alexametrics

Mengenang Didi Kempot, Selama Mengamen di Jakarta Punya Hobi Tidur Siang di Pemakaman

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Solo Jiwa seni Didi Kempot mungkin sudah mulai tumbuh sejak dia dilahirkan. Ya, Didi Kempot terlahir di tengah-tengah keluarga seniman. Sang ayah, almarhum Ranto Edi Gudel adalah seorang pelawak sekaligus seniman ketoprak asal Solo, dan ibu, Umiyati adalah penyanyi kampung. Sementara sang kakak, almarhum Mamiek Prakoso juga merupakan pelawak dengan kelompok lawak yang melegenda, Srimulat.

Bahkan, dalam perbincangan dengan Jawa Pos, tahun lalu, Didi Kempot menyatakan bahwa karya-karyanya, yang hingga kini sudah mencapai 800 lagu lebih, dibentuk oleh keteguhan berkesenian sang bapak dan bakat warisan sang ibu. Serta banyak harinya yang dihabiskan untuk mengamen di jalanan.

Didi Kempot pun teringat nostalgia sekitar setengah abad lalu. Kala itu, Didi Kempot kecil dan Mamiek kecil diajak menemani sang ayah manggung di Taman Balekambang, Solo. Malam itu, sang ayah yang menjadi seniman ketoprak tobong memerankan Petruk, salah satu anggota Punokawan.

Baca juga:  Menjaga Nilai Pancasila di Tengah Gempuran Perkembangan Teknologi

“Saya ingat, beliau waktu itu bilang, iki bapak nggolekne duit kowe (Ini bapak mencarikan nafkah buat kamu, Red),” ujar Didi Kempot menirukan kata-kata sang ayah.

Perjalanan menjalani kerasnya kehidupan dengan berkesenian, baik saat melihat perjuangan orang tua maupun pengalaman sendiri menjadi pengamen, telah membentuk Didi Kempot menjadi seniman tangguh. Bahkan menjadi legenda.

Periode lara lapa itu, kalau diingat, cukup membuat Didi tertawa. Dengan tetap tertawa dan bahagia dalam segala keadaan, membuat Didi produktif mencipatakan karya-karya.

“Bapak itu kalau ngguyoni anak-anaknya bilang, nek arep dadi seniman ojo wedi luwe. (Kalau mau jadi seniman, jangan takut lapar, Red),” kata seniman berjuluk The Godfather of Broken Heart itu.

Baca juga:  Pebiliar Jateng Sabet Emas PON Papua, Gubernur Ganjar Ungkap Firasat Kehabisan Kaos

Pernah, saat dulu perjalanan hidup membawanya mengamen di Jakarta, Didi Kempot malah punya hobi tidur siang di pemakaman. Padahal sebenarnya pria kelahiran 31 Desember 1966 ini juga menyewa kos di kawasan Kemanggisan, Jakarta Barat.”Adem, enak, dan keramiknya anyep (dingin, Red), hehehe,” kata Didi Kempot mengutarakan alasannya memilih tidur siang di pemakaman.

Pengalamannya ngamen di jalanan, dari stasiun ke stasiun, terminal ke terminal, dan lainnya justru telah memberi banyak inspirasi bagi Lord Didi dalam menciptakan lagu-lagu yang fenomenal. Tengok saja lagu Stasiun Balapan, Terminal Tirtonadi, Tanjung Mas Ninggal Janji, dan ratusan lagu-lagu hits lainnya.

Kini, sang The Godfather of Broken Heart telah pergi untuk selama-lamanya. Namun, karya-karyanya akan selalu dikenang. Didi Kempot telah memberi warna tersendiri bagi seni tradisi di Indonesia. Karyanya unik dan tak ada bandingnya.

Baca juga:  Luncurkan New Fortuner dan New Kijang Innova

Seperti diungkapkan dosen di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta Joko S. Gombloh. Menurut Joko, melambungnya Didi Kempot dan karya-karyanya saat ini adalah buah konsistensi selama tiga dekade labih.

Karya-karya  Didi Kempot, kata Joko, lebih pas dikategorikan sebagai pop Jawa. Lagu-lagunya bertema asmara dan patah hati, namun dengan bahasa Jawa.

Bahkan, dengan memilih jalur bahasa Jawa ngoko, Didi Kempot mampu memunculkan istilah-istilah baru. Misalnya dalam karya Cintaku Sekonyong-Konyong Koder. “Kata ‘koder’ ini lahir dari imajinasi penulis dan kejeniusan senima menemukan kata itu,” papar Joko. (JPG/ria/bas)  

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya