Setahun 195.000 Kasus Penyalahgunaan Narkoba, Jateng Peringkat Empat Nasional

349

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNPP) Jawa Tengah mencatat ada sebanyak 195.000 penyalahgunaan narkoba dalam setahun. Secara nasional, Jawa Tengah menduduki peringkat empat.

“Prevalensinya 1,3 persen, sedangkan nasional 1,6 persen. Karena jumlah penduduk Jateng ini 30 juta dikalikan 1,3 persen. Termasuk tinggi, nomor empat se-Indonesia, setahun sekitar 195.000 penyalahgunaan,” ungkap Kepala BNN Provinsi Jateng Brigjen Benny Gunawan  saat peringatan Hari Antinarkoba Internasional (HANI).

Jumlah tersebut, BNNP Jateng juga diimbangi dengan berhasilnya mengungkap berbagai kasus narkoba.

Benny menyebutkan, pada 2020 ini terdapat peningkatan jumlah kasus. Sejak Januari sampai Juni 2020 sudah menangani 25 tersangka.

“Kalau tahun lalu yang ditangani BNN ada 57 tersangka setahun. Tahun ini sampai Juni sudah 25 tersangka. Masih ada waktu sampai Desember, masih cukup jauh, akan ada peningkatan,” bebernya.

Pada peringatan Hari Antinarkoba Internasional (HANI), BNNP Jateng melakukan kegiatan pemusnahan narkoba berbagai jenis. Antara lain, 28,2 kg ganja, 141,2 gram sabu, 551 butir ekstasi, tembakai sintetis 303,18 gram, ribuan botol minuman keras dan ribuan butir psikotropika. Pemusnahan barang bukti narkoba yang digelar di halaman Kantor Gubernur Jateng itu dihadiri Kapolda Irjen Pol Drs Ahmad Lutfi dan Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu.

“Sejak Januari sampai Juni 2020, BNNP Jawa Tengah telah memusnahkan narkotika berbagai jenis, yaitu 1 kg sabu, 510 butir ekstasi dan 10 kg ganja,” katanya.

Sementara untuk psikotropika yang dimusnahkan sebanyak 365 strip obat, 6.527 tablet obat, 1 botol vibramox forte, dan 25 blister amaryl. Pemusnahan barang tersebut dengan cara dimasukkan ke dalam mobil incinerator. Juga sebanyak 9.894 botol miras berbagai merek, dan 1.080,9 liter miras jenis ciu turut dimusnahkan.

Kasi Intel BNNP Jateng Kunarto menambahkan, Jawa Tengah terdapat lima zona rawan terkait peredaran narkotika obat terlarang dan berbahaya (narkoba). Hasil intelijen Badan Narkotika Nasional Propinsi (BNNP) Jawa Tengah menyebutkan Semarang Raya menjadi salah satu gudang peredaran narkoba.

“Semarang Raya itu Kendal dan Demak. Tapi sentralnya ada di Kota Semarang. Barang yang ada di Semarang itu mengalir sampai Demak dan Kendal. Gudangnya, kalau bicara bandar besarnya itu ada di Semarang,” ungkapnya.

Kunarto mengaku telah memetakan di wilayah Jawa Tengah yang rawan terkait peredaran narkotika. Selain Semarang Raya, wilayah lain yang rawan peredaran narkoba adalah Solo Raya. Hal ini terlihat dari jumlah pengungkapan kasus, baik para tersangka dan barang bukti yang disita.

“Wilayah rawan peredaran narkotika pertama Solo Raya. Disusul Semarang Raya, kemudian pantura meliputi Pekalongan dan Tegal. Lalu wilayah Banyumas Raya, dan terakhir daerah Jepara, Pati  dan Kudus,” bebernya. (mha/aro/bas)





Tinggalkan Balasan