alexametrics


Empat Mahasiswa Pendemo Omnibus Law Divonis Hukuman Percobaan

Rekomendasi

Menarik

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Empat mahasiswa peserta demo penolak Omnibus Law divonis masa percobaan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Semarang. Mereka adalah Igo Adri Hernandi, M Akhru Muflikhun, Izra Rayyan Fawaidz, dan Nur Achya Afifudin.

“Menjatuhkan hukuman tiga bulan pidana penjara dengan masa percobaan enam bulan dikurangi masa tahanan,” tegas ketua majelis hakim Sutiyono dalam sidang putusan pada Selasa (8/6/2021).

Artinya, para terdakwa tidak perlu menjalani hukuman penjara apabila selama enam bulan mereka tidak melakukan tindak pidana apapun.

Majelis hakim menilai keempat terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 216 KUHP. Terdakwa dianggap tidak menaati himbauan dari aparat kepolisian saat aksi demonstrasi.

Salah satu Tim Advokasi Kebebasan Berpendapat, Eti Oktaviani menjelaskan, pertimbangan hakim bertentangan dengan fakta di persidangan. Salah satunya majelis hakim menyatakan, penangkapan yang dilakukan kepada para pejuang demokrasi tetap sah walau tanpa surat tugas, dan surat penangkapan karena mereka tertangkap tangan. Padahal, fakta persidangan menunjukan yang dilakukan bukan tangkap tangan.

“Berkaca dari banyaknya tindakan unfair trial yang tidak dipertimbangkan tersebut, maka secara terang putusan majelis hakim terhadap keempat pejuang demokrasi turut mencederai sistem peradilan pidana yang berkeadilan,” terangnya.

Tim Advokasi Kebebasan Berpendapat Jawa Tengah menganggap majelis hakim dalam memutus perkara ini, tidak mau melihat fakta-fakta yang telah terjadi secara utuh dan komprehensif. Melainkan hanya memandang dan mempertimbangkan fakta soal peristiwa pelemparan saja. Padahal, menurutnya secara jelas telah terbukti tidak ada akibat apa pun yang ditimbulkan karena pelemparan tersebut.

“Berangkat dari hal di atas, kami mengajak seluruh elemen masyarakat sipil untuk kembali merapatkan barisan guna melawan persekongkolan jahat oligarki yang terus melakukan perampasan ruang hidup serta menciptakan ketidakadilan bagi masyarakat,” tegasnya.

Dalam sidang yang digelar di PN Semarang, mahasiswa dari berbagai Universitas di Semarang serta buruh dari KSPI Jateng melakukan aksi demo. Mereka membawa atribut berupa poster bertuliskan “Kawan Kami Bukan Kriminal Melainkan Pejuang Demokrasi”, dan “Stop Kriminalisasi”.

Diketahui, para terdakwa mengikuti unjuk rasa pada Rabu (7/10/2020) lalu. Demo yang semula aman kemudian berjalan ricuh setelah masa mendorong pintu gerbang utama gubernuran. Empat mahasiswa tersebut dinilai menggunakan kekerasan, baik pada orang maupun barang. Pendemo mulai ricuh, memecahkan pot bunga dan melemparkan pecahan-pecahan pot bunga. (ifa/zal)

 

Tinggalkan Balasan

Terbaru

Populer