alexametrics

Taruna Politeknik Pelayaran Semarang yang Aniaya Juniornya hingga Tewas Terancam 12 Tahun Penjara

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Lima terdakwa penganiaya taruna Politeknik  Pelayaran di Semarang menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Rabu (19/1).

Dalam sidang agenda pembacaan dakwaan ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kota Semarang Niam Firdaus menjatuhkan dua dakwaan pada lima terdakwa Caesar Richardo Bintang Samudra Tampubolon, Aris Riyanto, Albert Jonathan Ompusungu, Budi Darmawan, dan Andre Asprila Arief. “Perbuatan terdakwa diatur dan diancam pidana sesuai dengan Pasal 170 Ayat (2) ke-3 KUHP,” ujarnya.

Dakwaan tersebut berisi tentang barang siapa dengan terang-terangan dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap orang atau barang, jika kekerasan mengakibatkan maut diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. Kedua, para terdakwa didakwa melakukan penganiayaan terhadap belasan taruna junior yang datang ke Mes Indoraya tersebut.

Baca juga:  Mantan Wali Kota Semarang Menangkan Gugatan Atas Dugaan Penyerobotan Lahan

Jaksa Niam membeberkan, pembinaan fisik terhadap para korban tidak hanya berupa pukulan. Namun juga tendangan ke arah perut yang mengakibatkan rasa sakit. Atas perbuatannya, para terdakwa dijerat dengan Pasal 170 KUHP tentang penganiayaan dan diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.

Atas dakwaan tersebut, terdakwa Caesar Richardo B, Albert Jonathan, dan Budi Darmawan mengajukan eksepsi yang akan disampaikan pada sidang selanjutnya.

Jaksa Niam menjelaskan, kejadian bermula pada Senin (6/9) pukul 22.00. Para terdakwa bersama belasan taruna berkumpul di Mes Indoraya. Terdakwa Aris memberikan briefing atau arahan kepada taruna angkatan 55 termasuk korban, Zidan Muhammad Faza terkait hasil dari magang yang telah dilakukan.

Baca juga:  Sembilan Napi Asimilasi Berulah Lagi

Setelah itu, terdakwa memerintahkan untuk berdiri berjajar membentuk huruf U. Hal ini dilakukan untuk melakukan tradisi pembinaan fisik yang dilakukan oleh senior kepada juniornya.

Tradisi pembinaan fisik ini berujung pada pemukulan yang dilakukan secara bergantian. Fatalnya, korban Zidan Muhammad Faza jatuh tersungkur ke lantai. Korban kemudian dibawa ke RS Roemani untuk mendapatkan pertolongan. Namun, tidak lama kemudian pihak rumah sakit memberitahu jika korban Zidan Muhammad Faza tidak dapat diselamatkan dan meninggal.

Berdasarkan temuan yang didapatkan dari pemeriksaan hasil visum dokter, terdapat luka akibat kekerasan benda tumpul berupa luka memar pada dada sebelah kiri bawah hingga perut sebelah kiri atas dan luka robek pada dahi kanan. (ifa/ida)

Baca juga:  Tak Terima Ditegur, Tusuk Teman hingga Tewas

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya