alexametrics

10 Siswa SMK Pelayaran di Semarang Ditangkap, Tampar Juniornya 140 Kali

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Kekerasan fisik menimpa seorang siswa SMK Pelayaran di Kota Semarang. Korban berinisial KHM, 17, asal Kota Batam yang kos di Jalan Bulustalan, Semarang Selatan.

Siswa kelas XI ini dikeroyok hingga babak belur oleh 10 kakak kelasnya. Aksi penganiayaan itu terjadi di sebuah rumah kos di Jalan Bulustalan, Semarang Selatan, Selasa (28/12/2021) sekitar pukul 19.00 lalu.

Tak terima dengan kejadian itu, keluarga korban melapor ke Polrestabes Semarang. Begitu menerima laporan, anggota Resmob Satreskrim Polrestabes Semarang langsung bergerak cepat dengan mengamankan seluruh pelaku, yang tak lain adalah senior korban.

“Pelaku yang diamankan 10 pelajar. Mereka menganiaya korban dengan cara ditampar. Jumlah tamparannya masing-masing pelaku bervariasi. Tapi dari pengakuan pelaku sampai 140 kali,” ungkap Kapolrestabes Semarang Kombespol Irwan Anwar saat gelar perkara di Mapolrestabes Semarang, Rabu (5/1/2022).

Baca juga:  Kairul Anwar Ikut Tangani Kasus Asusila Anak

Sepuluh pelaku yang diamankan adalah MTS, 17, warga Semarang Barat; RLR, 17, warga Kabupaten Demak; MIL, 18, warga Ngaliyan; RES, 17, warga Kabupaten Sukoharjo, dan MAP, 18, warga Kabupaten Semarang.

Selain itu, M, 18, warga Kabupaten Temanggung; HMF, 17, warga Kabupaten Blora; MAR, 17, warga Kabupaten Kudus; ORW, 17, warga Mijen, Kota Semarang, serta ASF, 17, warga Mangkang,  Kota Semarang. Mereka berhasil diamankan di Gedung UTC Kota Semarang, Senin (3/1/2022) lalu.

Kapolrestabes menjelaskan, aksi penganiayaan itu lantaran para pelaku tidak terima karena angkatannya yang duduk di kelas XII dianiaya oleh adik kelas atau yunior yang duduk di kelas XI.  Akibat pengeroyokan itu, korban mengalami luka memar di pipi kanan dan kiri. “Jadi, ini aksi kekerasan senior kepada junior,” tegasnya.

Baca juga:  Bermodal Airsoft Gun, Pelaku Curanmor Tembak Karyawan Alfamart

Atas perbuatannya, para pelaku akan dijerat pasal 170 ayat (1) KUHP dengan ancaman pidana penjara paling lama lima tahun. Meski demikian, pihaknya tetap membuka jalur mediasi. “Karena para pelaku masih di bawah umur dan berstatus pelajar, kami akan membuka jalur musyawarah atau mediasi,” katanya.

Kapolrestabes menambahkan, edukasi pencegahan kekerasan dalam dunia pendidikan menjadi fokus perhatian pihaknya. Ia menyebut pencegahan tidak sepenuhnya di tangan kepolisian, tapi tingkat keluarga dan sekolah merupakan benteng pertama.

Salah satu pelaku ORW mengakui, penganiayaan itu bermula dari gesekan sepele antara korban dan salah satu pelaku saat di sekolah. Pelaku tak sengaja menyenggol kaki korban yang sedang luka. Merasa kesakitan, korban lantas memukul pelaku.

Baca juga:  Pelaku Dikenal Posesif, Suami Bunuh Istri di Srinindito Semarang Diduga karena Cemburu

“Adik kelas saya (korban) tersenggol kakinya. Dia marah langsung memukuli teman saya satu angkatan,” ujar siswa kelas XII ini.

Pelaku yang tidak terima kemudian mengadu kepada rekan-rekannya. Mereka lalu memanggil korban dan mengeroyoknya. “Teman saya tidak terima lalu adik kelas saya itu dipanggil lalu dikeroyok di kos,” katanya. (mha/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya