Asyiknya Belajar Badut Jedut dengan Kertas Lipat

189
Oleh:Rahayu Susilowati, S.Si
Oleh:
Rahayu Susilowati, S.Si

RADARSEMARANG.ID, MUNGKIN hanya sebagian kecil dari peserta didik yang antusias untuk belajar matematika. Apalagi kalau pembelajarannya harus menggunakan alat bantu berupa busur dan jangka. Padahal kedua alat tersebut akan sangat membantu dalam proses pemahaman materi yang berkaitan dengan sudut. Mengapa hanya membantu? Karena menyelesaikan soal-soal matematika yang berkenaan dengan materi sudut pada pelaksanaan ujian, kita hanya memerlukan teknik penyelesaian masalah tanpa harus menggambar besar sudut tersebut.

Pelajaran matematika yang disampaikan dengan model pembelajaran yang monoton pasti akan membuat kejenuhan, sehingga peserta didik kurang memperhatikan dan tidak aktif dalam proses pembelajaran. Hal ini berakibat pada pencapaian hasil belajar peserta didik yang kurang memuaskan. Untuk mengatasi hal tersebut, maka diperlukan pembelajaran yang membuat penasaran peserta didik, membangkitkan keingintahuan peserta didik tentang hubungan materi, alat dan media yang dipakai dalam proses pembelajaran. Menurut Daryanto dalam Aprianingsih (2013:13) media adalah alat yang membantu proses belajar mengajar yang berfungsi untuk memperjelas makna pesan yang disampaikan, sehingga tujuan pengajaran dapat disampaikan dengan lebih baik dan lebih sempurna.

Pembelajaran matematika materi sudut di kelas VIIC SMP Negeri 2 Sukorejo Kendal, peserta didik tidak hanya menggunakan alat bantu busur dan jangka, tetapi juga menggunakan kertas lipat, gunting dan perekat. Dengan media kertas lipat ini, guru melalui langkah-langkah dalam Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) akan menggiring peserta didik memahami jenis sudut (jedut) dan hubungan antar sudut (badut). Melakukan pengukuran sudut dengan alat busur pada kertas lipat beraneka warna yang telah dibentuk menjadi lingkaran dengan bantuan alat jangka, peserta didik akan terhanyut dalam keseruan membuat juring lingkaran dengan sudut tertentu yang akan dipotong dan ditempel sesuai instruksi. Bila langkah demi langkah itu dilakukan dengan sungguh-sungguh maka secara tidak langsung peserta didik telah belajar memahami jedut dan badut tanpa merasa terbebani untuk menguasai materi sudut.

Hasil belajar dari proses pembelajaran ini, peserta didik dapat menguasai jedut berikut: (1) lingkaran adalah bidang dengan sudut 360° atau sudut satu putaran, (2) bagian lingkaran yang telah dipotong menjadi dua sama besar adalah bidang dengan sudut 180° atau sudut lurus, (3) bagian lingkaran yang telah dipotong menjadi empat sama besar adalah bidang dengan sudut 90° atau sudut siku-siku, (4) bagian lingkaran dengan sudut lebih dari 180° dan kurang dari 360° terbentuk sudut reflek, (5) bagian lingkaran dengan sudut lebih dari 90° dan kurang dari 180° terbentuk sudut tumpul, (6) bagian lingkaran dengan sudut kurang dari 90° terbentuk sudut lancip.

Sedangkan hubungan antar sudut (badut) antara lain: sudut berpenyiku, sudut berpelurus, sudut bertolakbelakang, sudut sehadap, sudut dalam berseberangan, sudut luar berseberangan, sudut dalam sepihak, sudut luar sepihak, sudut dalam segitiga, dan sudut luar segitiga. Peserta didik tidak hanya mengenal badut tetapi juga besar sudut akibat dari hubungan tersebut, bahkan dapat menemukan sendiri rumus untuk mendapatkan besaran tersebut.

Dengan demikian peserta didik dapat menyelesaikan permasalahan matematika materi sudut dengan teknik penyelesaian masalah tanpa harus menggambar besar sudut yang dimaksud dalam soal. Pembelajaran secara langsung ini lebih berkesan dan lebih bermakna, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan hasil yang memuaskan. (ikd2/zal)

Guru Matematika SMPN 2 Sukorejo Kabupaten Kendal.





Tinggalkan Balasan