Lagi, Pasutri Diamankan Tim Densus

333

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri gencar melakukan penangkapan sejumlah orang yang diduga terlibat jaringan terorisme di Jawa Tengah. Setelah melakukan penangkapan di Kelurahan Nongkosawit, Gunungpati, Kota Semarang, Tim Densus kembali menangkap pasangan suami istri (pasustri) di wilayah Sragen.

Informasi yang dihimpun koran ini, pasutri tersebut berinisial AA, 25, dan istrinya, N. AA ditangkap Tim Densus usai membeli sparepart motor di sekitar Pasar Masaran, Desa Jati, Kecamatan Masaran Sragen. Lokasi penangkapan kurang lebih 500 meter dari rumah tinggalnya. Sedangkan N ditangkap di rumahnya Dukuh Masaran Kulon RT 08 RW 2B Desa Jati, Kecamatan Masaran, Sragen.

Menurut keterangan pemilik toko sparepart, Yuni, penangkapan terhadap AA berlangsung sangat cepat. Setelah ditangkap usai membeli sparepart, langsung digelandang anggota Tim Densus 88 yang berpakaian preman. Setelah ditangkap, muka AA ditutupi kain hitam lalu dimasukkan ke mobil.

“Tadi di depan bengkel, habis beli sparepart harga Rp 5 ribu. Saya kira bercanda, tiba-tiba langsung ditangkap dan diikat. Pas ditangkap manut, tidak melawan,” ungkapnya, Rabu (16/10), kemarin.

Ketua RT 08 RW 2B Desa Jati, Rusmanto, membenarkan ada warganya yang diamankan oleh Tim Densus 88. Pihaknya juga diminta hadir di lokasi penangkapan untuk menjadi saksi penggeledahan dari pihak polsek setempat. Hasil dari penggeledahan ditemukan sejumlah senjata tajam dan buku.

“Kalau penangkapannya saya tidak tahu, hanya diminta sebagai saksi penggeledahan. Setahu saya ada alat untuk memanah, pisau panjangnya sekitar 60 sentimeter dan pisau panjang beserta wadahnya. Kemudian ada HP, ijazah, dan gambar target panah. Juga ada 2 jam dan beberapa buku serta kertas dengan sejumlah tulisan,” bebernya.

Rusmanto menyampikan, AA, warga setempat dan tinggal sejak kecil di Kampung Masaran. Begitu juga orangtuanya juga warga setempat. Menurutnya, tidak adanya hal mencurigakan terhadap AA lantaran terlihat tidak neko-neko dan rajin ibadah. “Tadi kelihatan  hanya istrinya, sudah dibawa di mobil. Kalau dari jaringan apa, polisi tidak menyampaikan,” katanya.

“Istrinya sudah 5 atau 6  bulan (tinggal) di sini, tapi surat pindahnya juga belum tahu. Soalnya juga belum kenalan,” tambahnya.

Kapolres Sragen AKBP Yimmy Kurniawan membenarkan ada penangkapan. Namun demikian, hal tersebut menurutnya bukan kewenangan pihaknya untuk menyampaikan. Dalam penggerebekan itu, anggota Polres Sragen hanya mem-back up Tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri.

Selain di Sragen, Tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri juga menangkap sejumlah orang di wilayah Solo dan Sukoharjo terkait dugaan keterlibatan jaringan terorisme pada Selasa (15/10) siang lalu. Ada lima orang yang diamankan masing-masing Abdul Karim, 31, tinggal di Rumah Kos Serongan Permai, Gang Nakula, Jalan Mangesti Raya Serongan, Desa Mayang, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo. Pria yang bekerja juru poni ini diamankan di sekitar underpass Desa Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo.

Kemudian Krisyono Herlambang, laki-laki  kelahiran Surakarta, 18 Mei 1975, beralamat Cemani, Kelurahan Cemani, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo. Lainnya, Jaelani, warga Jalan Tegal Permai, Gang Buntu, Dusun Tegal Rejo, Purbayan, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo. Ia bekerja sebagai juru parkir.

Terduga teroris lainnya, Achmad Sarwani, 35, laki-laki beralamat Gang Murai Waringinrejo, Kelurahan Cemani, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo. Bekerja juru parkir. Satunya Suhada, 28, laki-laki beralamat Jalan Ngemplak Desa Mayang Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo. Bekerja tukang parkir.

Mereka ditangkap di tempat berbeda, di antaranya di sekitar underpas Makamhaji, Kartasura; di sekitar Karangasem, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta; di Jalan Yos Sudarso Kelurahan Kratonan, Kecamatan Serengan, Kota Surakata dan di Jalan Desa Waru, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo. Ada tiga orang yang ditangkap pada saat hendak bekerja sebagai tukang parkir. Saat ini sedang dalam proses pengembangan Tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri.

Dari kelima terduga teroris tersebut diketahui ada yang diduga terlibat jaringan bom Pospam Tugu, Kartasura. Sedangkan ketiga terduga lainnya ditangkap karena terlibat jaringan bom Bekasi.

Kapolres Sukoharjo AKBP Bambang Yugo tak memberikan respon saat dikonfirmasi. Pun Bagian Humas Polres Sukoharjo AKP Sukma juga enggan memberikan pernyataan.

“Kalau penangkapan teroris biasanya kita tidak diberitahu, karena itu memang ranahnya Tim Densus. Mungkin hanya para pimpinan (yang diberitahu). Kamipun belum 86, coba nanti langsung ke Bapak Kapolres saja,” kilahnya.

Sementara itu, mengantisipasi ancaman terorisme, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengajak masyarakat untuk peduli kondisi sekitar. Ia meminta masyarakat melakukan ronda gaya baru, bentuknya silaturahmi dengan orang di sekeliling. Minimal dasawisma.

Ini menjadi salah satu cara untuk mengidentifikasi potensi terorisme. Dengan cara ini, ia katakan, dapat dipastikan bahwa warga di sekitar adalah orang baik-baik dan tidak terlibat masalah.

”Termasuk tamu yang datang. Bukan untuk mempersulit atau membikin masalah. Hanya untuk mengerti dengan kondisi ini,” ujarnya menanggapi penangkapan suami istri terduga teroris di Nongkosawit Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang oleh Tim Densus 88 Antiteror, Selasa (15/10).

”Tokoh masyarakat, tokoh agama, dan apratur sampai bawah bisa memantau dan mengecek soal ini,” imbuhnya.

“Ini penting,” tegas Ganjar. Mengingat tidak mudah untuk mengelompokkan yang mana pelaku teror, ada di mana mereka dan masuk dalam jaringan apa. Sebab, dalam kehidupan sehari-hari mereka sudah membaur dengan masyarakat.

”Saya terima kasih sama Densus dan intelijen yang tanggap dan sigap. Ini kalau masyarakat bisa membantu alangkah indahnya hubungan manusia di masyarakat kita tanpa rasa takut,” ujarnya.

Anggota Fraksi PPP DPRD Jawa Tengah Abdul Aziz mengatakan, berbagai kasus radikalisme dan aksi penangkapan teroris di Jateng harus menjadi perhatian serius. Pemprov, pemerintah daerah, dan semua elemen masyarakat harus berpartisipasi agar kasus-kasus serupa tidak terulang lagi, terutama di Jateng. “Butuh komitmen bersama dan pendidikan deradikalisme, terutama untuk generasi muda,” kata Abdul Aziz.

Dikatakan, radikalisme ini merupakan persoalan serius dan penanganannya juga harus lebih serius. Apalagi dari tahun ke tahun, aksi radikalisme selalu terjadi hampir di setiap daerah di Jateng. “Ini menunjukkan gejala yang sangat meresahkan, semua elemen harus berpartisipasi dalam pencegahan agar tidak ada lagi radikalisme, apalagi aksi teror,” tegas Anggota Fraksi PPP DPRD Jawa Tengah, Abdul Aziz. (mha/sga/fth/aro)