alexametrics

Pembunuh Bidan dan Anak Menangis di Persidangan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Terdakwa pembunuh bidan yang dibuang di Jembatan Tol Ungaran, Donny Christiawan Eko Wahyudi mengaku menyesal. Bahkan ia menangis saat menjalani sidang pemeriksaan, di Pengadilan Negeri Semarang melalui online Rabu (10/8).

Ia menyampaikan rasa sesal telah membunuh kekasihnya dan tega membuang jenazah korban Sweetha Kusuma Gatra beserta anaknya, Faezya di jembatan Tol Ungaran. “Saya sangat menyesal, Yang Mulia,” kata dia sambil menangis.

Terdakwa Donny dicecar majelis hakim mengenai kronologi pembunuhan dan pembuangan korban. Donny lantas menjelaskan, ketika itu ia janjian dengan korban Sweetha di Semarang. Ia meminta Sweetha membawa tas dan sarung yang direncanakan untuk membunuh. “Apakah di benak pikiran saudara sudah mau menghabisi korban, kok menyuruh korban membawa sarung?” tanya majelis hakim. “Iya, karena takut kalau dia menanyakan anaknya terus,” kata Donny masih terus menangis.

Baca juga:  Tersangka Dugaan Korupsi Bank BPR Salatiga Bertambah Dua Orang

Sesampainya di hotel, lanjut terdakwa, korban terus menanyakan anaknya Faeyza yang dititipkan pada terdakwa. Karena tidak bisa menjawab, akhirnya ia mencekik korban sebanyak dua kali hingga meninggal. Korban kemudian dibungkus menggunakan sarung, lalu pada pukul 02.30 ia memasukkan korban ke dalam mobil. “Sebelumnya melakukan hubungan intim dua kali. Saya menyesal, Yang Mulia,” jawabnya.

Terkait pembuangan korban di Jembatan Tol Ungaran, terdakwa mengatakan agar jenazah bisa bersama anaknya, Faeyza yang telah lebih dulu ia buang di sana. “Saya membuang di tempat yang sama, biar bersama dengan anaknya,” kata dia.

Adapun dompet, tas, dan baju korban ia bawa semua. Sementara, uang Sweetha sudah dipakai untuk bayar check in hotel.

Baca juga:  Selundupkan Sabu ke Lapas dengan Batu Baterai

Sementara pada korban Faeyza, terdakwa tidak membunuh. Korban meninggal karena memiliki sakit lambung. Namun, selama bersama korban, terdakwa Donny mengakui pernah menganiayanya. Hal tersebut dilakukan karena ia jengkel, korban sering kencing sembarangan meski mengetahui jika korban tidak normal. Akibat pukulan itu menyebabkan korban sakit hingga harus dioperasi. “Gara-gara itu, saya sering bertengkar dengan istri, karena jengkel. Kemudian saya pukul alat kelamin, kaki, dan tangan menggunakan tangan kosong,” ujarnya.

Mendengar jawaban itu, memancing majelis hakim melontarkan pertanyaan. Hakim bertanya, jika sudah tidak sanggup merawat mengapa tidak dikembalikan kepada ibunya? Terdakwa mengaku belum bisa mengantarkan korban karena ibunya sibuk bekerja.

Setelah korban Fayza meninggal, terdakwa berencana mengantarkan ke Yogyakarta. Dalam perjalanan, niatnya buyar hingga akhirnya ia berbalik dan membuang jenazah di Jembatan Tol Ungaran. “Saya cium kemudian saya buang sekitar pukul 02.30. Setelah itu saya langsung ke Yogyakarta mau ketemu Sweetha, niatnya mau ngomong hal ini, tapi tidak berani,” ungkapnya.

Baca juga:  Asrama BPSDMD Jateng Jadi Tempat Isolasi Terpusat

Dalam sidang tersebut, jaksa penuntut umum menghadirkan dua saksi yang merupakan pegawai hotel. Dari keterangan saksi, tidak ada yang mengetahui kejadian nahas 6 Maret 2022 tersebut. Pada hari itu, CCTV juga mati sehingga tidak dapat mengetahuinya. (ifa/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya