Alami Dugaan Provokasi Rasis hingga Pemukulan, Kader PP Lapor Polisi

66
TUNJUKKAN LAPORAN: Siswanto didampingi dua tim kuasa hukumnya, Osward Febe Lawalanta dan Agus Supriyadi, tunjukkan bukti laporkan Wawan ke Polrestabes Semarang. (jks/RadarSemarang.Id)

RADARSEMARANG,ID, SEMARANG-Aksi pemukulan dalam Pelantikan Pimpinan Anak Cabang (PAC) serempak ormas Pemuda Pancasila (PP) di Kota Semarang pada (23/8/2019) malam lalu, berbuntut laporan polisi ke Polrestabes Semarang. Laporan itu dibuat oleh Ketua PAC Semarang Timur terpilih versi Rapat Pemilihan Pengurus (RPP) Februari 2019, Siswanto, dengan terlapornya Wawan yang merupakan kader PAC PP Semarang Tengah.

Dalam laporan itu juga disebut ada ucapan nada rasis. Adapun kronologi awal permasalahan disebut terjadi adu mulut antara Joko Santoso, saat pelantikan serempak masih menjabat Ketua MPC PP Kota Semarang dengan Siswanto. Kemudian terjadi pemukulan diduga dilakukan Wawan, yang awalnya mengucapkan ucapan rasis dengan nada provokasi ‘Sikat Cino’. Sehingga timbul kegaduhan walau tak berlangsung lama.

“Awalnya klien kami protes untuk menanyakan hak dalam kepengurusan PAC di pelantikan serempak itu. Kemudian datang Wawan yang kami laporkan di sini, nah berdasarkan informasi dari saksi klien kami, dia (Wawan) datang dengan nada provokasi Sikat Cino, padahal kata-kata itu sangat bahaya, kemudian ada gerakan pemukulan patut diduga awal dilakukan Wawan dilakukan di daerah kepala, dan juga diikuti teman-temannya yang lainnya,” kata tim hukum Siswanto, Osward Febe Lawalanta dan Agus Supriyadi, menyikapi laporan yang diajukannya, Senin (2/9/2019).

Disebutkannya, sebagaimana video viral pemukulan dalam pelantikan serempak tersebut, dapat dilihat bagaimana Siswanto yang usianya sudah 65 tahun dikeroyok seperti maling. Atas pemukulan itu klien kami merasa dirugikan mengalami lebam-lebam di rusuk, pundak dan kepala, bahkan sempat pusing, kacamata jatuh dan pecah.

“Mungkin kalau klien kami jatuh bisa mati, karena dalam pemukulan itu manusianya begitu banyak, bisa dilihat dalam video yang viral. Dalam pemukulan itu, yang dikenal klien kami cuma Wawan,” jelasnya.

Dalam laporan itu, pihaknya menjerat Wawan dan terduga pelaku lainnya dengan tuduhan melanggar Pasal 170 KUHP terkait pengeroyokan. Dikatakannya, dalam pemukulan itu dilakukan lebih dari dua orang. Untuk itu pihaknya meminta Polrestabes Semarang segera mengusut tuntas kasus itu, sehingga ada rasa keadilan untuk kliennya dan menyelamatkan institusi PP dari perbuatan oknum-oknum yang melanggar hukum, dengan begitu penegakkan hukum dapat ditegakkan

Pihaknya juga menegaskan laporan itu bukan terkait permasalahan organisasi PP, melainkan oknum dengan oknum didalam aksi pemukulan tersebut. Selain itu, kliennya hanya ingin menjadikan PP lebih baik, karena Pancasila tidak mengajarkan rasisme. Menurut Agus, bukan berarti karena kliennya keturunan China harus diprovokasi Sikat Cino.

“Sikat Cino, Sikat Cino itu ndak tepat, karena kita ini Pancasila, sehingga sangat menyakiti klien kami secara pribadi, karen pak Siswanto juga WNI, meskipun etnis keturunan dari China, sangat disayangkan juga terjadi pemukulan. Padahal klien kami datang dipertemuan itu dengan baik-baik, klien kami juga tercatat punya kartu anggota PP, dan terpilih hasil RPP PAC di Semarang Timur,” tandasnya.

