Takut Terpapar Korona, Warga Serbu Pemeriksaan Gratis

Petugas Dinas Kesehatan (Dinkes) Kendal melakukan penyemprotan cairan disinfektan di ruang kerja Bupati Kendal Mirna Annisa. (Budi Setyawan/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Wabah Covid-19 membuat warga menjadi lebih waspada. Mereka tak mau berisiko terpapar virus yang telah menewaskan tiga warga Jateng ini. Karena itu, begitu dibuka pemeriksaan gratis Covid-19 di RSUD Tugurejo Semarang, tak sedikit warga yang memanfaatkannya untuk memeriksakan diri.

Dalam sehari kemarin (18/3/2020), tercatat 73 warga yang melakukan pemeriksaan gratis Covid-19 ini. Dari jumlah tersebut, 52 orang di antaranya masuk kategori Tidak Memenuhi Syarat Dasar (TMSD) atau tidak mengalami gejala demam, batuk, sakit tenggorokan dan sesak napas. Sementara 21 orang lainnya masuk dalam kategori Orang Dalam Pemantauan (ODP). Di antara warga itu, ada sejumlah mahasiswa yang baru pulang dari perjalanan ke Malaysia.

“Yang masuk dalam ODP mengalami demam 38 derajat Celsius. Beberapa juga memiliki riwayat dari kota yang ada pandeminya,” jelas Wakil Direktur Pelayanan RSUD Tugurejo Semarang Prihatin Imam Nugroho kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dikatakan, semua warga bisa memanfaatkan fasilitas ini. Syaratnya, hanya menunjukkan kartu identitas diri.  Usai pendaftaran, warga melakukan assement untuk memastikan apakah masuk kategori orang sehat, Orang Dalam Pemantauan, maupun Pasien Dalam Pengawasan. Layanan ini dibuka mulai kemarin hingga 24 Maret mendatang pukul 09.00-12.00 di Ruang Kenanga. “Semua gratis, bahkan warga yang hadir diberi edukasi tentang Covid-19 dan diberikan sabun serta tisu basah,” katanya.

Menurut keterangan salah satu tim medis Retno, beberapa di antara warga yang memeriksakan diri dikarenakan mengalami ketakutan dengan virus ini. Sehingga begitu mengalami batuk atau bersin, langsung memeriksakan diri. “Saking ‘parnonya’ kebanyakan yang datang tidak memiliki gejala serius, hanya batuk atau demam saja. Itu sebagai sikap waspada jika terpapar virus menular ini,” ujarnya di sela melakukan pemeriksaan.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan, warga tidak perlu takut memeriksakan diri. Sebab semakin cepat mengetahui kepastian terpapar atau tidak akan semakin baik. Jika memang dokter menyatakan suspect korona, maka akan dikirim ke RS rujukan dan masuk dalam kategori pasien dalam pengawasan atau PDP. “Tapi kalau ternyata flu demam biasa ya pulang,” katanya.

Dikatakan, ada tujuh rumah sakit milik Pemprov Jateng yang menyediakan fasilitas pemeriksaan (screening) kesehatan gratis ini.  Yakni RSUD Dr Moewardi Surakarta, RSUD Dr Margono Soekarjo Purwokerto, RSUD Kelet Jepara, RSJD Surakarta, RSJD Dr Amino Gondohutomo Semarang, RSJD Dr RM Soedjarwadi Klaten, dan RSUD Tugurejo Semarang.

Sementara itu, pasien positif Covid-19 di Jateng yang meninggal kembali bertambah. Pasien tersebut meninggal Rabu (18/3/2020) petang setelah dirawat selama dua hari di RS Moewardi Surakarta.

Ganjar menjelaskan, pasien tersebut berjenis kelamin perempuan berusia 49 tahun. Sebelum meninggal dilihat dari hasil tracking Pemprov Jateng, dia mengikuti seminar di Bogor.  “Pasien ini memiliki riwayat perjalanan yang sama dengan pasien positif Covid-19 meninggal kasus pertama di Jateng yang dirawat di RS Moewardi Surakarta,” jelas Ganjar.

Sampai saat ini, pasien positif Covid-19 di Jateng yang memiliki riwayat perjalanan di Bogor untuk mengikuti seminar berjumlah empat orang, dua pasien di antaranya meninggal.  “Kami terus tracking di sana (Bogor) untuk mencari data seluruh peserta seminar dan sampai sekarang masih diusahakan oleh panitia. Saya juga menghubungi Gubernur Jawa Barat untuk menyikapi ini,” katanya.

Dengan tambahan tersebut, Ganjar mengatakan total pasien positif Covid-19 di Jateng yang meninggal berjumlah tiga orang. Dua pasien meninggal di RS Moewardi Surakarta dan satu pasien dirawat di RSUP Dr Kariadi Semarang.  Hingga saat ini,  di Jateng terdapat 1005 Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan 68 Pasien Dalam Pemantauan (PDP). Dari jumlah itu, 24 di antaranya telah pulang dalam kondisi sehat dan dua orang meninggal bukan karena virus Covid-19. Sedangkan yang positif Covid-19 sebanyak sembilan orang, enam di antaranya dirawat intensif dan tiga meninggal.

Sementara itu, untuk mengantisipasi penyebaran virus korona, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kendal melakukan penyemprotan cairan disinfektan di tiga tempat, yakni kompleks kantor Sekretariat Daerah (Setda), Masjid Agung Kendal dan Gereja Katolik Santo Antonius Padua.  Tiga tempat tersebut menjadi sasaran karena banyak aktivitas warga, baik sebagai tempat pelayanan umum, maupun jamaah yang melakukan ibadah. Termasuk di ruang kerja Bupati Kendal Mirna Annisa. Penyemprotan tiga tempat tersebut dilakukan dengan menerjunkan enam petugas. Mereka menggunakan pakaian safety dengan berkeliling dari satu ruangan ke ruangan lainnya.

“Penyemprotan cairan disinfektan itu kami lakukan atas perintah Bupati Kendal Mirna Annisa. Penyemprotan akan terus kami lakukan ke kantor pemerintahan lainnya. Termasuk di kantor-kantor OPD, terutama kantor  pelayanan publik,” kata Kepala Bidang (Kabid) Pemberantasan dan Penanggulangan Penyakit Dinkes Kendal Muntoha kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Diakuinya, di Kendal saat ini belum ada satupun orang yang dinyatakan positif korona. Namun jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19 bertambah. Yakni, dari sebelumnya dua orang (warga Kaliwungu dan Boja), kini bertambah seorang warga Weleri.

“Satu warga Weleri tersebut mengalami gejala seperti terjangkit virus korona setelah melakukan perjalanan dari Tiongkok. Jadi, sudah ada tiga warga yang berstatus PDP. Tapi, semuanya belum dinyatakan positif,” ujar Muntoha.

Tiga warga PDP tersebut saat ini menjalani perawatan di ruang isolasi RSUD dr Soewondo Kendal. Pihak Dinkes maupun RSUD masih menunggu hasil swab tenggorokan dari Laboratorium Litbangkes Jogjakarta. “Dari Jawa Tengah semua dikirim ke Jogja, jadi kami masih menunggu hasilnya,” katanya. (ifa/sga/bud/aro)

Tinggalkan Balasan