RADARSEMARANG.ID – Pasar aset kripto kembali memasuki fase pelemahan pada awal Desember 2025. Pergerakan market yang lesu ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan dipicu oleh meningkatnya sentimen risk-off di pasar global.
Ketidakpastian makroekonomi kembali membuat investor memilih menjauh dari aset berisiko, termasuk kripto yang selama ini dikenal sebagai instrumen dengan volatilitas sangat tinggi.
Pada perdagangan Selasa (2/12/2025) pagi, hampir seluruh aset kripto berkapitalisasi besar di jajaran Top 10 mengalami pelemahan.
Koreksi ini semakin mempertegas bahwa tekanan dari luar pasar kripto masih menjadi faktor dominan yang menahan potensi reli menjelang akhir tahun.
Mengacu pada data pergerakan pasar, Bitcoin (BTC) diperdagangkan di sekitar US$86.631, melemah 1,04% dalam 24 jam dan turun 1,57% dalam sepekan.
Penurunan ini ikut menekan kapitalisasi pasarnya ke kisaran US$1,72 triliun, memperlihatkan bagaimana arus keluar modal kembali menahan momentum yang sempat terbentuk kuat di awal bulan.
Penurunan pada Bitcoin ini bukan hanya soal angka. BTC sempat jatuh lebih dalam pada perdagangan Senin (1/12/2025) hingga menyentuh US$84.000, jauh dari level sekitar US$91.000 yang ditembus pada Jumat sebelumnya.
Kejatuhan harga tersebut memunculkan pertanyaan baru tentang apakah year-end rally masih mungkin terjadi.
Walaupun ekspektasi pemangkasan suku bunga The Federal Reserve semakin menguat, pasar tampaknya masih ragu untuk mengambil posisi agresif dalam aset berisiko.
Bitcoin yang biasanya menjadi barometer utama minat risiko pun ikut terseret dalam gelombang ketidakpastian global.
Tak berhenti pada Bitcoin, Ethereum (ETH) sebagai aset kripto terbesar kedua juga melemah secara signifikan. ETH turun 1,93% dalam 24 jam dan merosot 4,83% dalam sepekan, diperdagangkan di kisaran US$2.801.
Pelemahan ini menandakan bahwa investor semakin meminimalkan eksposur mereka pada aset berisiko tinggi, terutama altcoin besar yang cenderung memiliki volatilitas lebih tinggi dibandingkan BTC.
Pasar altcoin tampak semakin rentan di tengah tekanan global, terbukti dari koreksi lebih tajam pada mayoritas aset non-Bitcoin.
Tekanan paling besar justru dialami oleh deretan altcoin berkapitalisasi besar. Solana (SOL) anjlok 1,09% harian dan merosot 8,20% dalam sepekan ke level US$127,13. SOL menjadi salah satu aset dengan penurunan paling agresif dalam daftar Top 10, mencerminkan sensitivitas tinggi terhadap gejolak eksternal.
XRP juga tidak mampu bertahan. Aset ini melemah 2,83% secara harian dan turun 10,21% selama sepekan menuju US$2,02.
Sementara itu, Dogecoin (DOGE) mengalami hari yang buruk dengan penurunan 2,83% dalam 24 jam dan ambruk 10,55% dalam sepekan.
Dari jajaran utama, hanya dua stablecoin besar USDT dan USDC yang tetap stabil di sekitar US$0,999, mencerminkan peningkatan minat investor untuk memindahkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman sementara waktu.
Salah satu pemicu melemahnya pasar kripto adalah meningkatnya kekhawatiran bahwa Bank of Japan (BoJ) mungkin akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Hal ini memunculkan potensi terjadinya unwinding carry trade, yaitu penutupan posisi investor global yang sebelumnya memanfaatkan pinjaman berbiaya rendah dalam yen untuk membeli aset berisiko termasuk saham AS dan Bitcoin.
Jika banyak investor melakukan unwind, tekanan jual berantai dapat terjadi, membuat pasar kripto tumbang lebih dalam.
Situasi ini diperparah oleh pelemahan volatilitas pasar. Indeks VIX—sering disebut fear index—jatuh di bawah rata-rata 12 bulan, menunjukkan tingkat ketidakpastian yang tidak sepenuhnya tercermin dalam harga pasar.
Kondisi seperti ini biasanya membuat investor semakin berhati-hati.
Walau Bitcoin masih tergolong aset baru dalam konteks sejarah pasar, beberapa analis menyoroti adanya pola musiman atau seasonality menjelang akhir tahun.
Desember mencatatkan rata-rata kenaikan 9,7%, menjadi bulan berkinerja terbaik ketiga bagi Bitcoin.
Oktober menjadi bulan terkuat dengan rata-rata 16,6%,
September menjadi yang terlemah dengan penurunan rata-rata 3,5%.
Namun, data sejarah tidak selalu menjadi jaminan. Dengan kondisi makro yang tidak stabil, perilaku pasar bisa saja berubah drastis.
Sejumlah analis kini kembali mencermati korelasi antara Bitcoin dan pasar saham global. Ada pandangan bahwa pergerakan BTC dapat menjadi leading indicator bagi sentimen risiko.
Meskipun semakin banyak instrumen yang menghubungkan pasar saham dan kripto—misalnya ETF Bitcoin pergerakannya tidak selalu berjalan seiring.
Salah satu pengamat menyebut bahwa pasar saham hanya terkoreksi moderat, sementara pasar kripto mengalami penurunan lebih dalam.
Hal ini menunjukkan bahwa investor kripto lebih cepat bereaksi terhadap perubahan sentimen global.
Di sisi lain, analis lain menilai bahwa melemahnya Bitcoin justru mencerminkan kondisi pasar yang sedang kehilangan arah menjelang akhir tahun.
Dengan volatilitas yang turun drastis minggu lalu, sebagian investor mulai bersiap menghadapi kemungkinan kejutan pasar menjelang tutup tahun.
Dalam kondisi seperti ini, Bitcoin sering kali menjadi aset pertama yang merespons ketidakpastian tersebut.(dka)
Editor : Baskoro Septiadi