alexametrics

Yesss! Upaya Selundupkan Sabu-Sabu ke Lapas Perempuan Digagalkan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Lagi, dugaan penyelundupan narkoba ke Lapas kembali terjadi. Kali ini, di Lapas Perempuan Kelas II B Jogjakarta. Beruntung, petugas Lapas berhasil menggagalkan penyelundupan narkotika, diduga sabu-sabu.

Dilansir dari radarjogja.id, kasus tersebut terbongkar setelah petugas ekspedisi mengantarkan paket kepada salah satu warga binaan (WB) berinisial SQ. Beberapa jam sebelumnya, SQ bersama dengan tiga WB lainnya dinyatakan positif mengandung narkotika saat dilakukan tes urine.

Kepala Lapas Perempuan Kelas II B Jogjakarta Ade Agustina menuturkan, pada Selasa (28/12) bersama Puskesmas Wonosari melaksanakan tes urine terhadap 30 WB pindahan dari luar DIJ. Hasilnya, empat orang positif mengandung narkotika jenis amphetamine dan methamphetamine.

“Keempat WB berinisal SQ, SD, MJ dan L, merupakan pindahan dari Semarang Jawa Tengah kasus narkoba dan satu pepanggaran undang-undang ITE,” kata Ade Agustina saat ditemui di Lapas Perempuan Kelas II B Jogjakarta, Kalurahan Baleharjo, Kapanewon Wonosari, Rabu (29/12).

Baca juga:  Penghuni Lapas Bulu Jalani Tes Urine, Ini Hasilnya

Hanya berselang sekitar 30 menit, usai hasil tes urine mendapati petugas ekspedisi mengantarkan paket untuk WB berinisial SQ. Kemudian kendaraan jasa ekspedisi diarahkan agar bisa diterima penjaga pintu utama. Diterima barangnya tapi ditujukan kepada warga binaan atas nama SQ.

“Sebenarnya kami tidak menerima paket apapun sejak pandemi, namun hanya beberapa yang bisa kami izinkan adalah permintaan kalau ada obat tersendiri bagi mereka atau rekomendasi dari klinik,” ujarnya.

Namun, karena hasil empat orang warga binaan positif dan paket itu memang ditujukan kepada salah satu dari empat orang tersebut. Ade berinisiatif melakukan pemeriksaan terhadap kiriman paket. Benar saja, setelah diperiksa secara teliti ditemukan empat bungkus plastik diduga berisi sabu-sabu terselip di antara barang lainnya.

Ketika dibuka, ternyata di dalamnya masih ada paket sendiri lagi dalam bentuk obat kolesterol, kemudian dengan nama yang dituju SD.

“Dari sana dibuka dengan teliti ternyata di balik brosur itu ada empat bungkus plastik kecil-kecil yang kami belum bisa memastikan jenis narkoba atau bukan,” ucapnya.

Baca juga:  Hasil Karya Napi Dipamerkan di UMKM Fair

Dari interograsi, nama warga binaan yang namanya tertera sebagai penerima mengaku tidak memesan paket. Namun pihaknya tidak percaya begitu saja dan langsung melaporkan kepada Satresnarkoba Polres Gunungkidul. “Karena hasil urine kan, menunjukkan itu (positif amphetamine dan methamphetamine),” bebernya.

Dikatakan, keempat WB sekarang terkena sanksi register F dan tengah menjalani hukuman di-strap sel. Ade mengaku dengan sanksi register F membuat WB yang diduga terlibat tidak bisa menerima hak-haknya. Seperti menggunakan fasilitas telepon.”Kami sudah lakukan evaluasi internal seperti penguatan,” ujarnya.

Sekilas tentang inisial SQ yang namanya tertera sebagai penerima paket, ternyata merupakan narapidana kasus narkotika sebagai pengguna sekaligus pengedar. Dalam perkara tersebut dipidana selama 10 tahun dan satu bulan lagi bebas.

Kasat Resnarkoba Polres Gunungkidul AKP Dwi Astuti Handayani mengaku masih melakukan penyelidikan terkait temuan empat paket diduga sabu-sabu di Lapas Perempuan Jogjakarta. WB yang diduga menjadi penerima paket juga telah diperiksa.

Baca juga:  Napi Lapas Bulu Bergilir Masak dan Keliling Bangunkan Sahur dengan Terompet

“Dalam penyelidikan. Sudah dilakukan beberapa pemeriksaan, tapi belum bisa disimpulkan,” kata Dwi Astuti Handayani.

Untuk empat bungkus plastik berisi kristal berwarna putih termasuk narkotika apa, Dwi mengaku telah memasukkannya ke labfor. Kuat dugaan empat bungkus itu adalah narkotika jenis sabu-sabu. “Itu kan, empat paket sekitar satu paket nol koma sekian daan ada yang 0,4 (gram). Tapi ini baru kami masukkan ke labfor,” ucapnya.

Sekarang kepolisian tengah memburu pengirim barang. Mengingat nama dan nomor telepon pengirim paket diduga hanyalah fiktif. Petugas akan mengorek informasi dari pihak ekspedisi pengantar barang.

“Yang jelas nama alamat pasti fiktif. Karena itu kami kerjasama dengan pihak ekspedisi, dan akan kami telusuri juga lewat CCTV untuk bisa menemukan siapa pengirimnya,” ucapnya. (radarjogja.id/isk)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya