Kondisi Rumah Pompa Memasuki Musim Hujan

Di Kuningan, Delapan Rumah Pompa Mangkrak

278
PENGENDALI BANJIR: Rumah pompa di Perumahan Tanah Mas Semarang, Kelurahan Panggung Lor, Semarang Utara dikelola profesional oleh Paguyuban Pengendalian dan Penanggulangan Air Pasang (P5L) Panggung Lor. ( NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PENGENDALI BANJIR: Rumah pompa di Perumahan Tanah Mas Semarang, Kelurahan Panggung Lor, Semarang Utara dikelola profesional oleh Paguyuban Pengendalian dan Penanggulangan Air Pasang (P5L) Panggung Lor. ( NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Sejumlah wilayah di Kota Semarang bisa terbebas dari banjir dan rob berkat adanya rumah pompa. Rumah pompa itu ada yang dikelola pemkot, namun tak sedikit yang dikelola secara swadaya oleh warga. Bagaimana kondisi rumah pompa memasuki musim hujan ini?

RUMAH Pompa Manggis, Kelurahan Lamper Lor, Semarang Selatan tampak tak begitu terurus. Warna cat tembok sudah mulai pudar. Juga banyak sampah dedaunan menumpuk di sekitar bangunan. Kondisi di dalam pun tak jauh berbeda. Lantai tampak kotor dan licin oleh pelumas. Atap bangunan juga dipenuhi oleh sarang laba-laba. Meski begitu, rumah pompa  ini sangat vital, terlebih saat musim penghujan. Ketika hujan deras mengguyur, nantinya pintu air ke arah Sungai Kanal (anak sungai Banjir Kanal Timur) akan ditutup.  Sementara pompa air akan difungsikan untuk menyedot air dari kawasan Jalan Manggis dan Jalan Jeruk ke Sungai Kanal.

Beni Prasetyo, 37, operator Rumah Pompa Manggis mengaku, sebagai bentuk perawatannya, ia rutin memanasi mesin pompa setiap dua hari sekali supaya accu tidak tekor. Selain itu, ia juga rutin melakukan penggantian pelumas atau oli. Adapun  pelumas yang dibutuhkan setiap tiga bulan mencapai 20 liter. “Sejauh ini kalau untuk kebutuhan perawatan sih tidak ada kendala. Hanya saja, untuk ketersediaan air bersih, belum terlalu memadai, sehingga saya sebagai operator merasa kesulitan kalau hendak bersih-bersih,” ungkap pria yang menjadi operator mesin pompa sejak 2009 ini.

Selain mengusulkan ketersediaan air bersih, Beni juga menginginkan supaya atap Rumah Pompa Manggis direnovasi. Karena selama ini banyak sisi atap yang berlubang. Terlepas dari adanya peran Pemkot Semarang, ia berharap supaya warga sekitar bersedia untuk turut menjaga dan merawat rumah pompa yang berumur lebih dari 40 tahun ini. Paling tidak ikut membantu untuk membersihkan bangunan. “Ini kan juga untuk mereka (masyarakat, Red). Akan lebih baik  jika mereka tidak banyak mengeluh ketika banjir, namun ikut turun langsung ke lapangan dan membantu menjaga kebersihan Rumah Pompa Manggis,” harapnya.

Sementara itu, Rumah Pompa Air Hasanudin kini tidak dioperasikan lagi. Rumah pompa yang terletak di Jalan Hasanudin, Keluarahan Kuningan, Semarang Utara itu berhenti beroperasi sejak Stasiun Pompa Drainase Kali Semarang dibangun dan dioperasikan. Meski mesin masih ada, namun tidak dioperasikan.

Berdasarkan pantauan  Jawa Pos Radar Semarang di lapangan, Minggu (15/12), bangunan Rumah Pompa Air Hasanudin masih tampak kokoh berdiri di pinggir Kali Asin. Pintunya tertutup dan terkunci. Bangunan bercat putih dan biru itu masih cukup baik.

Yuliadi, mantan juru kunci Rumah Pompa Air Hasanudin yang kini ditarik ke Stasiun Pompa Besar mengatakan, rumah pompa itu kini memang sudah tidak dioperasikan. Sebab, Stasiun Pompa Besar masih mampu mengatasi air Kali Semarang, termasuk Kali Asin. “Pompa di sana (Stasiun Pompa Besar, Red) bisa menyedot air 5.000 meter kubik per detik. Jadi, rumah pompa kecil di beberapa titik kini dinonaktifkan,” katanya.

Ia menuturkan, meski kini bekerja di Stasiun Pompa Besar, dirinya tetap mengontrol kondisi Rumah Pompa Hasanudin. Menurutnya, berdasarkan arahan dan informasi dari pemerintah rumah pompa itu suatu saat akan kembali dioperasikan.  “Saya tetap stand by. Kalau keadaannya harus dioperasikan ya pasti nanti akan dioperasikan,” imbuhnya.

Lurah Kuningan Karjono mengaku, di Kelurahan Kuningan terdapat delapan rumah pompa milik Pemkot Semarang dan swadaya warga. Namun dari delapan rumah pompa tersebut, hanya tiga yang berfungsi, lainnya dibiarkan mangkrak.

Dalam pengamatan Jawa Pos Radar Semarang, di RW 01 ada tiga rumah pompa yang tidak difungsikan. Rumah Pompa Boom Lama I kini dihuni oleh salah seorang warga, Kusnadi, yang dulunya bertugas menjaga rumah pompa tersebut. Saat didatangi, ia sedang tidur terlelap di kasur lusuh miliknya. Di dalam rumah pompa tersebut, terdapat berbagai alat kebutuhan rumah tangga, seperti teko, gelas, piring, pakaian yang digantung, kasur, TV dan lain sebagainya.

Kusnadi mengatakan diesel yang ada sudah diambil oleh Dinas Pekerjaan Umum (DPU). Namun pompa masih tertata rapi di tempat yang sama. Meski rumah pompa tersebut sudah tidak difungsikan, namun Kusnadi masih menggunakannya sebagai tempat tinggal. “Ini katanya mau difungsikan lagi, tapi tidak tahu kapan,” ujarnya.

Hal serupa juga terjadi pada Rumah Pompa Boom Lama II. Menurut keterangan Kusnadi, bangunan tersebut juga dihuni oleh petugas DPU. Berbeda lagi dengan Rumah Boom Lama III yang terletak di dekat Pasar Boom Lama juga sudah tidak difungsikan sama sekali. Bahkan, gembok dan kunci sudah berkarat.

Penelusuran berlanjut ke RW 02 yang hanya ada satu rumah pompa kira-kira berukuran 3×4 meter. Bangunan tersebut dikelilingi rumput liar dan beberapa rongsokan yang diletakkan sembarangan. Akses menuju pintu pun sulit, terhalang pagar besi yang tak terawat. Hal serupa juga terjadi di RW 03 yang juga tidak berfungsi.

Menanggapi hal tersebut, Lurah Karjono mengatakan rumah pompa seharusnya tetap difungsikan. Hal tersebut tidak hanya berfungsi untuk di daerah bangunan tersebut, melainkan hasilnya untuk wilayah Kuningan. “Kalau bisa difungsikan kembali, karena kita tidak tahu keadaan alam seperti apa, ya untuk mengantisipasi ke depan,” harapnya.

Ketua RW 04 Kuningan Joko mengatakan, pengelolaan rumah pompa di wilayahnya dibagi dua dengan RW 05. “Untuk perawatan diurus oleh RW 04, sedangkan masalah biaya ditangani oleh RW 05. “Menghadapi musim hujan ini, warga bersama-sama membersihkan saluran,” tandasnya.

Dikatakan, rumah pompa itu hasil swadaya masyarakat. Sejak berdirinya bangunan, tidak pernah sekalipun mendapat bantuan dari pemkot. “Kalau saluran dan bersih-bersih dari pemerintah, tapi fasilitas untuk rumah pompa dari pemerintah tidak ada. Rumah pompa di RW 04 dan 05 ini murni swadaya masyarakat,” tandasnya.

Untuk biaya perawatan satu bulan terakhir hampir menghabiskan Rp 2 juta. “Untuk perawatan rutin, listrik dan penjaga kebersihan bulan terakhir ini hampir Rp 2 jutaan, itu belum termasuk kalau ada kerusakan mesin,” ujarnya.

Rumah pompa yang dikelola warga secara profesional terdapat di Perumahan Tanah Mas Semarang, Kelurahan Panggung Lor, Semarang Utara. Pengelolanya tergabung dalam Paguyuban Pengendalian dan Penanggulangan Air Pasang (P5L) Panggung Lor. “Awalnya Perumahan Tanah Mas sering banjir, sehingga beberapa tokoh masyarakat berpikir bagaimana agar kawasan ini menjadi tidak banjir lagi. Bahkan akibat sering banjir, harga tanah dan rumah kawasan sini menjadi murah,” kata Ketua P5L Hartoyo MNA kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Hartoyo menjelaskan, P5L dibentuk pada 1996. Namun hingga 2017, masalah rob dan banjir belum bisa tertangani dengan maksimal. Baru pada 2017, pengurus baru melakukan inovasi penanganan banjir dengan semboyan “Panggung Lor Kering dan Subur.” “Sejak itu, Panggung Lor terbebas dari banjir. Perumahan Tanah Mas menjadi laku lagi,”ujarnya.

Ketua II P5L Teguh Sumedi mengatakan, saat ini P5L mengelola sembilan rumah pompa. Namun yang berfungsi hanya rumah pompa satu sampai tujuh. Rumah pompa delapan dan sembilan ke Bulu Draine, sedangkan rumah pompa tiga sampai tujuh ke Kali Asin.  “Lingkup P5L itu 14 RW di Kelurahan Panggung Lor dan satu RW di wilayah Kelurahan Panggung Kidul,” bebernya.

Sedangkan untuk menunjang kinerja P5L, setiap bulan warga membayar iuran tergantung dari ukuran rumah. Mulai tipe C, CM, B dan A. Yang paling rendah sebesar Rp 6.500 dan paling tinggi Rp 32.500 per bulan. Rata-rata dalam sebulan terkumpul Rp 40  juta, yang dipotong Rp 30 juta untuk operasional.  “Biaya Rp 30 juta itu untuk membayar karyawan, pembelian peralatan rumah pompa yang rusak, biaya listrik, dan digunakan untuk mempercantik rumah pompa atau yang lain,” paparnya.

Saat ini, untuk menyalakan mesin pompa, P5L mengganti bahan bakar solar dengan listrik token yang lebih hemat.  “Yang tadinya membayar listrik dan solar pada musim kemarau Rp 15 juta sampai Rp 17 juta, dengan diubah menjadi listrik token hanya membayar Rp 5 juta sampai Rp 6 juta per bulan. Sehingga sisa anggaran bisa dimanfaatkan untuk yang lain,” katanya. (nor/nra/hid/ifa/aro)