alexametrics

Pailit, Nasib 1.200 Kreditur KSP Jateng Mandiri Belum Jelas

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Nasib 1.200 kreditur atau anggota Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Jateng Mandiri yang sudah pailit saat ini belum juga jelas. Namun demikian mereka tetap berharap mendapatkan haknya atas koperasi yang pernah dipimpin Halim Susanto itu.

Mirisnya ada upaya kasasi atas putusan pailit yang tak diketahui pucuk pimpinan pengurus baru. Hal itu disampaikan Ketua 1 KSP Jateng Mandiri, Kristianingsih, saat menjawab pertanyaan sejumlah kreditur dalam rapat kreditur yang diadakan di aula Penerbad Semarang, Senin (1/6/2020).

“Saya sebagai ketua tidak diberi tahu kalau ada yang melakukan kasasi, saya sendiri tidak melakukan upaya kasasi. pasti ada pihak lain. Setelah PKPU saya sebagai ketua pengurus koperasi juga tidak dilibatkan,” kata Kristianingsih.

Baca juga:  Pemabuk Babak Belur Dihajar Pemabuk

Sementara itu, sejumlah kreditur maupun yang mewakili sempat bertanya dalam pertemuan itu. Adapun pertemuan itu dihadiri para kurator ada Ali Imron, Bing Yusuf dan Tony Triyanto. Kemudian hakim pengawas pada Pengadilan Negeri (PN) Semaramg, Esther Megaria Sitorus, dan panitera pengganti Afdlori. Atas kepailitan itu, Lembaga Konsultasi, Mediasi dan Bantuan Hukum (LKMBH) Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Provinsi Jawa Tengah, yang berkantor di jalan MT Hariyono, nomor 565-A, Kota Semarang, masih membuka pendampingan hukum gratis bagi semua kreditur yang membutuhkan.

“Pertama sebagai seorang awam dalam kondisi pailit, saya mendengar pengurus koperasi (KSP Jateng Mandiri, Red) mengajukan kasasi. Kemudian berkaitan aset selama ini, kami mohon diperiksa secara transparan aliran dana kemana semua, jadi perlu dilakukan audit, makanya bisa tahu uang-nya lari kemana saja, lebih lanjut nanti saya sampaikan pribadi ke kurator,” kata salah satu kreditur Yohanes.

Baca juga:  Ratusan Sex Toys Hendak Diselundupkan ke Semarang

Sedangkan kreditur lain Indrajaya, memohon agar para kurator bekerja secara maksimal. Kemudian hakim pengawas jangan ditambah atau diganti lagi. Sehingga kejadian jaksa dalam kasus pidana permasalahan koperasi itu dulu sempat menuntut 13 tahun. Hingga akhirnya hakim memutuskan bebas, tidak terulang lagi.

Dalam pertemuan itu, hakim Esther Megaria Sitorus, mengatakan dari data yang diterimanya koperasi itu memiliki 1.200 kreditur, sehingga kalau rapatnya tetap diadakan di PN Semarang dan semua kreditur hadir, tidak akan muat ruangannya. Untuk itulah dipilih Penerbad Semarang, agar lokasinya tidak terlalu jauh dari pengadilan dan mudah dijangkau kreditur serta efektif dan efisien.

Esther juga meminta kepada debitur tetap koperatif menyerahkan dokumen maupun aset-aset, sehingga dapat membantu kurator bekerja secara maksimal. Ia mengatakan, kepailitan ini diharapkan supaya para kurator bisa memaksimalkan seluruh aset supaya bisa memenuhi tagihan tagihan para kreditur.

Baca juga:  Reksa Dana Jadi Alternatif, Jeli Melihat Potensi Saham

“Saya ingatkan kepada debitur, kalau para kreditur dulu adalah mitra koperasi, jadi tetaplah berjuang untuk memenuhi tagihan-tagihan para kreditur. Debitur harus terbuka seterbukanya kepada kurator, jadi aset-aset bisa dibagikan ke kreditur, sikapi persoalan ini dengan jernih. Kemudian berpikir bagaimana mengembalikan tagihan para kreditur, saya akan awasi ketat supaya tidak melenceng dari aturan yang ditentukan,” kata hakim Ester. (jks/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya