alexametrics

Lima Bulan, BNN Jateng Tangkap 150 Pelaku Narkoba

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Kasus narkoba di Jawa Tengah terus meningkat. Hingga Mei tahun ini atau selama lima bulan, BNNP Jawa Tengah telah menangkap 150 pelaku penyalahgunaan narkoba.

Kepala BNN Jateng Brigjen Pol Purwo Cahyoko mengatakan, tren peningkatan kasus narkoba masih terjadi pada 2022 ini. Berdasarkan hasil penindakan BNN Jateng selama 2020 ditemukan 2.708 kasus. Jumlahnya naik menjadi 2.800 kasus pada 2021.

“Sedangkan selama bulan Januari sampai Mei 2022, telah ditemukan lebih dari 400 kasus narkoba. Grafik kasusnya naik terus. Tahun 2020, kita menangkap 900 pelaku, tahun 2021 kurang lebih 987 pelaku, dan tahun ini sudah 150 pelaku,” bebernya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (27/6).

Menurutnya, pengungkapan di wilayah Kota Semarang paling banyak pelaku yang terlibat. Khususnya, peredaran narkoba jenis ganja, sabu, dan pil ekstasi. “Sisanya, narkoba turunannya, seperti tembakau gorila dan sejenisnya. Jelas temuan yang ada sekarang sangat mengkhawatirkan. Makanya kita semakin meningkatkan razia,” katanya.

Baca juga:  Pria di Semarang Ditemukan Tewas Bersimbah Darah, Diduga Korban Pembunuhan

Dikatakan, peredaran narkoba, terutama ganja saat ini tidak pandang bulu. Semua lapisan masyarakat banyak yang terjerat. Hasil penyelidikan BNN mendapati fakta bahwa terdapat pelajar SMA dan mahasiswa yang terjerumus mengonsumsi ganja karena efek pertemanan. “Kebanyakan pemakainya di atas usia 21 tahun. Tapi, banyak juga yang usia 16 sampai 17 tahun. Memang penggunanya dari kalangan remaja dan pekerja,” jelasnya.

Diakui, banyak temuan pelajar SMA dan mahasiswa yang mengonsumsi ganja untuk mendapatkan teman baru. Biasanya, awalnya coba-coba dari pergaulannya, dan kemudian ada dorongan dari teman-temannya.

Nah, karena kepengin masuk ke kelompok geng sekolahnya, dia lalu ikutan pakai. Jadi, kalau pelajar itu biasanya efek rokok, miras, dan larinya mencoba obat. Persentase pelajar dan mahasiswa yang terlibat penggunaan narkoba sekitar 35 persen,” bebernya.

Baca juga:  Pakai Nama Samaran, Begini Modus Pemuda Asal Garut yang Tipu 10 Janda

Selain pelajar dan mahasiswa, kasus narkoba yang menjerat para pekerja saat ini jumlahnya hampir 60 persen. Menurutnya, para pekerja yang memakai narkoba dengan alasan untuk menambah stamina. Padahal di sisi lain, narkoba justru merusak sistem syaraf, organ tubuh, bahkan bisa menimbulkan kematian.

Ya, kalau pekerja pakai narkoba seringnya buat penambah kekuatan. Karena sifatnya narkoba itu sebagai halusinasi, depresan, dan stimulan. Contohnya, kayak sopir yang perlu melek biar gak tidur, maka dibutuhkan efek stimulan,” katanya.

Selain itu, kata dia, pekerja di atas 8 jam atau 24 jam, ada juga yang menggunakan narkoba. Misalnya, di sektor konstruksi dan pelabuhan. Ini disebabkan narkoba sudah melibatkan semua lapisan masyarakat. Baik orang miskin, orang kaya, anak-anak, sampai mahasiswa.

Baca juga:  Kirim Tugas lewat WA Hari ini, Baru Dibalas Besok

Di sisi lain, BNNP Jateng sekarang ini melibatkan para milenial untuk melacak peredaran narkoba sampai ke sudut kampung, desa, maupun kelurahan. Kaum milenial ini  diberi peran untuk melakukan pendekatan dan pencegahan

“Mereka kita beri tugas untuk menyembuhkan dengan metode khusus rehabilitasi. Minimal kalau yang pengguna stadium ringan dan sedang bisa dideteksi dan disembuhkan dengan cepat. Kita sudah latih mereka bagaimana caranya menyembuhkan pengguna ganja,” ujarnya.  (mha/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya