Musim Kemarau Jateng Diprediksi Bulan Mei

Kondisi kekeringan sawah di Desa Brangsong Kendal akibat kemarau tahun lalu. (Dewi Akmalah/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Musim penghujan segera berakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Semarang memprediksi seluruh Jateng pada umumnya akan memasuki musim kemarau pada bulan Mei mendatang.

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Semarang Tuban Wiyoso menuturkan, meski umumnya terjadi bulan Mei, namun sebagian wilayah Jateng seperti Demak, Jepara, Kudus, Wonogiri, sebagian wilayah Pati dan Karanganyar, sebagian wilayah selatan Purworejo serta sebagian kecil Kebumen dan Grobogan akan memulai lebih awal. Yakni pada akhir bulan April atau pada dasarian ketiga.

Sedangkan untuk wilayah pegunungan atau dataran tinggi seperti Kabupaten Semarang, Cilacap, Banjarnegara, Wonosobo, Purbalingga, Kebumen, Salatiga bagian utara, wilayah tenggara Brebes, sebagian kecil wilayah utara Banyumas dan Purworejo, serta sebagian wilayah timur Temanggung dan sebagian kecil Kendal akan memasuki musim kemarau paling lambat. Yakni pada awal Juni atau pada dasarian pertama.

“Untuk perbandingan waktu terjadi dengan kemarau tahun hampir sama. Paling hanya telat 1 dasarian atau 10 hari,” ujarnya.

Pihaknya menambahkan untuk Kota Semarang sendiri akan memasuki musim kemarau pada dasarian kedua bulan Mei. Selain itu, ia juga memprediksi sebagian wilayah seperti Pemalang, Pekalongan, Purbalingga, Banjarnegara, Brebes, Tegal, Banyumas dan Wonosobo akan mengalami musim kemarau dengan waktu tersingkat. Yakni kurang lebih 4 bulan. Sedangkan wilayah pantai seperti Rembang dan Pati akan mengalami musim kemarau terpanjang yakni selama 7 bulan. “Kalau puncaknya hampir menyeluruh di semua daerah saat bulan Agustus mendatang,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Semarang Iis Widya Harmoko menuturkan musim kemarau tahun ini tidak akan sepanas seperti tahun sebelumnya. Pasalnya faktor penghambat dan pemicu hujan dalam posisi seimbang. Sehingga sifat hujan yang akan terjadi pada kemarau akan berjalan normal. “Ini beda dari tahun sebelumnya dimana faktor penghambat hujan lebih dominan. Jadi panasnya maksimal,” ujarnya.

Meski begitu, pihaknya tetap mengimbau masyarakat untuk waspada. Terutama pada cuaca ekstrim yang terjadi saat masa pancaroba. Seperti hujan dan angin kencang yang didahului dengan hujan es dan angin puting beliung. “Tak lupa juga bencana kekeringan. Terutama di wilayah yang lebih dulu terjadi musim kemarau dan mendapat intensitas yang lebih panjang,” pungkasnya. (akm/ida)





Tinggalkan Balasan