Lapas Semarang Berani Bebaskan 23 Narapidana, Ada Apa?

815

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Sebanyak 23 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang ada di Lapas Kelas 1 Semarang serempak bisa langsung meraskan udara kebebasan, Senin (23/12/2019). Kebebasan itu setelah mereka menjalani Crash Program, berupa pemberian cuti bersyarat, cuti menjelang bebas serta pembebasan bersyarat bagi narapidana, sebagaimana arahan Direktur Jenderal Pemasyarakatan.

Kepala Lapas Semarang, Dadi Mulyadi, mengaku ikut senang atas kebebasan serempak tersebut. Dengan begitu mereka akan bisa langsung bertemu dengan keluarga. Ia juga berpesan agar para WBP tersebut bisa hidup lebih baik lagi kedepannya, kemudian menjadikan momentum Crash Program tersebut sebagai momentum untuk membuka lembaran baru kehidupan yang sebenarnya di luar Lapas.

“Sudah selayaknya kita sama-sama bersyukur atas segala mukjizat yang telah Tuhan berikan. Kami juga mengingatkan agar kalian (para WBP) bisa bertanggung jawab, mengingat ini adalah bebas bersyarat, jadi tetap harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan,” pesan Dady Muladi, saat melepas kebebasan para WBP itu.

Dalam pelaksanaanya, Crash Program akan dipantau langsung dirinya, yang dikomandoi oleh Kepala Bidang Pembinaan Lapas Semarang, Akhmad Herriansyah dan direalisasikan oleh seluruh jajaran bimbingan kemasyarakatan, yang dipimpin oleh Kepala Seksi Bimbingan Kemasyarakatan, Ari Tris Ochtia Sari, melalui operator integrasi online Sistem Database Pemasyarakatan (SDP) Fajar Sodiq.

Adapun kegiatan Crash Program, dijelaskan Dady, merupakan percepatan bagi para narapidana tindak pidana umum atau yang tidak terkait dengan Pasal 34 Peraturan Pemerintah nomor 99 tahun 2012, dimana hitungan 2/3 masa pidananya jatuh sampai dengan 31 Desember 2019.

“Jadi masalahnya mereka tidak bisa melakukan program integrasi baik pembebasan bersyarat, cuti menjelang bebas, serta cuti bersyarat. Alasannya pihak keluarga tidak dapat menjadi penjamin,”jelasnya.

Diakuinya, kegiatan itu merupakan tindak lanjut dari arahan Direktur Jenderal Pemasyarakatan dan Surat Edaran Direktur Jenderal Pemasyarakatan nomor: PAS-1386.PK.01.04.06 tahun 2019 tentang pelaksanaan crash program pemberian cuti bersyarat, cuti menjelang bebas serta pembebasan bersyarat bagi anak didik dan narapidana. Dengan masalah itu, tentunya akan berimplikasi terhadap timbulnya permasalahan yang dapat menghambat pelaksanaan tugas, fungsi serta pencapaian tujuan pemasyarakatan.

“Jadi melalui crash program, dilakukan penunjukan dari para pembimbing kemasyarakatan sebagai penjamin untuk narapidana tersebut. Program ini juga sekaligus sebagai akibat overcrowding di sebagian besar Lapas dan Rutan di Indonesia,” jelasnya.

Kepala Seksi Bimbingan Kemasyarakatan, Ari Tris Ochtia Sari melalui Operator Integrasi Online SDP, Fajar Sodiq, menambahkan, pihaknya telah menyambut baik akan program itu. Pihaknya juga akan terus berkomitmen penuh untuk mendukung segala upaya untuk memecahkan permasalahan overcrowding yang kian marak.

“Saat ini Lapas Semarang juga mengalami over kapasitas, karena seharusnya hanya menampung 668 orang, namun diisi lebih dari 1900 orang,” imbuhnya.

Pembebasan serempak tersebut juga masih akan berlangsung lagi sampai dengan akhir tahun 2019. Karena prosesnya masih menunggu Surat Keputusan (SK) Pembebasan Bersyarat dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan. (jks/ap)