RADARSEMARANG.ID - Film horor Kuyank memilih jalan yang berbeda dalam menakut-nakuti penontonnya.
Film yang disutradarai oleh Johansyah Jumberan ini tidak banyak teriakan, tidak pula mengandalkan kejutan berisik yang tiba-tiba muncul.
Justru lewat kesunyian, tatapan kosong, dan suasana yang terasa tidak nyaman, film ini membangun teror yang pelan tapi menusuk.
Sejak awal, Kuyank menghadirkan nuansa gelap yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ceritanya berjalan perlahan, memberi ruang bagi penonton untuk mengenal karakter dan kegelisahan yang mereka simpan.
Ketegangan di dalam film inipun tidak dipaksakan, tetapi tumbuh alami dari konflik batin dan situasi yang makin lama terasa ganjil.
Kekuatan utama film ini ada pada atmosfer. Pencahayaan yang redup, latar tempat yang terasa sunyi, serta tata suara yang minim namun mengganggu, membuat penonton terus waspada.
Bahkan di adegan-adegan yang tampak biasa, selalu ada rasa tidak beres yang menggantung. Inilah teror yang tidak berisik, tetapi terus mengusik pikiran.
Menariknya, Kuyank tidak hanya menyajikan horor dalam bentuk visual. Film kuyank ini juga berbicara tentang rasa bersalah, trauma, dan ketakutan yang dipendam manusia. Unsur inilah yang membuat ceritanya terasa lebih manusiawi.
Sosok menyeramkan bukan satu-satunya sumber takut, melainkan juga perasaan yang tidak selesai di dalam diri para tokohnya.
Kuyank adalah film horor yang lebih mengandalkan suasana dan emosi dibandingkan kejutan instan.
Bagi penonton yang menyukai horor psikologis dengan alur tenang namun menekan, film ini bisa menjadi pengalaman yang mengganggu bukan karena teriakannya, tetapi karena sunyinya yang panjang dan membekas. (mg7)
Editor : Baskoro Septiadi