alexametrics

SAFIRA, Belajar Pluralisme dari Penelitian Lapangan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Safira Azmy Rifzikka cukup berbangga hati lantaran bisa merasakan indahnya pluralisme di Kota Semarang. Mahasiswi semester 3 Ilmu Alquran dan Tafsir UIN Walisongo itu merasa beruntung bisa belajar menghargai sesama manusia tanpa memandang adanya perbedaan.

“Awalnya aku nggak kepikiran buat ikut penelitian lapangan bareng Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT), tapi rasa penasaran dan ingin belajarku gede. Ya sudah, aku memberanikan diri untuk ikut,” ujar gadis asal Demak ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Penelitian itu mengangkat cara pencegahan radikalisme dengan pendekatan softpower. Lebih tepatnya pada sisi budaya tutur lisan.

Ia menjelaskan dari beberapa fenomena di lapangan, orang-orang yang terpapar radikalisme dan terorisme itu kurang bersentuhan dengan budaya, terutama yang ada di lingkungannya.

Baca juga:  Animo Vaksinasi Tinggi, Percepat Herd Imunity

“Aku benar-benar belajar, soalnya sudah langsung ke masyarakat. Tidak hanya di kampus, aku juga lebih mengerti bagaimana sih pandangan masyarakat tentang agama. Secara yang aku wawancarai itu tidak hanya Islam,” kata Safira.

Ia baru kali pertama berinteraksi dengan non-muslim. Tak seperti dugaannya, ia disambut dengan ramah oleh narasumber yang diwawancarai. “Senangnya pas penelitian itu bisa kerja tim. Bertemu warga yang tidak dikenal, ketok-ketok rumah, ngajak ngobrol, itu keren banget menurutku,” ujarnya.

Berbagai karakter orang pun ia pahami di lapangan. Kunci yang dipegang adalah kesabaran dan tidak gumunan. Penelitian itu dilakukan di empat lokasi. Safira mendapatkan bagian di wilayah Kecamatan Pedurungan. Ada cerita unik yang mungkin tidak pernah dilupakan. Yakni, pertemuan dengan orang yang mengaku pernah bertemu dengan malaikat Jibril.

Baca juga:  Satlantas Polres Kendal Sikat Habis Knalpot Brong

“Aku juga bertemu sama orang tak kuduga-duga. Menurut dia, kuliah di Fakultas Ushuluddin kemudian mengambil jurusan Tafsir itu tidak boleh. Karena kita tidak punya nasab ke Rasul. Yang boleh belajar Alquran itu dari keluarga Rasul,” kata dara 19 tahun tersebut.

Saat ini, Safira belum memiliki keinginan untuk menjadi peneliti. Namun karena kegemarannya membaca dan menulis, ia tidak akan menolak jika suatu saat nanti ada kesempatan menjadi peneliti. Khususnya di bidang sosial keagamaan.

“Aku senang cari pengalaman apapun, jika itu menunjang potensiku. Selagi aku bisa berguna dan membantu negara, seperti dalam bentuk pengabdian juga sih sebagai generasi muda bangsa. Mengabdi kan tidak harus jadi guru,” ujarnya. (yan/aro)

Baca juga:  Depresi Tak Diterima Kerja di Pelayaran, Nekat Konsumsi Psikotropika

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya