Dokter Bhakti Wira Tamtama Akui Rimbawan Visum

210

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Fakta baru mencuat adanya kesehatan pada diri korban dugaan pemukulan yang dialami oknum notaris asal Bali I Nyoman Adi Rimbawan, yang menjerat terdakwa Soko Wardono. Pemukulan itu sendiri diduga akibat emosi dipicu tindakan asusila yang diduga dilakukan korban terhadap warga Semarag berinisial S. Fakta itu mencuat setelah dokter Rumah Sakit Bhakti Wira Tamtama, yang melakukan visum terhadap Rimbawan, dr Apriany Darma W, diperiksa sebagai saksi di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Selasa (3/12/2019) kemarin.

“Tidak ada luka robek atau luka iris. Waktu itu, indikasi rawat inap juga tidak ada, makanya saya sarankan bisa segera pulang. Apalagi pasien (Rimbawan) datang ke rumah sakit sendiri, nyetir mobil sendiri, pulang juga sendiri, jadi pasien masih bisa beraktifitas,” kata saksi dr Apriany Darma W, di hadapan majelis hakim yang dipimpin Manungku Prasetyo, didampingi dua hakim anggota, Pudji Widodo dan Andi Risa Jaya.

Dijelaskannya, saat itu visum dibuatkan atas permintaan pasien Rimbawan, dia pula yang sudah menandatangani hasilnya. Dari hasil visum kemudian diberi obat, salah satunya obat antibiotik, yang sudah disediakan di rumah sakit. Bahkan Rimbawan dikatakannya, juga tidak diberi resep khusus atas hasil visumnya.

“Penyakitnya keadaanya masih baik dan tidak ada indikasi untuk dilakukan rawat jalan. Pasien (Rimbawan) cuma sekali datang,” jelas dokter rumah sakit yang berada dibawah naungan Kesdam IV/Diponegoro tersebut.

Dijelaskannya, visum dikeluarkan karena permintaan penyidik Polrestabes Semarang, yang memintakan hasil visum pemeriksaan medis pada 14 April. Dikatakannya, kalau mata merah korban tidak bisa dipastikan, termasuk pendarahan juga tidak ada sama sekali.

“Di rumah sakit kami tidak ada spesialis forensik, kebetulan waktu itu saya sendiri yang di IGD. Kalau pemukulan berulang kali kurang mengerti, saya cuma lihat ada titik lebam disebabkan benda tumpul,” sebutnya.

Dalam dakwaanya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kota Semarang, Syafruddin, menguraikan Soko Wardhono melakukan penganiayaan terhadap Rimbawan di kediaman notaris kondang, Jane Margareta Handayani yang terletak di perumahan Graha Estetika pada Jumat 13 April 2018.

Penganiayaan diuraikan jaksa berawal ketika terdakwa Soko bersama saksi Aryo mendatangi rumah Jane untuk menanyakan kebenaran mengenai dugaan asusila yang dilakukan oleh Rimbawan.

“Sesampainya di perumahan Graha Estetika dibukakan oleh korban. Setelah itu terdakwa dan saksi masuk ke kediaman itu (Jane),”kata JPU Kejari Kota Semarang, Syafruddin.

Kemudian sempat terjadi percakapan, namun lama-lama karena tidak bisa menahan emosi, akhirnya terjadi pemukulan ke arah wajah Rimbawan. Terdakwa melakukan pemukulan dengan cara menampar dengan tangan kanan sebanyak tiga kali. Sedangkan tamparan itu mengenai wajah kiri Rimbawan. Atas aksi pemukulan itu, lanjut jaksa, sempat direkam menggunakan ponsel oleh Aryo Wardono. Setelah pemukulan terdakwa bersama Aryo pulang meninggalkan Rimbawan.

“Akibat perbuatan terdakwa, Rimbawan mengalami luka pada mata kiri, nyeri tekan di pelipis, bengkak pada pelipis sebelah kiri, telinga kiri bengkak merah, rahang kiri nyeri, dan leher kiri nyeri,”beber jaksa. (jks/ap)