Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Program MBG Dorong Siswa Lebih Rajin, Datang Pagi Tak Pernah Absen Sekolah

Agus AP • Jumat, 12 Desember 2025 | 16:02 WIB
Photo
Photo

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Suara riuh pagi terdengar dari halaman SD Negeri Sendangmulyo 02 Semarang. Saat jam masih menunjuk pukul 07.00, ratusan siswa sudah berbaris rapi mengikuti pembiasaan pagi, menyanyikan Indonesia Raya, membaca profil sekolah, hingga melafalkan Asmaul Husna. Begitu sesi selesai, para guru mulai membagikan kotak-kotak makan kepada siswa. Inilah momen yang paling ditunggu, sarapan bersama Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sejak awal September, sekolah ini rutin mendapatkan distribusi MBG setiap pagi. Program dari Presiden RI Prabowo Subianto yang disalurkan melalui satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) ini bukan sekadar memberi makanan. Tetapi diam-diam telah mengubah semangat belajar sebagian siswa. Bahkan, bagi seorang anak kelas 6, program ini menjadi alasan terkuat untuk kembali ke sekolah

Kepala SDN Sendangmulyo 02, Darsimah menyampaikan di sekolahnya MBG biasanya dibagikan untuksarapan setiap pukul 07.00 sampai 07.45. Setelah pembiasaan pagi, kotak-kotak makan dibagikan, dan siswa makan bersama di dalam kelas. Guru turun tangan secara penuh, mulai dari merapikan ompreng, mengikat kembali tali kotak makan, hingga memastikan tidak ada makanan tercecer.

"Awalnya kami dapat dua kali dropping, kadang pagi dan siang. Tapi makan itu butuh waktu lama, bisa 45 menit. Akhirnya kami ubah semua untuk dikirim pagi, jadi bisa untuk sarapan bersama," jelas Darsimah.

Suasana tiap kelas pada jam makan pagi itu mirip ruang piknik kecil. Anak kelas rendah perlu bantuan untuk membuka wadah, sementara anak kelas 4—6 sudah lebih mandiri. Sesekali terdengar sorak gembira ketika menu favorit datang, misalnya ayam goreng tepung, kentang, atau makanan kekinian ala katsu. Sebaliknya, saat menu berupa sayur atau oseng, banyak yang tersendat. 

“Sayurnya yang sering ditinggal, Mbak. Anak-anak sekarang kan sudah terpengaruh fast food,” katanya.

Menurutnya sekolah aktif memberi masukan kepada mitra, agar menu lebih ramah lidah anak, tanpa mengurangi standar gizi yang ketat, tanpa micin, tanpa terlalu asin, tanpa banyak gula.

Dengan total 518 siswa dalam 18 rombel, pelaksanaan MBG di sekolahnya bukan perkara mudah. Mengatur distribusi, pendataan alergi makanan, hingga sisa menu menjadi pekerjaan tambahan bagi para guru.

Bahkan soal porsi harus diatur ulang. Awalnya, porsi kelas 1–3 dan kelas 4–6 dibedakan. Namun karena anak-anak lebih menyukai lauk dibanding nasi, sekolah meminta agar semua porsi disamakan.

Meski repot, Darsimah mengakui manfaat MBG jauh lebih besar. Selain membantu ekonomi keluarga, program ini membuat anak-anak datang lebih pagi dan tidak terlambat, karena tidak perlu sarapan di rumah.

"Harapannya kan juga membantu orang tua, yang seharusnya menyediakan makanan dari rumah. Sehingga mereka di pagi hari tidak terlalu repot untuk menyiapkan sarapan untuk anak-anak," ungkapnya.

Darsimah bahkan menceritakan satu kisah yang begitu membekas di hati. Ada seorang siswa yang sebelumnya sering tidak masuk sekolah, bukan karena malas, tetapi karena orang tuanya tidak mampu memberi uang saku. Tanpa jajan dan tanpa sarapan, ia memilih untuk tidak datang daripada harus menahan lapar saat pelajaran berlangsung.

"Begitu dapat MBG, dia jadi rajin masuk," ungkapnya.

Sejak program sarapan pagi mulai digulirkan, anak itu selalu hadir paling awal. Bahkan, ketika ia anak itu masih lapar dan ada sisa dari siswa yang tidak masuk, guru menambah porsinya. Terkadang sampai di bawa pulang.

“Kadang dikasih dobel. Kalau teman-temannya ada yang enggak habis, dia mau. Pernah juga ditawari makan lagi siang kalau masih ada, dia mau,” lanjutnya.

Lebih lanjut Darsimah menyebut sempat ada kendala terhadap pendistribusian MBG. Sejak awal September, antusiasme anak memang sangat tinggi. Namun ketika ramai pemberitaan kasus keracunan MBG di daerah lain, kekhawatiran orang tua di Sendangmulyo 02 ikut mencuat. Karena itu banyak orang tua yang melarang anaknya untuk makan. Kendati demikian, guru-guru gencar melakukan pendekatan intensif agar orang tua memahami, makanan MBG telah melewati uji ahli gizi, pemeriksaan kebersihan, dan proses kontrol ketat.

"Perlahan, sebagian orang tua kembali mengizinkan," bebernya.

Darsimah berharap MBG terus berlanjut dengan pendampingan edukasi bagi orang tua. Ia juga berharap variasi menu semakin ditingkatkan agar anak-anak lebih mudah beradaptasi dengan makanan sehat yang disajikan.

“Perlu sosialisasi terus agar orang tua paham bahwa makanan ini aman dan bergizi,” tandasnya. (kap/ap)

Editor : Agus AP
#program mbg #SD Negeri Sendangmulyo 02 #SPPG #distribusi MBG #Asmaul Husna