alexametrics

Siap Lakukan Counter Wacana yang Rugikan Bangsa

Menuju Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU)

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Nahdlatul Ulama (NU), sebagai organisasi kemasyarakatan (Ormas) yang berbasis agama yang berdiri tahun 1926 ini kerap diperbandingkan dengan saudara tuanya Muhammadiyah yang berdiri tahun 1912. Menuju satu abad ini, saat ini 96 tahun, NU terus berbenah memberdayakan umat yang nasionalis dan berkarakter.

Menuju satu abad NU, menjadi momentum kuat untuk merefleksi diri. Perjuangan warga NU dalam perjuangan untuk Kemerdekaan Bangsa Indonesia tak perlu diragukan lagi. Karakternya yang tradisionalis dan nasionalis, menjadi keunggulan. Tapi juga tantangan di tengah mengisi kemerdekaan di era milenial saat ini.

“Sekarang tema utamanya, menghadapi satu abad NU. Yang ingin dituju memang NU di milenium kedua ini, NU akan semakin baik. Karena SDM kader NU semakin baik dan luar biasa,” kata Ketua Pengurus Cabang NU (PCNU) Kota Semarang Dr Anasom M.Hum.

Generasi muda NU hasil binaan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah santri sekaligus inteklektual. Kata Anashom, mereka lahir dari pesantren dan terdidik di perguruan tinggi kenamaan. Bahkan, banyak kader NU yang menjadi doktor, guru besar atau profesor. “Ke depan, NU akan lebih baik lagi. Secara intelektual akan berkembang, dan manajemennya akan lebih tertata,” katanya optimistis.

NU akan terus mengejar ketertinggalannya dalam meningkatkan kualitas kader. Meski begitu, bukan berarti mengubah karakter, tapi tetap memperkuat karakter kultural yang mewarnai perkembangan zaman.

Baca juga:  Gotong Royong Bersihkan Kampung

Bahkan NU secara kelembagaan gencar melakukan beragam pelatihan pendidikan untuk counter wacana yang merugikan generasi bangsa. Sekarang sudah banyak anak muda yang bersinggungan dengan media sosial (medsos). Bahkan memiliki internet marketing NU.

“Ada yang membuat pelatihan di berbagai sekolah untuk menyiapkan generasi muda berkualitas dan selaras dengan zamannya, tapi tanpa meninggalkan kultur NU,” kata dosen Fakultas Dakwah UIN Walisongo Semarang yang baru saja memperoleh gelar doktoralnya ini.

Menghadapi era milenial dengan banyaknya hate speech, diakuinya, generasi muda sebagai garda terdepan NU telah memiliki kesadaran yang tak perlu diragukan.

“Kami ada kader Ansor siap hunting terhadap para pelaku hate speech terhadap para ulama. Kami akan mendatangi orangnya langsung untuk menanyakan tujuan dan maksud kata-katanya dulu, sebelum bertindak. Semua itu tidak untuk kekerasan. Tapi hanya ingin tahu mengapa itu dilakukan,” tandasnya.

Terkait perayaan Harlah NU Kota Semarang, adalah 16 Rajab 1344 Hijriyah atau 31 Januari 2022. Karena itu, PCNU Kota Semarang akan memperingatinya besok Minggu 6 Februari 2022 dengan menghadirkan Gus Muwafiq.

“Perayaannya dijadikan satu dengan lailatul ijima’ Minggu 6 Februari malam. Nanti akan dibarengi dengan beberapa pelantikan pengurus Ansor, Sarbumusi, dan lembaga kesehatan NU di Podorejo Ngaliyan Semarang. Sedangkan pada 16 Februari akan dilakukan tumpengan di kantor Cabang NU Puspogiwang Kota Semarang,” katanya.

Baca juga:  Radar Semarang Edisi 11 Oktober 2019

Sedangkan Ketua Pengurus Wilayah NU (PWNU) Jateng KH M Muzammil menuturkan, perayaan Harlah 31 Januari ini, PWNU Jateng menyesuaikan acara PBNU di Balikpapan sekaligus pengukuhan pengurus PBNU masa khidmat 2022-2027.

PWNU Jateng akan merayakan dalam Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) PWNU Jateng pada 10-11 Februari di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Sesuai hasil musyawarah, NU kembali mewujudkan kemandirian sebagaimana dilakukan ulama terdahulu, meski dalam situasi sekarang yang serba berubah.

Prinsip-prinsip berjamiyah generasi terdahulu seperti memperkuat ukhuwah atau persaudaraan, mengedepankan khidmah dengan ikhlas dan istiqomah tetap dijalankan, dengan inovasi teknis agar prinsip tersebut dapat berjalan sesuai perkembangan ilmu dan teknologi.

“Kami berharap kader NU semakin meningkat khidmahnya kepada agama, bangsa, dan negara, dengan amal saleh yang dilandasi ilmu yang manfaat dan akhlaq yang baik,” katanya.

Rois Syuriah atau Ketua Dewan Syuro PWNU Jateng KH Ubaidillah Shodaqah berhalangan hadir di acara pengukuhan PBNU di Balikpapan. Meski begitu, menuju satu abad NU terus menata SDM untuk menjawab tantangan zaman ini. Terutama untuk kader NU yang kebanyakan masyarakat desa, buruh, dan petani.

Baca juga:  Dewan Panggil Pejabat Salatiga yang ‘Distafkan’, Pertemuan Dilakukan Tertutup

“Kami terus meningkatkan kapasitas dan kualitas kader dengan menggandeng kader NU yang ada di perguruan tinggi, alumni, maupun tim ahli di bidang masing-masing. Misal pemberdayaan pertanian dan ekonomi kecil,” katanya.

Tugas pengurus NU adalah mengajak kader menggunakan teknologi sesuai adat dan budaya Indonesia. “Itu kami sampaikan melalui berbagai pertemuan dan forum pengajian. Tetap harus membawa norma yang selama ini kita anut,” tandas Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al Itqon Bugen, Tlogosari, Kota Semarang.

Misalnya terkait cryptocurrency yang ada garansinya, NU berdasarkan hasil batsul mashail, itu  tak masalah. “Tapi kalau bitcoin, dimana negara Indonesia atau Bank Indonesia tak bisa mengontrolnya, dan bisa menyebabkan pemerintah ambruk karena mata uang global, itu haram. Kader NU itu harus memiliki nasionalisme yang tinggi,” katanya.

Terkait kader NU yang tradisionalis, Gus Ubed-sapaan akrabnya KH Ubaidillah Shodaqoh- artinya memiliki keilmuan yang memiliki sanad dan mata rantai sampai Nabi Muhammad SAW dan menjaga nilai-nilai budaya.

“Karakter tradisional, bukan berarti tak bisa mengikuti perkembangan zaman. Tapi tradisional maksudnya keilmuan yang bersanad atau bersandar sampai Rasulullah SAW. Tapi tetap sesuai dengan perkembangan zaman,” katanya. (ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya