alexametrics

Tersangka Dugaan Korupsi Bank BPR Salatiga Bertambah Dua Orang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Salatiga – Dugaan korupsi Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Salatiga senilai Rp 24,7 miliar terus berkembang. Kali ini, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jateng mengungkap adanya tambahan dua tersangka baru. Keduanya berinisial M dan BS, staf BPR Salatiga.

Asisten Tindak Pidana Khusus Kejati Jateng Sumurung Pandapotan Simaremare menjelaskan, keduanya sudah ditetapkan sebagai tersangka, namun belum dilakukan penahanan. Adapun perannya dalam kasus ini adalah diduga menyalahgunakan uang nasabah.

“Yang jelas ikut menikmati, karena masih proses penyidikan, kami belum bisa terangkan lebih lanjut,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (26/7/2021).

Sumurung menambahkan, dua tersangka ini diproses dalam berkas terpisah dengan tiga tersangka sebelumnya. Hal ini dikarenakan peran dari masing-masing tersangka berbeda. Adapun nilai kerugian sementara ini masih sama dengan hasil audit BPK, yaitu Rp 24,7 miliar. “Namun sangat dimungkinkan ada penambahan kerugian,” katanya.

Baca juga:  Tergiur Harga Miring, Tiga Orang Tertipu Penjualan Mobil Baru

Terkait masa penahanan tiga tersangka sebelumnya, yaitu Dwi Widiyanto dan Triandari Retnoadi,  keduanya mantan direktur, serta Sunarti yang sebelumnya menjabat sebagai Kasubag Kredit, Sumurung menyatakan akan diperpanjang. Mengingat masa tahanan akan segera habis, sementara berkas akan segera dilimpahkan bulan depan.

Sumurung juga mengungkapkan, dalam kasus ini, salah satu tersangka, yaitu Sunarti terkuak melakukan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Hal ini sekaligus menjadi satu-satunya perkara TPPU yang ditangani Kejati Jateng. “Selama 2021 Kejati Jateng menangani delapan perkara korupsi, dan satu TPPU dilakukan tersangka S dalam kasus BPR Salatiga ini,” ungkapnya.

Bahkan, Tim Penyidikan Pidsus Kejati Jateng, Senin (26/7) kemarin, telah melakukan penyitaan benda bergerak dan tidak bergerak pada perkara dugaan TPPU yang dilakukan Sunarti. Dalam kegiatan tersebut, tim penyidik Pidsus Kejati Jateng dibantu oleh petugas dari Kejari Salatiga, serta didampingi pegawai dari PD BPR Bank Salatiga Wahyu Aryanto, dan kuasa hukum tersangka, yaitu Gunawan SH. Tim penyidik juga melakukan pengecekan gudang di Jalan Argomulyo, Salatiga yang akan dipakai untuk melakukan penyimpanan benda atau barang sitaan.

Baca juga:  PAD Parkir Jauh dari Target, Pilus: Dishub Hanya Mengandalkan Parkir Jalan Umum

Disebutkan, saat ini, benda atau barang bergerak yang sudah masuk dalam gudang penyimpanan sementara, yaitu 1 unit mobil Toyota Fortuner TRD warna putih nopol H 7249 HC tahun 2015 beserta kunci dan STNK; 1 unit mobil Toyota Super Kijang KF 50 pikap warna hitam nopol H 1924 RB tahun 1992 beserta kunci, STNK, dan kartu uji berkala; 1 unit mobil Mitsubishi FE 104 3298 cc jenis mikro bus warna biru nopol H 1671 AB atas nama Koperasi Wahana Roda Mulia beserta kunci, STNK, kartu uji berkala, serta kartu jam perjalanan.

Seperti diketahui, selain menahan tersangka di Polrestabes Semarang, Kejati Jateng juga telah mengamankan aset seperti sertifikat tanah dan kendaraan untuk pemulihan ekonomi.

Baca juga:  Bertekad Jadi Petani Sejak SMA, Omzet Capai Rp 250 Juta Sebulan

Adapun pengungkapan kasus ini merupakan pengembangan penyidikan yang dilakukan oleh Kejari Salatiga. Para petinggi BPR Salatiga ini diduga melakukan penyimpangan dana nasabah  yang berlangsung selama 2008 hingga 2018. Pada kurun waktu tersebut terdapat penerimaan dan penarikan dana nasabah di luar sistem perbankan BPR Salatiga. Aksi culas tiga tersangka tersebut mengakibatkan terjadinya selisih saldo simpanan pada 28 nasabah dengan total kerugian Rp 24,07 miliar. (ifa/aro) 

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya