Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Musim Bediding, Suhu di Wilayah Dieng, Gunung Merbabu dan Gunung Slamet Bisa Sangat Dingin dan Picu Embun Upas 

Khafifah Arini Putri • Minggu, 13 Juli 2025 | 17:28 WIB
Prakirawan Haris Syahid Hakim memantau data perkiraan cuaca di kantor BMKG Ahmad Yani Semarang. KHAFIFAH ARINI PUTRI/JAWA POS RADAR SEMARANG   
Prakirawan Haris Syahid Hakim memantau data perkiraan cuaca di kantor BMKG Ahmad Yani Semarang. KHAFIFAH ARINI PUTRI/JAWA POS RADAR SEMARANG  

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Masyarakat Jawa Tengah akhir-akhir ini merasakan suhu yang lebih dingin saat pagi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Ahmad Yani Semarang menyatakan suhu dingin yang melanda Jawa Tengah ini merupakan fenomena tahunan yang biasa disebut bediding. 

Prakirawan BMKG Ahmad Yani Semarang Haris Syahid Hakim menyampaikan suhu udara pada malam hingga pagi hari memang menurun, bahkan bisa mencapai 19 derajat celcius di Kota Semarang. Terutama di daerah atas seperti Tembalang, Mijen, hingga Ungaran. 

 Baca Juga: Mengapa Cuaca Kota Semarang Panas Tapi Suhu Terasa Dingin? Begini Penjelasan BMKG

"Fenomena ini merupakan fenomena yang berulang hampir di setiap tahun terjadi hampir di antara musim kemarau, antara bulan Juli sampai September ataupun Oktober cuma lebih sering terjadi di bulan Juni, Juli, kemudian Agustus," jelas Haris. 

Ia menjelaskan suhu dingin ini terjadi karena beberapa faktor klimatologis. Di antaranya adalah embusan angin dari Australia yang sedang mengalami musim dingin.

Angin tersebut membawa massa udara dingin yang berdampak pada suhu di Indonesia bagian selatan, termasuk Jawa Tengah. 

“Hal ini disebabkan karena faktor klimatologis ataupun faktor kemarau yang memang pada dasarnya itu terjadi karena proses angin timbul yang dia berembus dari Australia yang saat ini sedang terjadi musim dingin. Jadi memang angin itu membawa unsur dingin,” ungkapnya. 

Faktor lain yang memengaruhi adalah minimnya tutupan awan di langit Jawa Tengah selama musim kemarau.

Akibatnya, panas dari bumi yang dilepaskan pada malam hari langsung menguap ke angkasa tanpa terperangkap oleh awan, sehingga suhu permukaan pun turun drastis.

 Baca Juga: Terungkap! Hiu Dalam Poster Populer Film 'Jaws' Bukanlah Jenis Great White Shark, Melainkan Jenis Hiu ini

“Di musim kemarau ini kan sudah berkurang, bahkan mungkin kalau dilihat hari ini bahkan tidak ada awan. Jadi sinar matahari yang nyampai ke bumi pada malam hari itu langsung dilepaskan. Jadi tidak tertahan lagi oleh awan,” imbuhnya. 

Wilayah Semarang yang paling terasa penurunan suhunya adalah di bagian selatan dan dekat perbukitan.

Seperti Ungaran, Tembalang, dan Mijen. Suhu terendah yang tercatat bisa mencapai 18–19 derajat Celcius.

“Suhu di kota sendiri, mungkin lebih cenderung biasanya Semarang selatan, lalu daerah Ungaran dan sekitarnya itu, Mijen dan dekat perbukitan itu antara 18–19 derajat,” bebernya. 

Sementara daerah paling dingin di Jawa Tengah saat fenomena bediding adalah kawasan pegunungan.

Seperti Dieng, Gunung Merbabu, dan Gunung Slamet. Khusus di Dieng, kata dia, suhu bahkan bisa turun hingga di bawah nol derajat dan menimbulkan fenomena embun upas, yakni butiran es tipis yang menyelimuti permukaan tanaman.

 Baca Juga: Cara, Syarat Pendaftaran STMKG Sekolah Kedinasan BMKG 2025, Lulus Auto PNS

“Yang jelas yang pasti di daerah pegunungan ya, dataran tinggi hampir rata seperti di Dieng, Gunung Slamet, Gunung Merbabu. Cuma yang biasa terekspos itu Dieng karena sudah terkenal dengan fenomena embun upas. Suhunya bisa di bawah nol derajat," jelasnya. 

Menurutnya fenomena bediding ini diperkirakan bisa berlangsung hingga Oktober 2025 mendatang.

Tergantung dari pola angin dan kondisi cuaca. Masyarakat diimbau untuk menjaga kesehatan, terutama pada malam dan pagi hari ketika suhu mencapai titik terendah. (kap/ton) 

 

Editor : Baskoro Septiadi
#bediding #Embun Upas #BMKG #DIENG