alexametrics

Masuk Zona Hijau, Dua Daerah Diizinkan Buka Sekolah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Sekolah yang berada di zona hijau Covid-19 segera diizinkan membuka kembali tatap muka langsung. Tentu saja, jika memenuhi semua persyaratan yang ditentukan. Yakni, melaksanakan protokol kesehatan, berada di kabupaten atau kota zona hijau, dan selama dua minggu tidak ada penambahan jumlah pasien positif. Saat ini, dari 35 kabupaten/kota di Jateng, baru Kota Tegal dan Kabupaten Rembang yang telah dinyatakan sebagai zona hijau Covid-19.

“Yang pasti (zona hijau) baru dua kabupaten dan kota, yaitu Tegal (Kota) dan Rembang,” kata Kepala Dinas Pendidikan Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Jawa Tengah Jumeri saat ditemui di Kantor Gubernur Jateng, Semarang, Senin (8/6/2020) kemarin.

Namun membuka kembali sekolah di masa pandemi Covid-19, bukan perkara mudah. Sebab, banyak siswa dari satu kabupaten yang bersekolah di kota lain. “Nah, kita nanti mengindentifikasi. Misalnya, SMA 3 (Semarang), murid dari Kendal piro (berapa, red). Kalau Kendal masih merah, tidak boleh masuk dia (murid),” terang Jumeri mencontohkan.

Jumeri juga menerangkan soal rencana pengambilan buku rapor sekolah yang sedianya dilakukan 12 Juni 2020 tetap akan dilakukan. Pihaknya akan mengundang orang tua murid secara virtual. Lantaran kondisi perkembangan kasus Covid-19 di Jateng yang belum bagus.  “Tadinya akan mengundang orang tua siswa. Tetapi sekarang tetap mengundang orang tua, tapi secara virtual. Karena kondisi Jawa Tengah belum bagus,” tuturnya.

Baca juga:  Pemakaman Jenazah COVID-19 di Jabar Aman karena Ikuti Protokol

Pihaknya juga sedang melakukan persiapan yang mengacu Kementerian Pendidikan. Bahwa ada syarat-syarat tertentu sekolah bisa membuka pembelajaran tatap muka kembali. Dinas Pendidikan sendiri sudah menyiapkan protokol kesehatan untuk sekolah, petunjuk teknis untuk penyiapan gugus tugas di sekolah, protokol berangkat sekolah, pulang dari sekolah, pengaturan manajemen pendidikan, pengaturan kurikulum. “Itu kita buat,” ujarnya.

Saat ini, Pemprov Jawa Tengah memang terus menyiapkan diri menghadapi kenormalan baru atau new normal. Termasuk salah satunya adalah menyiapkan diri di sektor pendidikan. Yaitu, kesiapan sekolah yang ada di Jateng. Diketahui, sekolah di Jateng rencananya akan mulai masuk pada 13 Juli 2020.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur bersama Wakil Gubernur (Wagub) Jateng Taj Yasin Maimoen mengumpulkan seluruh Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) bersama para pakar dan akademisi untuk membahas norma-norma yang akan dijadikan pedoman dalam pelaksanaan normal baru.

“Karena ada permintaan banyak soal normal baru, saat ini kami sedang menyusun norma barunya. Meski belum dilaksanakan normal baru, setidaknya norma baru yang kami siapkan bisa menjadi panduan agar pelaksanaan normal baru bisa lancar, tidak kelabakan,” kata Ganjar.

Meski sedang menyusun norma sebagai panduan normal baru, namun Ganjar menegaskan belum semua daerah di Jateng akan diperbolehkan menerapkan normal baru dalam waktu dekat. Beberapa daerah hijau sampai level bawah, dimungkinkan bisa menerapkan kebijakan itu.

Ia memastikan persiapan norma baru di berbagai sektor. Seperti sektor peribadatan, perkantoran, industri, perdagangan, pendidikan dan pariwisata. “Ini sangat selektif. Makanya normanya kami siapkan agar normalnya bisa berjalan baik. Beberapa daerah hijau seperti Banyumas, Kota Tegal sudah kontak saya minta diterapkan, saya bilang uji coba dulu agar latihan,” terangnya.

Baca juga:  Tergerus Banjir, Rumah Warga Blancir Amblas

Beberapa daerah hijau yang akan menerapkan normal baru, diharuskan memegang pedoman norma baru yang disusun tersebut. Bentuknya nanti mungkin instruksi gubernur (Ingub), atau bisa juga nanti instruksi gugus tugas. “Kami sedang susun, dalam waktu dekat segera kami umumkan,” kata Ganjar.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Jateng Sinoeng Rachmadi mengatakan, pariwisata di Jawa Tengah belum akan dibuka untuk umum. Meski begitu, persiapan menuju normal baru akan dilakukan, sehingga saat pelaksanaan normal baru berlangsung, pariwisata benar-benar siap.

“Beberapa destinasi pariwisata di Jateng sudah melakukan simulasi normal baru. Rencananya, Rabu (10/6/2020) besok kami menggelar simulasi di Borobudur untuk persiapan ini,” katanya.

Sementara itu, rencana penerapan new normal dalam dunia pendidikan harus dilakukan dengan persiapan matang. Salah satunya dengan menyesuaikan jenjang pendidikan yang ada.

Pengamat pendidikan dari Universitas PGRI Semarang Ngasbun Edgar mengatakan, jika dilaksanakan new normal di dunia pendidikan saat pandemi ini perlu perhatian khusus di setiap jenjang. “Misalnya saja untuk anak-anak, khawatirnya kan dilepas,” katanya, Senin (8/6/2020).

Jika memang new normal akan diberlakukan, bisa jadi dilakukan dengan penetapan zona wilayah. Maksudnya, sekolah yang masuk dalam kategori zona hijau atau tidak ada kasus korona, bisa menerapkan new normal dengan berbagai protokol kesehatan yang ada. “Tapi untuk zona merah bahkan kuning, lebih baik jangan menerapkan dulu,” tambahnya.

Baca juga:  Delapan Objek Wisata Jateng Uji Coba Bertahap

Untuk saat ini, menurutnya, jika penerapan new normal di Semarang masih akan sulit dilakukan. Contohnya, pemahaman unuk menggunakan masker. Kenyataannya di lapangan masih banyak masyarakat yang enggan menggunakan masker. “Masalah seperti ini menjadi perhatian juga, kita khawatir kalau anak-anak ini ibaratnya dilepas, kalau tidak ada pemahaman yang baik malah akan membahayakan,” jelasnya.

Selain itu, penerapan new normal di sekolah juga manambah tugas guru. Di mana guru juga harus memberikan pengawasan penuh kepada siswa ataupun wilayah sekolah. Misalnya saja, rajin mencuci tangan, jaga jarak, dan selalu menggunakan masker. “Pekerjaan guru tentu semakin berat karena memberikan pengawasan. Misalnya, siswa yang cuek dengan tata tertib ataupun lalai pun menjadi perlu jadi pertimbangan,” katanya.

Selain itu, stadardisasi pendidikan juga menjadi perhatiannya pada sekolah yang sudah mampu menerapkan new normal dan masih ada sekolah yang masih menerapkan belajar di rumah. Idealnya penjaminan mutu proses pembelajaran melalui daring atau tatap muka harus ada perbedaan. “Meski kompetensi yang dicapai sama, maka bagi siswa yang sudah belajar di sekolah dan yang masih belajar daring harus ada cara-cara khusususnya,” ungkapnya. (ida/den/aro/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya