alexametrics

LRC-KJHAM Minta Pelaku Asusila Oknum Notaris Dikebiri

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Dukungan publik kembali mengalir kepada korban dugaan pemerkosaan yang menimpa gadis asal Semarang berinisial S. Dukungan kali ini, datang dari LRC-KJHAM (Legal Resources Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia), setelah sebelumnya dukungan datang dari Karangtaruna Kartini Kota Semarang dan Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) Kota Semarang. Selain itu, dalam persidangan, Rabu (7/8/2019), tampak korban didampingi secara langsung oleh tim Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) serta puluhan personil kepolisian.

Dalam kasus itu sendiri menjerat oknum notaris asal Denpasar, Bali, I Nyoman Adi Rimbawan, 45, yang juga tercatat sebagai alumnus Doktor Ilmu Hukum Unisula Semarang dan alumnus Magister Kenotariatan Undip Semarang. Suasana berbeda juga terjadi dalam sidang pemeriksaan korban yang berlangsung secara tertutup. Selama sidang berlangsung, korban dikabarkan sampai menangis di dalam persidangan, bahkan sidangnya sempat di skor cukup lama, berlangsung dari pukul 11.14 hingga 15.21 WIB.

Baca juga:  PT KAI Klaim Sesuai Prosedur Cairkan Dana Pengadaan Kursi Tunggu

Kepala Divisi Bantuan Hukum pada LRC-KJHAM, Nihayatul Mukaromah, meminta pegadilan dapat memberikan putusan seberat-beratnya sesuai Undang-Undang (UU) perlindungan anak, karena menurutnya pelaku juga tercatat sebagai orangtuanya sendiri. Dengan demikian, pihaknya mendorong pengadilan bisa memutus selama 20 tahun penjara kepada pelaku apabila nantinya terbukti di persidangan.

“Melihat ancamannya memang berat ditambah sepertiga karena pelaku merupakan orangtuanya sendiri sehingga layak menjadi 20 tahun penjara. Atas kasus ini, kami juga akan melakukan audiensi ke Kejati Jateng agar menuntut seberat-beratnya kepada pelaku, dengan demikian tuntutannya jangan hanya 20 tahun penjara saja,”kata Nihayatul Mukaromah, kepada awak media yang hadir memantau persidangan.

Pihaknya berharap Kejati Jateng dan majelis hakim bisa mengimplementasikan Undang-Undang nomor 16 tahun 2017. Dijelaskannya, dalam kasus demikian bisa diberikan pidana tambahan berupa hukuman kebiri. Untuk itu, ia berharap, melalui kasus ini bisa menjadi tonggak pertama kali penerapan hukuman kebiri tersebut.

Baca juga:  Mabuk dan Bawa Sajam, Pemuda di Semarang Utara Mengaku Hendak Aniaya Bapaknya

“Nantinya kalau vonis diluar dari harapan maupun seberat-beratnya, kami akan mendesak Kejati Jateng untuk kembali melakukan upaya hukum,” tandasnya. (jks/ap)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya