alexametrics

Belajar Matematika Kreatif dan Interaktif dengan Model PSP

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Matematika adalah disiplin ilmu tentang tata cara berpikir dan mengolah logika, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif (Suherman, 2003). Beberapa manfaat belajar matematika bagi peserta didik antara lain : logika berpikir lebih berkembang, pola pikir menjadi sistematis, pandai berhitung, mampu menarik kesimpulan secara deduktif, teliti, cermat, kreatif dan interaktif. Salah satu cara yang ditempuh untuk untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan menerapkan Model pembelajaran Problem Posing tipe Post Solution Posing (PSP).

Model pembelajaran Post Solution Posing (PSP) adalah salah satu tipe model pembelajaran Problem Posing yang dikembangkan pada tahun 1997 oleh Lyn D. English, dan awal mulanya diterapkan dalam mata pelajaran matematika. Problem Posing tipe Post Solution Posing yaitu merumuskan atau membuat soal sejenis dari situasi yang diberikan (Suyitno Amin, 2006).

Baca juga:  PPSM Sakti Magelang Siap Tampil Optimal Lawan Persibat Batang

Model pembelajaran Post Solution Posing (PSP) pada dasarnya adalah melakukan modifikasi soal yang sudah diselesaikan untuk membuat soal yang baru. Peserta didik dilatih untuk menyusun soal yang sejenis dan menantang seperti yang dicontohkan oleh guru. Kemudian, peserta didik juga harus bisa menyelesaikan sendiri soal – soal yang dibuatnya serta mempresentasikan untuk mendapatkan tanggapan dari peserta didik lainnya dan penguatan dari guru.

Langkah – langkah model pembelajaran Post Solution Posing (PSP) adalah sebagai berikut: Pertama, guru dan peserta didik bersama – sama mempelajari beberapa contoh soal; Kedua, peserta didik diminta menyusun soal yang sejenis dan menantang seperti contoh soal yang dipelajari; Ketiga, peserta didik menyelesaikan sendiri soal – soal yang dibuatnya; Keempat, peserta didik mempresentasikan soal dan penyelesaiannya.

Baca juga:  Lirik Lagu Mars Hari Santri Nasional 2021

Model pembelajaran Post Solution Posing (PSP) dapat melatih peserta didik untuk berpikir kritis, kreatif, dan interaktif melalui pengajuan masalah-masalah yang dituangkan dalam bentuk pertanyaan. Model pembelajaran ini juga mampu memperkaya pengalaman belajar dan meningkatkan hasil belajar peserta didik. Ini terbukti pada peserta didik kelas VIIB SMP Negeri 1 Boja Kompetensi Dasar menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan perbandingan senilai dan berbalik nilai.
Sebelum menggunakan model pembelajaran ini peserta didik cenderung pasif dan kurang antusias dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Sehingga prosentase ketuntasan belajar rendah, dari 32 peserta didik hanya 17 peserta didik yang mampu mencapai atau melampaui Kriteria Ketuntasan Minimal, sehingga persentase ketuntasan belajar sangat rendah yaitu 53,13%. Setelah menggunakan model pembelajaran Problem Posing tipe Post Solution Posing (PSP) ini peserta didik lebih antusias, kritis, kreatif, interaktif dan lebih mudah memahami materi yang dipelajari. Sehingga persentase ketuntasan belajar meningkat menjadi 93,75% dengan rincian 30 peserta didik dapat mencapai atau melampaui Kriteria Ketuntasan Minimal dan 2 peserta didik harus mendapatkan perbaikan secara individu. (dj1/ton)

Baca juga:  Antusiasme Siswa Belajar Integral melalui Tayangan Video

Guru Matematika SMP Negeri 1 Boja

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya