Mudik Pakai Travel Gelap, Tarif Berlipat, Jamin Perjalanan Aman

Grafis: Ibnu/Jawa Pos Radar Semarang

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Larangan mudik lebaran justru menjadi peluang bisnis bagi pelaku jasa perjalanan atau travel mudik gelap. Mereka menawarkan jasa pulang kampung dengan tarif berlipat dari harga normal. Travel mudik ini menawarkan jasanya secara terbuka melalui grup jejaring sosial.

Koran ini mencoba menghubungi salah satu jasa travel mudik. Untuk perjalanan Jakarta-Grobogan, ia mematok harga Rp 500 ribu. Dengan harga tersebut, ia menjamin perjalanan akan aman sampai tujuan tanpa terjaring razia petugas.

Aman Mas, tiap hari sampai rumah. Sudah berkali-kali ngerit (bawa penumpang, Red). Berangkat Kamis (hari ini, Red),” ujarnya kepada koran ini dengan logat khas.

”Paling nanti kumpul di pintu tol Cakung Barat,” tambahnya saat koran ini mengatakan hendak berangkat dari Cakung.

Sebagai perbandingan, tarif normal bus Jakarta-Purwodadi antara Rp 120 ribu-Rp 160 ribu. Sedangkan tarif selama masa PSBB Jakarta mencapai Rp 240 ribu.

Pelaku travel yang enggan disebut namanya itu juga mengatakan, berapa pun jumlah penumpang akan diterimanya. Yang terpenting mobil terisi penuh. ”Bebas ini, tidak ada jarak-jarakan. Kalau ada tambahan (orang, Red) tidak apa-apa,” ujarnya.

Adanya travel mudik gelap ini, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah berkoordinasi dengan kepolisian dan Dirjen Perhubungan Darat untuk menindak tegas.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan, dalam hal ini bisa dilakukan tindakan ekstrem untuk memberikan efek jera. ”Sebenarnya angkutan umum yang diizinkan yang mana? Kalau perlu dikasih stiker dan nomornya diberikan ke daerah. Sehingga yang lewat adalah yang legal,” katanya.

“Selain angkutan umum yang berstiker itu adalah ilegal, dan kita tinggal kasih hukuman. Balik denda atau dicabut izinnya,” tegasnya.

Meski demikian, gubernur mengakui bahwa bukan tidak mungkin masih ada yang nyolong-nyolong. Kabar pemudik yang melewati jalan tikus ketika diminta putar balik juga sudah sampai kepadanya. Oleh sebab itu, penjagaan akan terus diperketat.

”Mudah-mudahan dengan PSBB Jawa Barat saringannya dua kali. Kita tinggal memperkuat di darah perbatasan, seperti Brebes, Cilacap, dan Banyumas. Tiga titik di barat itu kita maksimalkan,” terangnya.

Ia menjelaskan, langkah terakhir ketika masih ada pemudik yang nekat pulang adalah dikarantina di tingkat desa. Para pemudik ini akan dicatat dan dilaporkan melalui aplikasi untuk dicocokkan. ”Dengan demikian kita bisa cross check data dari atas dan data yang kita tangkap dari bawah,” terangnya.

Pengamat transportasi Unika Soegijapranata Djoko Setijowarno mengatakan, masih ada perantau yang pulang ke Jawa Tengah. Ia melihat, angkutan pelat hitam justru merajalela beroperasi memenuhi mobilitas orang antar kota antar provinsi.

Memang, kata dia, pemudik yang datang ke Jawa Tengah menggunakan moda transportasi umum (bus, KA, pesawat udara dan kapal) cenderung menurun drastis sejak penetapan larangan mudik, serta penghentian operasional moda pesawat, kereta api, dan kapal laut.

”Rombongan perantau dari Jabodetabak diperkirakan menggunakan kendaraan pribadi, sepeda motor atau kendaran sewa berpelat hitam. Kemungkinan besar melewati jalur tidak resmi (istilahnya jalur tikus) yang tidak terjaga aparat hukum,” ujarnya. (sga/aro/bas)





Tinggalkan Balasan