alexametrics

Sehari, 11 Orang Tewas di Jalan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Pelaksanaan operasi Lilin Candi 2019 Polda Jateng yang digelar selama 10 hari telah selesai. Setidaknya 200 kasus kecelakaan lalulintas terjadi di wilayah Jateng. Dari jumlah tersebut, belasan orang meninggal akibat kecelakaan lalulintas.

“Selama operasi Lilin Candi 2019 yang meninggal 19 orang. Jumlah laka sekitar 200 (kejadian), didominasi usia produktif,” ungkap Kabag BinOps Ditlantas Polda Jateng AKBP Dwi Prihanto kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (2/1).

Kegiatan operasi Lilin Candi 2019 dilaksanakan secara serentak mulai 23 Desember 2019 hingga 1 Januari 2020. Menurut Dwi, ada beberapa lakalantas yang menonjol, salah satunya adalah dua bus yang terbakar di ruas jalan tol Semarang-Batang, tepatnya di gerbang tol Kalikangkung.

Baca juga:  Depresi, Gantung Diri di Kamar Mandi

“Dua bus terbakar. Tapi tidak ada korban jiwa. Hanya luka-luka. Kalau kejadian lainnya ada di Pati dan Banyumas,” bebernya.

Berdasarkan data Ditlantas Polda Jateng, tren pelanggaran lalulintas pada 2018 dan 2019 mengalami penurunan 15 persen. Pada 2018 tercatat 2.617.194 pelanggaran, sedangkan pada 2019 tercatat 2.270.532 pelanggaran. Sedangkan jumlah lakalantas selama 2018 terjadi 19.016 kejadian, dan 2019 sebanyak 24.869 kejadian. Korban meninggal akibat lakalantas pada 2018 sebanyak 4.113 orang, dan pada 2019 turun menjadi 3.973 orang. Itu artinya, rata-rata setiap hari hampir 11 orang tewas kecelakaan di jalan raya.

Dwi mengatakan, akan terus berupaya menekan terjadinya kecelakaan lalulintas. Langkah yang dilakukan adalah menggelar sosialisasi ke sekolah, pemerintahan maupun instansi lainnya.

Baca juga:  Kenaikan Tarif Ojek Online Tidak Menjamin Peningkatan Kesejahteraan Pengemudi

“Program ke depan, kita perbanyak Dikmas atau sosialisasi ke sekolah dan kantor agar mereka paham. Berkendara itu kan tidak sendirian. Jangan menggunakan handphone, jangan melanggar peraturan lalulintas,” bebernya.

“Memang kejadian kecelakaan itu kan diawali dengan pelanggaran. Contohnya, melanggar traffic light ketika masih menyala merah main nerobos. Padahal di simpang satunya sudah melintas. Akhirnya terjadilah laka. Kemudian melawan arah dan melaju kenceng,” jelasnya.

Selain sosialisasi, pihaknya juga akan lebih menggencarkan patroli dengan lokasi acak dan waktu yang tidak ditentukan. Menurutnya, terkadang masyarakat juga tertib dan patuh ketika ada petugas kepolisian di jalan.

“Kadang masyarakat itu sudah tahu aturan, tapi kalau kita tidak sering nongol, masyarakat akan mengabaikan. Kesadaran berlalu lintas masyarakat memang masih rendah. Sehingga kalau tidak ada polisi ya akan melanggar,” katanya. (mha/aro)

Baca juga:  “Ganti Rugi Rp 50 Juta Nggak Cukup Buat Beli Rumah”

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya