alexametrics

Mrotoli, Tersisa 200 Pedagang Eks EmpuTantular di Kanjengan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Pedagang eks Empu Tantular yang menempati relokasi Pasar Kanjengan mulai mrotoli. Dari sekitar 300 pedagang yang menempati kios darurat ini, sekarang tinggal sedikitnya 200 pedagang. Rata-rata para pedagang hengkang lantaran mengeluhkan sepi pembeli. Apalagi saat pandemi Covid-19 saat ini.

Dalam satu hari, tidak jarang pedagang harus gigit jari, karena dagangan tak terjual. Kalau pun laku, bisa dihitung jari.  Pendapatan kotor sehari tidak lebih dari Rp 200 ribu.

Ya, sepi Mas. Kadang satu hari sama sekali tak ada barang terjual,” keluh seorang pedagang Eks Empu Tantular, Hj Zulaikhah, 65, kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Warga Kedungmundu tersebut berjualan baju di lapak berukuran 2×2 meter. Diakuinya, kondisi sepi membuatnya tidak jarang harus tombok karena transportasi yang cukup jauh. Selain itu, penghasilannya juga menurun jauh dibandingkan ketika berjualan di Empu Tantular yang biasanya bisa mendapatkan Rp 500 ribu – Rp 1 juta. “Di sini ya kadang baju laku 2 potong. Hasilnya buat makan dan ongkos transportasi sudah habis,” ujarnya.

Baca juga:  Prediksi Susunan Pemain Persikabo 1973 vs PSIS

Meski begitu, ia tetap bersyukur bisa mempunyai kios untuk berjualan. Jadi, tidak harus merepotkan anaknya. Harapannya, agar pasar bisa kembali ramai dengan meningkatkan akses menuju lokasi. “Alhamdullah sudah nyaman di sini, semoga bisa kembali ramai,” harapnya.

Ketua Paguyuban Pedagang dan Jasa (PPJ) Unit Kanjengan Kadar Mardianto mengatakan, pedagang Empu Tantular direlokasi ke Kanjengan sejak Agustus 2019 silam.  Di Pasar Kanjengan tersebut disediakan 453 kios. Namun yang menempati kios sekitar 300-an pedagang. Mereka menempati kios berukuran 2×2 meter. Di pasar ini lebih tertata rapi dengan bangunan eks permanen yang lebih bagus. Karena sepi pembeli, kios yang buka tinggal sekitar 200-an pedagang. “Total kios ada 453. Awalnya yang pindah sini 300-an pedagang. Pas covid ini mrotoli. Tinggal sekitar 200-an pedagang,” tuturnya.

Baca juga:  Antisipasi Hipertensi secara Mandiri

Ada enam blok yang  dibangun bagus dengan berbagai jenis dagangan. Seperti konveksi, sepatu, makanan dan sayuran. Lantai bangunan juga sudah dikeramik dan kokoh. Sementara dindingnya triplek yang kuat. Tetapi ternyata pembangunan bagus tersebut dilakukan swadaya para pedagang sendiri dengan menghabiskan anggaran Rp 1,2 miliar. Sebab, sebelumnya Pemkot Semarang hanya memfasilitasi sebagai pasar darurat yang dibuat dengan bahan  seng dan terpal. Jika kena angin akan langsung roboh.

“Kalau pedagang sudah nyaman, karena lokasinya juga bagus,” kata Wakil Ketua 1 Paguyuban Pedagang dan Jasa (PPJ) Pasar Kanjengan Suparno.

Ia tidak menampik jika kondisi memang sangat sepi. Bahkan pendapatan sangat turun dibandingkan ketika masih di Empu Tantular. Meski begitu, pedagang masih tetap merasa nyaman di lokasi Pasar Kanjengan tersebut. “Kalau kami ya sudah nyaman,” ujarnya.

Baca juga:  Temukan Samurai dan Buku Jihad

Hanya saja, sejumlah pedagang menginkan agar pemkot memperbaiki akses masuk. Sebab, kondisi jalan rusak dan ketika musim hujan pasti banjir. Kondisi tersebut jelas membuat pedagang resah. Apalagi pasar tersebut tidak dilewati jalur angkutan umum. “Kalau bisa jalannya diperbaiki agar pembeli lebih gampang kalau masuk ke pasar,” harapnya.

Meski sepi pembeli, hampir semua kios tetap buka mulai pukul 09.00-16.00. Bahkan untuk mengisi kegiatan di sela berjualan pedagang rutin menggelar latihan rebana setiap Rabu. “Ya ngisi waktu luang sambil rebana,  tetap ada kegiatan positif,” tambahnya. (fth/mg6/mg7/aro/bas)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya