alexametrics

Pemuda Warga Mranggen Diculik, Pelaku Minta Tebusan Rp 2,6 Juta

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Bagus Pujianto, 20, warga Mranggen, Demak diduga menjadi korban penculikan. Pelaku minta tebusan uang sebesar Rp 2,6 juta. Namun setelah uang ditransfer, pemuda yang bekerja sebagai cleaning service ini belum juga kembali ke keluarganya.

“Sampai sekarang belum ada kabarnya. Handphone adik saya juga tidak aktif,” ungkap kakak korban Rifai kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (12/12).

Dugaan penculikan ini diketahui setelah Bagus tidak ada kabarnya sejak 17 November 2021. Biasanya, Bagus pulang kerja menghubungi keluarganya untuk dijemput di Terminal Penggaron, sepulang dari tempat kerjanya di sebuah tempat karaoke di Jalan Gajahmada, Semarang.

“Biasanya pulang itu pukul 22.00. Tapi tidak ada kabar. Dia kan berangkat dan pulang kerja selalu diantar dan dijemput. Biasanya ngabari, tapi ini tidak ada kabar,” bebernya.

Pihak keluarga awalnya sudah cemas sejak tidak adanya kabar dari Bagus. Dua hari kemudian, Rifai mendatangi tempat kerja Bagus untuk menanyakan keberadaan yang bersangkutan. Namun pihak perusahaan juga tidak mengetahui.

“Pihak perusahaan menyampaikan, sehari sebelumnya juga sudah tidak berangkat kerja. Dan tidak mengetahui alasannya,” jelasnya.

Merasa khawatir terjadi sesuatu, pihak keluarga melaporkan kejadian tersebut ke Mapolsek Mranggen. Selain itu, pihak keluarga juga terus melakukan upaya pencarian, baik ke teman dekat maupun menempelkan kertas tulisan orang hilang.

Baca juga:  Tepergok Curi Motor, Dua Pemuda Babak Belur Dimassa

“Kita kroscek ke temen-temennya, ternyata juta tidak tahu semua. Akhirnya, kita laporan ke Polsek Mranggen. Kita juga ngecek lewat album kelulusan adik saya, temen-temen deketnya,” katanya.

“Ada salah satu temannya yang mengatakan kalau Bagus mau main ke tempatnya. Tapi ditunggu-tunggu tidak datang, di daerah Penggaron. Dipikirnya sibuk kerja. Temen adik saya juga menyampaikan adik saya tidak pernah ganti nomor handphone,” sambungnya.

Upaya pencarian terus dilakukan. Bahkan sudah mencari sampai ke Salatiga, Ungaran, dan ke Bandung Jawa Barat. Namun belum mendapatkan hasil sampai sekarang.

“Ke Bandung, kita awalnya dapat kabar Ada yang menyampaikan di sana. Kemudian kita kesana, tanya RT, RW di sana, tapi tidak ada yang pernah melihat orang yang dimaksud,” bebernya.

Hingga hari ke sebelas, keluarga mendapatkan telepon dari orang tak dikenal. Rupanya orang tersebut melalui pesan singkat meminta uang tebusan sebesar Rp 2,6 juta.

“Orang yang telepon minta uang itu pakai photo profile adik saya yang ada di Instagram. Tapi yang jelas itu bukan nomor adik saya. Isi chat WA, ‘Mas aku tulungi, aku ketipu. Aku kirimono duwit sakmene. Yen orak aku mati lho mas’. Terus saya telepon, tapi tidak diangkat,” jelasnya.

Baca juga:  Kronologi Pembunuhan Mayat dalam Karung di Batang, Pelaku Mengaku Sakit Hati

Adanya permintaan uang tebusan tersebut,  pihak keluarga semakin panik dan menduga Bagus diculik orang tak dikenal. Bahkan tidak hanya sekali, nomor sama dari orang tak dikenal juga sering menelepon ke keluarganya. Hingga akhirnya, pihak keluarga menelepon balik terhadap nomor asing tersebut.

“Terus divideo call. Ternyata bener-bener adik saya (Bagus). Dia dalam posisi duduk, dengan menghadap ke HP, samping kanan kirinya ada orang tapi tidak jelas. Kalau di depannya ada dua orang sedang duduk juga, posisinya menunduk. Itu kayak di ruangan banyak tas-tas. Itu malam hari,” katanya.

Video call tersebut, Rifai menyebutkan, sempat terdengar suara backsound orang perempuan. Namun tidak mengenali suara tersebut. Bahkan, Rifai juga mengatakan logat bahasa orang tak dikenal tersebut berasal luar Jawa.

“Dan ketika nomor mereka dihubungi, ternyata yang ngangkat telepon suara perempuan. Halo, dijawab Halo suara perempuan, terus dimatikan. Menurut saya, logatnya bukan orang Jawa,” jelasnya.

Setalah video call dimatikan, selang beberapa jam kemudian pihak keluarga Bagus mendapat pesan yang intinya meminta uang tebusan. Hingga akhirnya terjadi tawar-menawar, dan pihak keluarga memberikan uang kepada pelaku.

“Dari 2,6 juta, ditawar jadi Rp 2 juta, turun Rp 1,8 sampai Rp 1,5 juta. Saya juga bingung tidak Ada uang segitu. Akhirnya terkumpul uang, masih receh lalu kita tukar dan masukan ke rekening, kemudian kita transfer ke mereka atas nama A (Ardiles), rekening BCA sama dengan adik saya. Itu sampai Sabtu pukul 11.00,” bebernya.

Baca juga:  Korban Pembacokan Mbah Minto segera Disidang

Namun setelah ditransfer, sudah tidak ada kabar lagi dari Bagus maupun pelaku. Termasuk nomor handphone Bagus dan pelaku juga sudah tidak bisa dihubungi kembali.

“Setelah kesepakatan transfer 1,5 juta, itu katanya mau diantar sampai ke bus, nanti tak video kan. Saya mau jemput tapi mereka tidak mau. Kan Saya juga khawatir adik saya tidak pernah pergi jauh-jauh,” jelasnya.

Awalnya pihak keluarga juga bingung dengan mengumpulkan uang sebesar Rp 1,5 juta. Rifai dan kerabat lainnya hanya bekerja serabutan. Orang tua Bagus juga sudah tua dan tidak bekerja. Sedangkan ibunda Bagus juga sudah meninggal pada Juli lalu.

“Kita dari keluarga pas-pasan. Ya, semoga kepolisian dengan cepat menemukan adik saya,” harapnya.

Kasatreskrim Polrestabes Semarang AKBP Donny S Lumbatoruam membenarkan adanya laporan kejadian tersebut. Kasus aduan ini masih dalam penanganan dan penyelidikan.  “Masih dalam penyelidikan, HP korban dan pelaku tidak bisa dihubungi,” katanya. (mha/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya