alexametrics

Dua Bulan Tak Ditangani, Wadul Propam Polda Jateng

Dugaan Bocah Kelas 6 SD Dijual Jadi PSK

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Supriyono, warga Semarang Barat merasa sedikit lega. Sebab, pelaporan terkait dugaan prostitusi yang menimpa putrinya, S, 14, kembali mendapat respon penyidik Polrestabes Semarang. Padahal pelaporan tersebut telah berlangsung sejak dua bulan lalu, Jumat (28/1).

“Hari ini (Minggu), saya baru pulang rumah dari Polrestabes Semarang. Tadi diundang Polda Jateng terus didampingi ke Polrestabes Semarang. Saya cerita apa adanya. Lama tadi, saya dimintai keterangan, di BAP,” ungkap Supriyono kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (6/3).

Supriyono melaporkan dugaan prostitusi anak di bawah umur  dengan pelaku berinisial DON dan NFS. Dua orang tersebut diduga yang mengajak dan mempekerjakan S sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK). S ditawarkan lewat aplikasi MiChat dengan tarif Rp 500 ribu sekali kencan.

Baca juga:  Dipicu Saling Teriak, Dua Kelompok Remaja di Semarang Utara Terlibat Tawuran

Dia mengatakan, pelaporan terhadap dua orang tersebut dilakukan di SPKT Polrestabes Semarang pada Jumat (28/1) silam. Sedangkan dugaan praktik prostitusi online ini diungkap sehari sebelumnya, Kamis (27/1) malam. Menurut dia, pelaporan yang telah berlangsung kurang lebih dua bulan ini, baru mendapat tindaklanjut dari Polrestabes Semarang.

“Sejak pelaporan, sampai dua bulan, tidak ada pemanggilan sama sekali. Baru kali ini saya dipanggil. Kalau tadi (Minggu), penyampaian dari penyidik, intinya kasusnya dilanjut. Kasusnya tetap ditangani Polrestabes, tapi yang ngawal Polda Jateng,” bebernya.

Diakuinya, ia sempat mengadu pelaporan hal ini ke Bidpropam Polda Jateng melalui aplikasi, Jumat (4/3) lalu. Alasannya, kurang lebih selama dua bulan belum ada tindaklanjut dari Polrestabes Semarang pasca pelaporan.

Baca juga:  Densus 88 Tembak Mati Terduga Teroris di Sukoharjo

“Saya ke Propam, petugas Propam Polda kemudian meminta saya untuk menanyakan kasusnya sudah dilimpahkan ke PPA apa belum? Kalau belum, nanti lapor ke saya (Propam), nanti saya tindaklanjuti,” katanya menirukan ucapan petugas.

Menurutnya, upaya yang dilakukan ini semata-mata untuk mendapatkan keadilan. Sebab, anaknya telah dijerumuskan ke lembah hitam oleh dua terlapor. Ironisnya, S yang masih bocah, dijual kepada para lelaki hidung belang.

“Padahal saat di Polrestabes itu, dia (terlapor) mengakui. Tapi yang saya herankan, kenapa malam (Kamis) ditahan, tapi Jumat dilepaskan tanpa koordinasi dengan saya? Makanya saya kecewa. Dua orang itu tidak ada itikad baik,” bebernya.

Aktivis anak Semarang Tsaniatus Solihah menyebut, seharusnya korban mendapatkan pendampingan psikologi dari awal saat di kantor polisi. Pihaknya juga menyarankan seharusnya ketika melakukan penggerebekan terhadap anak di bawah umur langsung berkoordinasi dengan Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Semarang.

Baca juga:  Produk UMKM Masuk Toko Modern

“Sehingga Unit PPA tahu dan dapat melakukan pendampingan terhadap anak yang berkonflik dengan hukum,” kata Direktur Pendidikan Yayasan Anantaka ini. (mha/aro) 

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya