alexametrics

Petani yang Dipenjara Gara-Gara Jual Beli Tanah Ajukan Penangguhan Penahanan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Kasus jual beli tanah yang menjerat seorang kakek, Suryadi, 63, warga Gunungpati terus bergulir. Polsek Gunungpati menyatakan Suryadi telah menjual tanah tersebut kepada orang lain dan menerima uang DP sebesar Rp 250 juta. Kini Suryadi telah mengajukan penangguhan penahanan melalui kuasa hukumnya.

“Hasil penyelidikan sampai saat ini, pelaku atau terduga ini menerima uang dari pembeli pertama sekitar Rp 30 juta. Kemudian menjual lagi dengan pihak lain, mendapat uang DP sekitar Rp 250 juta. Ditotal sekitar Rp 280 juta,” kata Kapolsek Gunungpati, AKP Yudiawan, Senin (2/8) kemarin.

Dalam kasus tersebut, ungkapnya, terduga menolak mengembalikan uang DP sebesar Rp 30 juta yang diberikan oleh Sukandar, selaku pembeli pertama. “Merasa ada kesalahpahaman sehingga tidak jadi. Yang dipikirkan pelaku ini, beliau (Sukandar) yang membatalkan perjanjian tersebut,” katanya.

Baca juga:  Kairul Anwar Ikut Tangani Kasus Asusila Anak

Sampai saat ini, kasus tersebut masih dalam penanganan penyidik Polsek Gunungpati. Begitu juga, Suryadi masih mendekam di ruang tahanan Mapolsek Mijen atas dugaan penipuan jual beli tanah setelah dilaporkan Sukandar, warga Gunungpati, yang tak lain tetangga korban.

Menanggapi tudingan penjualan tanah dan menerima uang Rp 250 juta, Yohanes Sugiwiyarno selaku kuasa hukum Suryadi menyampaikan, awalnya telah melakukan mediasi di kantor kelurahan antara kliennya dengan Sukandar. Dalam mediasi tersebut, kliennya tidak mampu membayar uang ganti rugi sebanyak lima kali, dari jumlah uang DP Rp 30 juta dari Sukandar. “Sementara pihak penjual, mampunya hanya 3 kali. Nah disitu Pak Sukandar mempersilahkan dijual, kalau bisa laku Rp 1 juta permeter. Ternyata ada yang berani membeli seharga itu,” katanya.

Baca juga:  Kajati Jateng Priyanto dapat Promosi Jabatan di Kejagung

Yohanes mengatakan, penjualan tersebut bukan berarti tidak melakukan pemberitahuan kepada Sukandar yang mempersilahkan penjualan. Menurutnya, dalam jual beli tersebut, Sukandar dinilai tidak mampu melakukan pelunasan. “Jadi jangan diputar balik. Itu fakta yang ngawur. Karena Sukandar sendiri secara finansial tidak mempunyai kemampuan melunasi pembelian,” katanya.

Kasus jual beli tanah ini, seluas 2.300 meter persegi atas hak milik Suryadi. Awalnya dijual dengan harga Rp 1 juta permeter. Namun karena pihak pembeli menyampaikan akan dibangun gedung haji, akhirnya Suryadi menurunkan harga sebesar Rp 900 meter persegi.

Yohanes menganggap, Sukandar telah menyalahgunakan wewenangnya sebagai anggota Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI). “Di situ sebetulnya sebagai tim pengadaan tanah. Tapi dia menyalahgunakan kewenangan sebagai panitia pengadaan tanah. Dia justru menjadi makelar tanah lagi,” tegasnya.

Baca juga:  Sopir Antar Jemput Siswa Nyambi Kurir Sabu

Pihaknya akan terus memperjuangkan kliennya yang dinilai tidak melakukan perbuatan penipuan. Kejadian ini, pihaknya akan mencari keadilan dan melayangkan surat ke berbagai pihak termasuk gugatan pra peradilan. “Kami akan melayangkan gugatan pra peradilan secepatnya. Kami juga telah melakukan pengajuan penangguhan tahanan, per hari ini. Sudah diterima penyidik, masih menunggu jawaban,” pungkasnya.

Terpisah, Ahmad Dalhar, kuasa hukum Sukandar mengatakan kliennya telah menempuh jalur hukum dengan benar. Pihaknya menyayangkan perbuatan terlapor yang tidak memberitahu dalam menjual tanah yang sudah diberi uang DP oleh kliennya. “Meski di situ sifatnya DP, ada kuitansi. Itupun diakui adanya DP. Nah disini tahu-tahu dijual ke orang lain tanpa ngomong, ini yang disayangkan,” katanya. (mha/ida)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya