alexametrics

Dipukul dan Ditendang, Begini Kronologi Penganiayaan yang Menewaskan Taruna Politeknik Pelayaran Semarang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Penyidik Polrestabes Semarang telah melakukan rekonstruksi terkait meninggalnya taruna sebuah politeknik pelayaran di Semarang akibat dianiaya oleh seniornya.

Korban Zidan Muhammad Faza, 21, dianiaya di mess Sumatera Jalan Wonodri, pada Senin (6/9/2021) lalu oleh lima seniornya yaitu Caesar Richardo Bintang Samudra Tombolon, 22, warga Mojosongo, Jebres, Surakarta.

Kemudian Aris Riyanto, 25, warga Dawung, Sugihan, Toroh, Kabupaten Grobogan; Andre Arsprilla Arief, 25, warga Tembiring, Bintoro, Demak; Albert Jonathan Ompu Sungu, 23,  tinggal di Mess Sumatera, Wonodri, Semarang Selatan, serta Budi Darmawan, 22, warga Wonosari, Ngaliyan, Kota Semarang.

Terlihat rekonstruksi ini dihadiri sebanyak 14 taruna junior, satu angkatan dengan korban. Korban diperankan oleh orang lain. Adegan awal, mereka berkumpul setelah diajak makan malam untuk merayakan kelulusan para tersangka yang diketahui pada Sabtu (11/9/2021) lalu, dan akan mengikuti wisuda. Mereka berkumpul di mess sekitar pukul 22.00.

Saat di salam mess, 15 taruna junior dikumpulkan, dan dibrifing dengan posisi duduk. Tidak lama kemudian, mereka disuruh berdiri berbaris berpola letter U. Selanjutnya, lima taruna senior ini melakukan pemukulan secara bergantian, yang disebut sebagai tradisi.

Baca juga:  Orang Tak Berkepentingan Dilarang Masuk Jateng

Lima belas junior berdiri berbaris. Korban di urutan ke delapan. Para tersangka tak semuanya memukul para juniornya. Ada yang hanya menyentuhnya saja. Pengamatan rekonstruksi. Tersangka Budi hanya tiga kali melakukan pemukulan kepada tiga juniornya.

Lalu tersangka Aris dan Andre melakukan pemukulan terhadap semua juniornya. Sedangkan tersangka Albert diketahui dalam rekonstruksi hanya menyentuh para korban.

Baca Juga: Polisi Ungkap Fakta Baru Kasus Penganiayaan yang Menewaskan Taruna Politeknik Pelayaran

Terakhir, tersangka Caesar mulai melakukan pemukulan dengan tangan mengepal diarahkan ke dada dan perut. Termasuk menendang para taruna junior menggunakan lutut (dengkul) di barisan pertama hingga korban.

Setelah menganiaya Zidan, Caesar melanjutkan pemukulan kepada para juniornya. Namun pada saat penganiayaan urutan ke sepuluh, Zidan tiba-tiba terjatuh ke depan hingga kepalanya membentur tanah, dan pelilipisnya mengeluarkan darah, serta tak sadarkan diri. Kemudian, korban ditolong tiga rekannya untuk berdiri, hingga akhirnya direbahkan.

Baca juga:  Dua Tanggul Jebol Penyebab Banjir Rob Semarang Belum Beres

Salah satu rekan korban sempat memberikan nafas bantuan. Namun kondisinya semakin menurun, dan belum sadar. Ketika denyut nadi ditangan dicek, juga semakin melambat.

Merasa khawatir terjadi sesuatu, kemudian korban diantar oleh dua rekannya menggunakan sepeda motor menuju Rumah Sakit Roemani untuk mendapatkan perawatan medis.

Nahas, nyawa korban tidak terselamatkan, yang diduga mengalami rusak di bagian organ vital akibat pemukulan dan tendangan.

Agus menjelaskan, mess tempat pemukulan merupakan rumah kontrakan yang ditempati para senior dan juniornya. Namun, korban tidak tinggal di mess tersebut.

“Mess yang dipakai rumah kontrakan dari tersangka maupun saksi. Mess itu terdiri atas kurang lebih 45 kamar. Kemudian mereka sama-sama tinggal. Kalau korban tinggal di luar,” imbuhnya.

Pendamping hukum para tersangka dari LBH Ratu Adil turut hadir menyaksikan rekonstruksi. Termasuk dari Kasubsi Kejaksaan Negeri Semarang Niam Firdaus.

Baca juga:  UIN Walisongo Semarang Jadi Rujukan Program MBKM

Awalnya, para saksi taruna junior merasa canggung dalam memperagakan di depan seniornya. Namun setelah mendapat arahan, kegiatan ini berlangsung lancar, dalam waktu kurang lebih dari 60 menit. Setelah menjalani proses rekonstruksi, para tersangka digiring kembali ke ruang tahanan Mapolrestabes Semarang.

Menurutnya, adanya saksi yang bungkam saat rekonstruksi akan didalami kembali saat penyidikan. Meski satu di antara saksi enggan berbicara, namun kejadian tersebut telah tergambar dalam reka ulang. “Meski bungkam sebenarnya telah tergambar di rekonstruksi,” tegasnya.

Suseno, pendamping hukum para tersangka mengaku tidak merasa keberatan rekonstruksi tersebut digelar di Polrestabes Semarang. Alasannya, untuk menghindari terjadinya kerumunan di lokasi mess.

“Kita akan mengawal sampai ke persidangan kasus ini. Ya, memang tadi ada temuan fakta baru, terkait penganiayaan yang dilakukan oleh salah satu tersangka,” katanya. (mha/mg11/mg13/aro)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya