Tiga Korban Penipuan Rp 20 Miliar Diperiksa Pengadilan Negeri Semarang

231
Saksi korban Go Edy Gunawan, Dewi Gunawan dan Leonardo Gunawan diperiksa atas perkara dugaan penggelapan dan penipuan mencapai Rp 20,237miliar di PN Semarang. (JOKO SUSANTO)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG-Satu keluarga yang menjadi korban perkara dugaan penggelapan dan penipuan mencapai Rp 20,237 miliar, dengan modus dana talangan take over kredit nasabah di Bank Panin Dubai Syariah (PDS) cabang Semarang diperiksa dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Selasa (3/12/2019) kemarin. Para korban yang diperiksa tersebut adalah Go Edy Gunawan, Dewi Gunawan dan Leonardo Gunawan, mereka tercatat sebagai warga Candisari, Kota Semarang.

Ketiganya diperiksa dalam perkara tiga terdakwa Deasy Faizati ,46, yang pernah menjabat Kepala Cabang Bank PDS Semarang dan Suwardi Aryanto alias Edo bin Sugiyat, 36, sebelumnya menjabat Senior Account Officer, besera seorang makelar Erlie Susilowati binti Kisworo Joyosantoso ,38, sedangkan satu tersangka perkara itu bernama Arbaini Yusuf masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).

Dihadapan majelis hakim, saksi Dewi Gunawan, mengaku setiap pinjam para terdakwa ada yang sampai Rp 100 juta. Namun besaran nominal variatif tergantung besaran nasabah membutuhkan berapa.

“Saya dijanjikan 3 persen. Dari 13 April -11 Desember 2016 itu lancar dan lancarnya nasabah ke nasabah. Jadi misal nasabah A pinjam Rp 100 juta saya dikembalikan Rp 100juta plus ditambah fee 3 persen per nasabah transaksi,” kata Dewi Gunawan, dipersidangan.

Namun karena hampir rutin setiap hari para terdakwa meminta dana talangan, untuk dua hingga tiga nasabah. Akhirnya lama kelamaan ia tidak sanggup, kemudian pada 22 Desember 2016 ia minta kepada terdakwa menarik semua uang miliknya dan berhenti dikembalikan ke deposito murni.

“Karena saya pusing setiap hari uang keluar masuk terus. Tapi dari situ mulai tidak lancar, mulai awalnya Deasy minta batas waktu, dengan alasan dia tidak pernah melakukan wanprestasi dan alasan akhir tahun. Kemudian dana talangan disepakati sampai 30 Januari 2017 mulai dananya mundur-mundur hingga ada yang sampai 3 minggu,” jelasnya.

Kemudian semakin lama ke lamaan, hingga terdakwa Arba mengatakan ke saksi, dengan alasan Panin lagi di audit oleh The Loid yang merupakan akuntan terpercaya. Namun para terdakwa tetap mengirimkan sukses fee-nya agar saksi semakin percaya.

“Tapi bayar pokoknya telat terus dan setelah saya berhentikan transfernya, sukses fee berhenti. Baru saya mulai paham ternyata hanya muterin uang saya saja, jadi waktu itu riil saat sudah di take off Panin ada Rp 17 miliaran dan itu pokoknya saja belum lagi lain-lainnya,”bebernya dipersidangan.

Sedangkan saksi, Go Edy Gunawan, mengatakan aliran dana saat dirinya bertemu Deasy meminta untuk proses transfer ke Arba. Saat macet Deasy juga mengatakan nanti dikasih cassie PT Lentera dengan nilai Rp 8,9miliar, yang intinya dijelaskan untuk pengalihan piutang.

“Kalau yang iming imingi fee 3 persen Deasy dan Arba. pembuatan cassie ada kaitan dengan PT Lentera,” imbuhnya.

Atas keterangan para saksi, ketiga terdakwa langsung membantah. Khusus terdakwa Erlie Susilowati sempat tertawa terkekeh saat dicecar hakim anggota Suparno. Bahkan Erlie sempat santai mengikat rambutnya tanpa ada sedikitpun wajah memelas, sekalipun sudah duduk di kursi terdakwa.

“Masalah cassie saya yang dipaksa untuk tanda tangan, termasuk permintaan bunga atas permintaan mereka (Dewi dan Go), jadi ide mereka semuanya. Tapi kesaksiannya ada yang bener dan ada yang tidak,”kata Deasy, usai diberi kesempatan majelis. Para terdakwa juga keberatan hasil audit, karena pihaknya merasa tak pernah di audit. (jks/ap)