Ada Ribuan Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan di Jateng.

291

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Jawa Tengah darurat kekerasan terhadap perempuan. Berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jawa Tengah tercatat 1.219 perempuan yang menjadi korban kekerasan. Berbeda lagi dengan data Legal Recources Center untuk Keadilan Gender dan Hak Asasi Manusia (LRC-KJHAM), mencatat di Jawa Tengah sejak tahun 2016-2018 ada 1.021 kasus kekerasan terhadap perempuan dengan jumlah korbannya 1.886. Kemudian 1.408 perempuan menjadi korban kekerasan seksual.

Kabid Kualitas Hidup dan Perlindungan Perempuan DP3AP2KB Jateng Sri Dewi Indrajati, masih terjadinya kasus kekerasan terhadap perempuan tersebut menunjukan bahwa adanya ratifikasi konvensi CEDAW, Undang-Undang 23/2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, Undang-Undang 21/2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang, yang belum terimplementasi secara maksimal.

“Maka dari itu, dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak supaya regulasi yang ada bisa berjalan baik,” kata Sri Dewi Indrajati, disela-sela Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP) bertema ‘Gerak Bersama untuk Mewujudkan Keadilan Bagi Perempuan’.

Kampanye tersebut dikonsep dengan acara Fun Run dan Penandatanganan Dukungan untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan. Acara tersebut juga diikuti beberapa jejaring yang konsen masalah perempuan, mulai dari pemerintah, NGO, komunitas perempuan, hingga organisasi keagamaan perempuan.

Disebutkannya, kampanye 16 HAKTP atau 16 Days of Activism Against Gender Violence ini merupakan kampanye internasional untuk mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia. Kampanye 16 HAKTP dilakukan setiap tahun mulai 25 November hingga 10 Desember–hari HAM Internasional.

“Sengaja dipilih rentang waktu tersebut, dalam rangka menghubungkan secara simbolik antara kekerasan terhadap perempuan dan HAM. Sekaligus menekankan bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan salah satu bentuk pelanggaran HAM,” jelasnya.

Sementara itu, Koordinator Divisi Informasi dan Dukumentasi LRC-KJHAM, Citra Ayu K, menyebutkan korban kekerasan masih mengalami hambatan dalam mengakses keadilan. Dikatakannya, banyak perempuan korban kekerasan seksual yang mengalami kriminalisasi, yang akhirnya harus dinikahkan dengan pelaku.

“Apalagi kuatnya stigma masyarakat terhadap perempuan korban yang tidak mendukung justru menyalahkan korban. Padahal kalau diasumsikan, dalam satu hari ada 1 sampai 2 perempuan menjadi korban kekerasan,” kata Citra Ayu, dalam rilisnya kepada RADARSEMARANG.ID, Selasa (10/12/2019)..

Disebutkannya, data LRC-KJHAM pada Oktober hingga Juni 2019, tercatat 79 kasus kekerasan terhadap perempuan. Mirisnya 61 perempuan diantaranya menjadi korban kekerasan seksual. Menurutnya, perempuan korban kekerasan masih mengalami hambatan dalam mengakses keadilan terutama perempuan korban kekerasan seksual. Melalui kampanye itu, pihaknya berharap kepada masyarakat ini dapat mencegah terjadinyanya kekerasan terhadap perempuan dan perempuan dapat terlindungi serta bermartabat sesuai haknya.

“Acara ini sekaligus sebagai bentuk pendidikan publik berupa penyampaian informasi kepada masyarakat tentang 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan termasuk di dalamnya bentuk dan jenis kekerasan terhadap perempuan,” sebutnya. (jks/ap)