alexametrics

Dituntut 8 Tahun, Kakek Cabul Divonis 5 Tahun

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Majelis hakim menjatuhkan vonis lebih ringan daripada tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kota Semarang. Vonis tersebut dijatuhkan atas kelakuan kakek cabul, Tarmuji alias Mbah Tarmuji, yang nekat melakukan perbuatan asusila terhadap anak dibawah umur berinisial SC.

Adapun putusannya hanya dijatuhkan selama 5 tahun penjara. Lebih rendah daripada tuntutan JPU yang menuntut pidana penjara selama 8 tahun dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Semarang. Atas vonis tersebut kakek berusia 76 tahun itu tetap bakal menghabiskan sisa hidupnya di dalam Lembaga Permayarakatan (Lapas) yang cukup lama.

“Iya kasus itu (Tarmuji) sudah di vonis minggu kemarin, majelis menjatuhkan vonis selama 5 tahun penjara. Kalau tuntutan kami 8 tahun penjara,” kata JPU Kejari Kejari Semarang, Zahri Aeniwati, saat dikonfirmasi RadarSemarang.Id, Senin (16/12/2019).

Baca juga:  Usaha Kasim Gugat Hak Cipta Karya Tulis Hologramisasi Kandas di Tingkat Pertama

Selain vonis yang lebih ringan, seingat jaksa yang akrab disapa Aeni tersebut. Denda yang dijatuhkan majelis hakim sama-sama Rp 1miliar. Namun subsider hukuman kurungannya majelis menjatuhkan 3 bulan kurungan. Sedangkan pihaknya subsidair 6 bulan kurungan dan biaya perkara Rp 2ribu.

“Sama-sama Rp 1miliar, bedanya subsidairnya saja. Kami sudah menerima atas vonis itu,”ujarnya.

Dalam kasus itu, Tarmuji dianggap terbukti melanggar tindak pidana dalam pasal kesatu, Pasal 76 E Jo Pasal 82 ayat 1 Undang-Undang RI nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

Perbuatan bejat Tarmuji tersebut terjadi pada Januari 2019. Saat korban yang masih berusia 5 tahun pulang sekolah, yang diantar dengan ojek langganan. Setelah di rumah, kakek bejat tersebut menghampiri korban yang sendiri, hingga melakukan perbuatan asusila. Sedangkan dari hasil visum diketahui terjadi luka-luka akibat kekerasan dilakukan benda tumpul.

Baca juga:  Anggota BPK2KL Gugat PMH Lawan Wali Kota dan BPN

Terpisah, Kordinator Komunitas Peduli Hukum (KPH) Semarang, Darma Wijaya Maulana, mengaku kecewa atas perbuatan terdakwa, yang seharusnya sebagai pengayom korban. Namun justru berbuat asusila. Pihaknya berharap majelis hakim menjatuhkan putusan yang setimpal. Menurutnya, masa depan korban masih panjang, sehingga akan terjadi traumatik yang berkepanjangan akibat kejadian itu.

“Seharusnya kasus-kasus anak begini semua organisasi yang peduli terhadap anak dan perempuan hadir mengawal, jangan sampai ketika sudah mencuat ke publik baru seolah jadi pahlawan,” tandasnya. (jks/ap)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya