Ajari Anak-anak Membuat Batik Hijaiyah

409
ANTUSIAS: Beberapa siswa nampak asyik berlatih membatik dengan pola huruf hijaiyah dengan menggunakan canting. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ANTUSIAS: Beberapa siswa nampak asyik berlatih membatik dengan pola huruf hijaiyah dengan menggunakan canting. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ANTUSIAS: Beberapa siswa nampak asyik berlatih membatik dengan pola huruf hijaiyah dengan menggunakan canting. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ANTUSIAS: Beberapa siswa nampak asyik berlatih membatik dengan pola huruf hijaiyah dengan menggunakan canting. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Kegiatan positif dan menarik dilakukan oleh sanggar Batik Sri Asih Semarang, siang kemarin. Sembari menunggu waktu berbuka, puluhan anak-anak dari salah satu sekolah dasar (SD) diajak untuk belajar membatik. Yang menarik, anak-anak ini diajaki membatik huruf hijaiyah dalam selembar kain.

Anak-anak tersebut diajari teknik dasar membantik dengan menggunakan canting. Karena baru kali pertama dilakukan, anak-anak tersebut sangat antusias. “Batik hijayiah ini diciptakan agar anak- anak lebih gampang menghapal huruf Arab,” kata Pemilik Sanggar Batik Sri Asih, Suswahyuni.

Menurut dirinya, cara tersebut juga bisa dijadikan kampanye agar generasi muda mau melestarikan batik dengan belajar membantik. Apalagi batik kini sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya Indoensia dan harus dipertahankan agar tidak punah. “Anak-anak bisa punya pengalaman dalam membatik, nantinya bisa timbul kecintaan terhadap batik,” jelasnya.

Upaya pelestarian batik, kata dirinya tetap harus dilakukan walaupun sudah mendapatkan pengakuan dari dunia. Dengan menggandeng anak-anak usia dini, ke depan anak-anak akan bangga untuk menggunakan batik sebagai busana sehari-hari. “Bahkan sekarang banyak desainer yang menyulap batik dengan model yang cocok bagi anak-anak maupun remaja,” tambahnya.

Batik hijaiyah yang ia buat, kini pun dikirim ke beberapa daerah bahkan ke luar negeri seperti Jerman, Suriname, Belanda, Hongkong dan China. “Batik ini adalah modifikasi dan pengembangan motif lain yang sebelumnya sudah dikenal luas,” pungkasnya. (den/smu)