Agus Supriyadi, menambahkan, kliennya Siswanto datang ke acara pelantikan serempak itu, bukan tanpa dasar, karena sebelumnya sudah banyak berkontribusi untuk organisasi PP di Kecamatan Semarang Timur. Ditegaskannya belum lagi terpilih seusai mekanisme RPP PAC, yang saat itu juga dihadiri Joko Siswanto dan Moch Imron selaku Ketua dan Sekretaris MPC PP Kota Semarang ketika itu. Ditegaskannya pancasila tidak rasis, maupun diskriminasi maupun slaing berpihak

pelaporan ini upaya terakhir, dan tidka ada tendensi apapun untuk memeprkeruh keadaan.

“Sehingga datang ke acara pelantikan serempak bukan tanpa kapasitas, melainkan hanya ingin menanyakan haknya terkait kepengurusannya di Kecamatan Semarang Timur,” imbuh Agus Supriyadi.

Sementara itu, Siswanto, mengatakan akan menyiapkan 3 sampai 4 saksi. Kemudian menyiapkan bukti, mulai hasil fisum, kacamata pecah dan video viral. Terkait perdamaian, ia melihat sejak kejadian pemukulan hingga akan melaporkan ke polisi, tidak ada itikad baik sama sekali ditujukkan Imron untuk mencari dirinya agar bisa diselesaikan kekeluargaan. Dengan demikian, ia tetap berharap supaya diselesaikan secara proses hukum. Bahkan saat Muscab PP Kota Semarang, ia mengaku sudah bertemu dengan Wawan, namun tidak ada obrolan baik-baik, maupun sikap rasa bersalah dan mengucapkan minta maaf.

“Sehingga rasa hormat pada orangtua ndak ada, jadi menjadi pertimbangan saya bawa ke kasus hukum saja. Dari awal pemukulan sampai sekarang, dia (Wawan) ndak ada datang untuk meminta maaf atau lainnya, bahkan usai pemukulan banyak kader PP mau damaikan, tapi yang bersanggkutan disuruh keluar saja, mau datang dan arogan,”jelasnya.

Laporan Siswanto itu dilakukan di Polrestabes Semarang, yang tercatat dalam Surat Tanda Terima Laporan Polisi, dengan nomor: STTLP/501/VIII/2019/JATENG/RES TBS SMG. Laporan itu ditandatangani Inspektur Polisi Satu Agus Sunarjadji. Inti laporannya terkait persitiwa pidana sebagaimana Pasal 170 KUHP, pada 23 Agustus 2018 pukul 19.30 WIB di Gedung Juang 45, Jalan Pemuda, Semarang, dengan terlapornya Wawan.

Terpisah, Joko Santoso, mengatakan, terkait masalah kericuhan di dalam sistem PP adalah komando. Sehingga seoarang komando mempunyai mandat penuh terhadap kegiatan lapangan. Apabila melihat keadaan yang tidak kondusif, tentunya komando akan mengambil sikap, agar kegiatan berjalan baik dan lancar.

“Keinginan kita agar kegiatan berjalan baik dan lancar. Dengan ada yang protes seperti itu , saya mengambil komando kepada koti selaku pelaksana lapangan untuk mengamankan pak Siswanto yang mencoba untuk membuat keadaan tidak nyaman dalam kegiatan yang kita laksanakan,” kata Joko, kepada awak media.

Ia juga mengklaim, tidak terjadi masalah baku hantam. Disebutkannya saat gladi pelantikan, yang sebenarnya terjadi adalah menggiring Siswanto untuk keluar ruangan karena membuat situasi tidak nyaman, akan tetapi dia berontak dan berteriak-teriak sehingga membuat kader-kader yang lain terpantik untuk bergerombol dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.

“Gerombolan tersebut sebenarnya penasaran untuk melihat ada apa to itu? Terjadilah dorong mendorong, tidak ada baku hantam,” sebutnya. (jks/ap)