Jangan Lupa Bahagia dalam Situasi Apapun

472

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Rangkaian perayaan malam Paskah dilaksanakan secara. Jemaat mengikuti ibadah dari rumah masing-masing. Pintu gerbang gereja Katedral Semarang tutup. Oleh satpam, siapapun tidak boleh masuk. Termasuk jemaat. Kursi-kursi di dalamnya kosong.

Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko mengajak jemaat untuk bergembira. Tidak takut, seperti firman Tuhan, dalam situasi apapun. Termasuk di tengah wabah korona. “Dibarengi sikap kehati-hatian agar terhindar dari wabah korona,” ujarnya.

Romo Rubi menyampaikan, sudah saatnya membuang rasa takut dan mengubahnya menjadi sebuah pengharapan dan keyakinan bahwa Tuhan menyertai. Tuhan akan menyelenggarakan yang terbaik untuk umatnya.

Sebagai uskup, Romo Rubi, sungguh-sungguh memperhatikan keselamatan umat dengan kebijakan tidak boleh mengadakan pertemuan yang melibatkan banyak orang. “Bahkan saya tega-tegakan untuk tidak memperkenankan romo dan prodiakon keliling untuk menerimakan komuni kepada umat. Meski seberapa rindunya umat untuk menyambut Yesus Kristus. ini sebagai bentuk kehati-hatian kami untuk terhindar dari wabah virus korona,” tambahnya.

Klaudia Molasiarani, warga Semarang, harus menyimak khotbah Keuskupan Agung Semarang dari tanah rantau. Pada perayaan paskah tahun ini, ia tidak pulang kampung untuk menghindari penyebaran virus korona. Klaudia mengikuti serangkaian ibadah di kosan-nya, Jakarta.

Klaudia merapikan kos dan menatanya sebaik mungkin. Selayaknya di gereja. Baru setelah itu, ia menyiapkan laptop berikut link untuk mengikuti ibadah online. Tidak lupa ia siapkan speaker untuk mendapat suara yang bagus. ”Saya juga siapkan alat ibadah, seperti salib, lilin, buku panduan ibadah. Baru kemudian mengikuti misa online,” ujarnya melalui sambungan telepon.

Tidak hanya tempat ibadah, ia juga berpakaian sebagaimana ketika ia beribadah di gereja. Yang membedakan, ia beribadah seorang diri. Di kamar. Dan itu yang membuatnya sedih. ”Sebab saya tidak bisa mengikuti perjamuan Kudus. Padahal itu yang paling dirindukan. Kemudian berkumpul dengan saudara seiman untuk merayakan ekaristi bersama,” bebernya.

Hal sama dirasakan Maria Diva. Misa online tidak mampu membawanya merasakan ibadah seperti layaknya di gereja. ”Tidak fokus. Tidak bisa menyatu. Ketika di gereja, saya bisa mendengarkan khotbah Romo dengan lebih baik,” ujarnya mencari tekan pengalaman menjalani ibadah online.

”Lebih adem ketika dilaksanakan di gereja. Bisa lebih fokus berdoa,” timpalnya.

Di rumah, perempuan asal Banyumanik ini mengikuti misa melalui siaran televisi. Ia hanya bersama keluarganya. ”Dulu pernah sekali melalui HP, tapi sekali aja. Habis itu seterusnya lewat TV,” ujarnya.

Aturan peniadaan ibadah dan pembinaan umat di gereja Katolik diperpanjang hingga 30 April mendatang. Ini dilakukan untuk melindungi umat dan masyarakat dari penyebaran virus korona.

Dengan aturan ini maka misa mingguan, misa ujud, baik di gereja, kapel maupun lingkungan ditiadakan. Termasuk rangkaian perayaan pekan suci yang dirayakan untuk mengenang peristiwa hidupnya kembali Yesus Kristus dilaksanakan di rumah masing-masing.

Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja Kristen di Semarang, Pendeta Sediyoko mengatakan, segenap umat nasrani di Semarang sepakat merayakan rangkaian ibadah Paskah di rumah masing-masing. Sejak 16 Maret lalu, gereja-gereja di Semarang sudah melaksanakan ibadah online. ”Meski dilaksanakan secara online, tidak mengurangi esensi ibadah kami,” ujarnya.

Pada situasi seperti saat ini, umat Kristiani merayakan Paskah dalam suasana duka dan penuh pergumulan. Ia katakan, umat manusia menyaksikan begitu banyak orang berjuang di ambang batas kehidupan dan kematian, akibat pandemi Covid-19.

”Sekali lagi umat disapa oleh berita Paskah yang menjadi pusat iman, yaitu Kristus telah bangkit mengalahkan kematian. Paskah merupakan peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian-Nya. Artinya, kehadiran Kristus yang bangkit memberikan perasaan damai sejahtera. Bukan menimbulkan perasaan takut,” ujarnya memaparkan. (sga/ida/bas)

Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko mengawali perayaan Hari Paskah dengan ritual penyalaan lilin dengan madamkan lampu gereja, Sabtu malam (11/4/2020). (Nur Chamim/Jawa Pos Radar Semarang)




Tinggalkan Balasan