 kasus baru yang muncul pada Senin (5/10/2020), 80 persen adalah sumbangan dari klaster baru tersebut. Pihaknya telah memitigasi dalam rangka penanganan klaster ini.

“Ternyata penyebaran kasus baru di Jawa Tengah itu bukan dari individu, melainkan dari klaster. Dari sekian kasus baru, 80 persennya berasal dari klaster. Ada klaster perkantoran, sekolah, termasuk pondok pesantren yang kemarin di Banyumas, Kebumen dan Cilacap,” kata Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo usai memimpin rapat koordinasi percepatan penanganan Covid-19 di kantornya, Senin (5/10/2020).

Ganjar mengatakan, pihaknya telah memetakan dan melakukan mitigasi terhadap penanganan itu. Menggandeng sejumlah instansi dan komunitas, Ganjar saat ini sedang menggenjot penyelesaian munculnya klaster-klaster baru tersebut.

“Sekarang tim kami sedang melakukan pendampingan secara khusus. Untuk pondok pesantren, Gus Yasin (Wakil Gubernur Taj Yasin, Red) sudah sering keliling ke pondok-pondok dan melakukan pendampingan. Selain itu, edukasi juga penting, agar masyarakat tidak memberikan stigma negatif pada masyarakat yang positif Covid-19 itu,” jelasnya.

Selain penanganan secara khusus pada klaster-klaster baru itu, Ganjar juga siap menggandeng komunitas untuk menggiatkan sosialisasi. Upaya edukasi dan penegakan hukum juga akan terus dilakukan agar mata rantai penyebaran Covid-19 bisa segera ditangani. “Bersama Polda kami siap membuat champion sebagai ujung tombak edukasi dan sosialisasi. Polda bagus tadi, sudah punya data ada 670 komunitas dan 3.027 organisasi masyarakat. Akan kami gandeng untuk meningkatkan edukasi pada masyarakat,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jateng Yulianto Prabowo menambahkan, klaster paling banyak menyumbang angka kasus baru adalah klaster pondok pesantren dan klaster rumah tangga. Tapi yang terbesar saat ini adalah klaster pondok pesantren. “Klaster ponpes terbanyak. Itu ada di Kebumen, Cilacap dan Banyumas,” jelasnya.

Meski begitu, pihaknya tidak mengesampingkan penanganan pada klaster lain, seperti sekolah, kantor dan rumah tangga. Sebab, dengan penanganan klaster yang tepat, maka kasus Covid-19 bisa turun drastis. “Angka 80 persen ini cukup tinggi, maka klaster memang saat ini yang menjadi fokus kami,” ujarnya. (den/cr1/hid/ewb/aro/bas)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya