KONI Intensifkan Pelatda

346
MATANGKAN PERSIAPAN: Atlet Tolak Peluru Jateng, Krisna Wahyu Permana berambisi raih emas pada PON terakhirnya di Papua nanti.(Baskoro Septiadi/ Jawa Pos Radar Semarang)
MATANGKAN PERSIAPAN: Atlet Tolak Peluru Jateng, Krisna Wahyu Permana berambisi raih emas pada PON terakhirnya di Papua nanti.(Baskoro Septiadi/ Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID SEMARANG – KONI Jateng mulai menjalankan Pemusatan Latihan Darah (Pelatda) bagi atlet PON Jawa Tengah. Terhitung mulai Januari 2020, berbagai cabang olahraga telah mulai melakukan training center di berbagai pusat pelatihan.

Ketua KONI Jateng Soebroto menuturkan, total waktu yang diperlukan untuk Pelatda berkisar sembilan bulan. Dengan dua tahap, sentralisasi dan desentralisasi. Tiap masing-masing cabang olahraga (cabor) akan memiliki jangka waktu berbeda. Tergantung kategori dan kriteria potensi perolehan medali pada pelaksanaan PON mendatang.
“Khusus untuk Pelatda sentralisasi tiap cabor berbeda. Untuk cabang unggulan pasti butuh waktu lebih lama. Sebab ada target medali yang dibebankan kepada mereka,” ujarnya

Dijelaskan, terdapat lima kriteria unggulan yang ditetapkan pihaknya. Pertama mendapat target tiga emas, kedua dengan dua emas, ketiga dengan satu emas dan keempat dengan harapan medali. Yang terakhir merupakan cabor yang membutuhkan perjuangan ekstra keras untuk mendapat medali.

“Khusus bagi kriteria terakhir, kita masih diskusi untuk memberangkatkan atlet tersebut atau tidak. Sebab peluang medalinya sangat kecil,” lanjutnya.

Mahalnya pembiayaan keberangkatan atlet ke Papua menjadi salah satu alasan diskusi tersebut. Apalagi ditambah dengan terbatasnya dana yang dipergunakan untuk akomodasi atlet ke Papua. Meski begitu pihaknya berada pada posisi sulit. Sebab jika atlet lolos yang berada di rangking kelima bahkan ketujuh saat Pra PON tidak diberangkatkan, pihaknya akan mendapat sanksi dari KONI pusat. “Serba dilema. Tapi kalau tidak diberangkatkan kita juga bisa kena sanksi,” pungkanya.

Sementara itu atlet tolak peluru kebanggaan Jateng yang telah lolos PON 2020, Krisna Wahyu Permana mengaku tengah fokus menyembuhkan cedera lutut sebelum mengikuti pemusatan latihan. Dirinya menargetkan emas agar dapat menutup PON terakhirnya dengan manis. Selain itu dirinya juga berambisi mencetak hattrick emas ya selama mengikuti PON, sekaligus memecahkan rekor nasional tolak peluru saat ini yakni dengan tolakan sejauh 14,57 meter.
“Kebetulan TC dilakukan mulai Januari. Cedera saya sudah lumayan sembuh. Saya yakin pada PON besok saya bisa tampil maksimal dan mempertahankan citra tolak peluru Jateng yang selalu langganan emas,” pungkasnya. (akm/zal)