alexametrics

Waduh, Alat Rapid Test Ilegal Beredar di Semarang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Aparat Polda Jateng berhasil mengungkap kasus penjualan alat rapid test tanpa izin edar. Produk ilegal itu diedarkan oleh salah satu distributor di wilayah Bangetayu, Kecamatan Genuk, Kota Semarang. Bisnis ilegal ini telah meraup keuntungan mencapai miliaran rupiah dalam kurun waktu lima bulan.

Kapolda Jateng Irjen Pol Ahmad Luthfi membeberkan, pengungkapan kasus ini setelah anggotanya mendapatkan laporan adanya dugaan penjualan alat rapid test antigen tanpa disertai izin edar di Kecamatan Banyumanik pada 27 Januari 2021 lalu. Begitu menerima laporan, pihaknya melakukan serangkaian penyelidikan, dan berhasil menemukan tempat distributor barang tersebut di wilayah Bangetayu, Genuk, pada 30 Maret 2021 lalu.”Saat itu, kita amankan hampir 450 pack alat rapid test antigen tanpa izin edar,” katanya.

Baca juga:  Dituntut Penjara 10 Bulan, Mucikari Selebgram TE Minta Keringanan Hukuman

Dijelaskan, alat rapid test antigen itu merek Clungene dan Speedchek. Dalam penggerebekan itu, petugas juga mengamankan SPM, 34, yang diduga terlibat dalam penjualan barang ilegal tersebut.

“Alat ini diedarkan di Jawa tengah. Masyarakat umum bisa mendapatkan, di klinik, di rumah sakit-rumah sakit. Ini merugikan tatanan kesehatan yang sudah diterapkan,” bebernya.

Kepada penyidik, SPM mengaku sebagai karyawan perusahaan yang berpusat di Jalan Paradise Sunter Jakarta Utara. Sedangkan peran SPM dalam bisnis ilegal ini sebagai distributor di Jateng.  “Sistem penjualan langsung by order, face to face. Modusnya, dia mengedarkan tanpa izin, dan dia menyadari,” katanya.

Dirreskrimsus Polda Jateng Kombes Pol Johanson Ronald Simamora mengatakan, penjualan alat rapid test antigen ini setelah adanya pemesanan barang terlebih dahulu. Setelah menyerahkan uang muka, barang baru dikirim.

Baca juga:  Terdakwa Pencabul Gagal Hadirkan Saksi Meringankan

“SPM itu sales atau distributor dengan pasar di Jawa Tengah. Setelah ada pesanan, kemudian dia order ke Jakarta. Barang dikirim ke sini, kemudian didistribusikan,” jelasnya.

“Ini seharusnya ada izin dari Kemenkes. Tapi ini tidak punya izin edar. Ada beberapa merek, yang tidak ada,” tambahnya.

Tersangka SPM sendiri berdalih telah mengajukan proses perizinan alat rapid test antigen tersebut. “Sudah 20 karton yang diedarkan di Jateng,” akunya. (mha/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya